×
Sign in

Hello There

Sign In to Brilio

Welcome to our Community Page, a place where you can create and share your content with rest of the world

  Connect with Facebook   Connect with Google
Menyusuri keajaiban alam di Gua Batu Cermin Labuan Bajo

View Image

0

BRILIO » Jalan-Jalan

Menyusuri keajaiban alam di Gua Batu Cermin Labuan Bajo

Dahulu, posisi gua ini berada di bawah laut.

09 / 04 / 2019 22:31

Brilio.net - Destinasi wisata di wilayah Timur Indonesia memang sangat beragam. Selain Bali dan Lombok, ada Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur (NTT). Kalau berkunjung ke Labuan Bajo, yang paling terkenal adalah Taman Nasional Komodo. Namun tak hanya itu, ada destinasi lain yang bisa kamu kunjungi loh. Salah satunya adalah Gua Batu Cermin.

Seperti namanya, Gua ini mampu memantulkan cahayanya di dinding batu sehingga merefleksikan cahaya kecil ke area lain dalam gua sehingga terlihat seperti cermin. Hal itu lantaran adanya kandungan garam yang terdapat pada stalagmit dan stalagtit membuatnya berkilauan saat terkena sorotan lampu.

Gua ini menjadi bukti sejarah bahwa dahulu Labuan Bajo merupakan lautan. Bahkan masih banyak sisa coretan di dinding gua yang menyerupai ubur-ubur, terumbu karang, hingga penyu. Gua ini ditemukan pertama kali oleh arkeolog sekaligus misionaris asal Belanda, Theodore Verhoven pada tahun 1951.

Batu cermin © 2019 brilio.net

“Jutaan tahun lalu, posisi gua ini ada di bawah laut. Dulu, sempat ada pergeseran atau patahan lempeng bumi, lalu terjadi gempa, sehingga ada beberapa wilayah di Pulau Flores yang tenggelam. Ada beberapa juga yang bahkan naik ke permukaan, salah satunya adalah gua ini,” ujar Mario, pemandu wisata di Gua Batu Cermin dalam siaran pera yang brilio terima, Selasa (9/4).

Loading...

Untuk bisa berkunjung ke gua ini, bisa ditempuh dalam waktu 15 menit dari Labuan Bajo. Aksesnya relatif mulus dan wisatawan bisa menyambanhi gua itu dengan kendaraan bermotor. Jalanan beraspal, dan deretan bukit hijau serta pepohonan berada di sepanjang jalan.

Untuk memasuki gua utama, pengunjung harus menaiki tangga. Terdapat gua pembuka dengan jalur yang relatif luas dan mudah untuk dilalui. Beberapa pohon terlihat merambat dengan akar yang cukup besar menempel di dinding gua pembuka.

Tepat di bibir masuk gua utama, para pengunjung diminta untuk memakai helm dan menyalakan penerangan di seluler masing-masing. Dari sepuluh pengunjung, hanya dua yang diberikan senter oleh Mario.

Batu cermin © 2019 brilio.net

"Tidak boleh terlalu banyak penerangan di dalam gua, karena bisa mengubah temperatur udara,” katanya.

Mario juga menerangkan kondisi di dalam gua dan mengimbau para pengunjung untuk berhati-hati ketika berjalan, karena di beberapa titik terdapat lorong yang hanya bisa dilalui oleh satu orang saja.

“Panjang gua kurang lebih 15-20 meter, tapi ada beberapa titik di mana kita harus berjalan merunduk karena posisi stalaktit dan stalagmit cukup rendah. Nanti di dalam ada ruangan besar yang tidak ada cahaya, tapi di bagian yang disebut ‘cermin’ ada cahaya,” terang Mario.

Di area tengah gua, Mario mengarahkan cahaya senter ke langit gua, ia menyoroti fosil penyu dengan posisi terbalik. Ada segenggam bongkahan yang hilang pada tempurung fosil, yang ternyata sengaja diambil oleh Verhoven untuk diteliti. Ia kemudian menyimpulkan bahwa “batuan” tersebut memang fosil penyu yang sudah tercampur dengan berbagai jenis mineral lainnya.

Suara di gua ini tidak bergema lantaran bentuk batu yang berpori-pori dapat meredam suara. “Gua ini tidak bagus untuk memantulkan suara, tapi bagus untuk memantulkan cahaya,” jawab Mario.

Batu cermin © 2019 brilio.net

Ia selalu menunda-nunda menjelaskan tentang mengapa gua ini diberi nama Gua Batu Cermin. Sampai akhirnya tiba di satu titik di mana terdapat lorong buntu, dan di atasnya terdapat celah tempat sebongkah cahaya masuk. Jika momennya tepat, cahaya yang masuk akan terefleksi pada dinding gua dan membentuk cermin alami. Inilah asal-muasal nama Gua Batu Cermin.

“Pantulan sinar matahari di bagian lorong ini bisa menerangi sekitar 60 persen isi gua. Cuma, momen seperti itu memang tidak terjadi setiap hari, tergantung pergerakan bumi dan posisi matahari,” papar Mario, disusul tawarannya kepada para pengunjung untuk berfoto.

Kegiatan berwisata di dalam gua yang menghabiskan waktu sekitar 20-30 menit ini sukses membawa pengunjung mengarungi cerita Pulau Flores masa lalu dan menyaksikan bukti-bukti peninggalan sejarah berharga berbentuk sejumlah fosil hewan dan terumbu karang. Keunikan inilah yang menjadikan objek wisata ini tak pernah sepi pengunjung, baik dari dalam maupun luar negeri.







Pilih Reaksi Kamu
  • Senang

    0%

  • Ngakak!

    0%

  • Wow!

    100%

  • Sedih

    0%

  • Marah

    0%

  • Love

    0%

Loading...

RECOMMENDED VIDEO

Wave white

Subscribe ke akun YouTube Brilio untuk tetap ter-update dengan konten kegemaran Milenial lainnya

MORE
Wave more