Brilio.net - Dalam menjalani hubungan rumah tangga, memang tak selalu berjalan mulus. Ada kalanya sepasang suami istri harus mengalami perbedaan pendapat dalam beberapa hal. Seperti yang dialami oleh Shiya Joshy, wanita asal Chennai, India ini bertengkar hebat dengan sang suami.

Bahkan ibu dua anak ini juga menangis lantaran sang suami membentak dan mengatakan bahwa pekerjaan rumah adalah hal yang sepele dan tak lebih melelahkan dibanding pekerjaan suaminya di kantor. Kesal, Shiya pun pergi meninggalkan suami bersama kedua anaknya di rumah.

Baru dua hari ditinggal, sang suami mengirimkan surat kepadanya. Ia meminta maaf atas kesalahannya dan menuliskan curhatan betapa tak mudah menjadi seorang istri sekaligus ibu. Berikut surat curhatan suami Shiya yang dikutip dari Hefty, Kamis (14/7):

"Sayangku,

Dua hari yang lalu kita telah bertengkar hebat. Waktu itu aku sampai di rumah sekitar pukul 8 malam. Aku sungguh lelah waktu itu dengan pekerjaanku seharian di kantor dan yang ingin aku lakukan hanyalah duduk dan menonton pertandingan di TV.

Loading...

Saat itu aku melihatmu juga sedang kelelahan dan dalam mood yang buruk. Anak-anak yang bandel dan bayi yang menangis membuatmu kesulitan menidurkan mereka. Pikiranku pun makin penat dan yang aku lakukan hanya mengeraskan volume TV.

"Ini tidak akan membunuhmu, bantulah aku sedikit mengatasi masalah mengasuhan anak-anak kita," ucapmu kepadaku yang kemudian kujawab dengan mengeraskan volume TV.

Lalu dengan marah aku berkata: 'Aku sepanjang hari sudah bekerja di kantor, hanya agar kamu bisa tinggal di rumah bermain bersama anak-anak!,'

Argumen itu terus dan terus aku lontarkan. Kamu menangis karena marah dan lelah. Aku mengatakan hal-hal kejam padamu. Kamu berteriak, mengatakan Kamu tidak bisa menahannya lebih lama lagi. Kamu bergegas keluar dari rumah menangis dan meninggalkanku sendirian dengan anak-anak.

Aku pun sendirian harus memberi makan malam pada anak-anak dan membuat mereka siap untuk tidur. Keesokan harinya Kamu masih belum kembali entah ke mana. Aku pun sampai harus cuti kerja untuk tinggal dan menjaga anak-anak di rumah.

Aku kini tau rasanya bagaimana harus terjaga di sekitar anak-anak kita sepanjang hari tanpa memiliki waktu sejenak, bahkan untuk sekadar mandi.

Aku merasakan bagaimana rasanya harus memanaskan susu, menyiapkan anak pakaian dan membersihkan dapur, dan semua itu pada waktu yang sama.

Aku merasakan bagaimana rasanya dikurung sepanjang hari tanpa berbicara dengan orang lain, kecuali anak-anak.

Aku merasakan bagaimana rasanya tidak bisa duduk manis di meja untuk menikmati makan santai, bangun setiap tiga jam karena setelah tertidur karena bayi menangis.

Aku tinggal selama dua hari dan dua malam di bersama anak-anak. Aku kini sadar bagaimana kelelahanmu setiap hari. Kini ku sadar bahwa pekerjaanmu di rumah lebih melelahkan daripada menjadi karyawan di perusahaan besar sekalipun.

Dengan menulis surat ini, aku tidak hanya ingin memberi tahu bahwa aku merindukanmu, tetapi juga karena aku tidak ingin satu hari lagi untuk berlalu tanpa kehadiramu. Kau sangat berani, melakukan semua hal besar itu seorang diri"