Brilio.net - Ramadhan secara umum berarti bulan kesembilan dalam kalender Islam (Hijriah). Adapun kalender tersebut terdiri dari Muharram, Safar, Rabi'ul Awal, Rabi'ul Akhir, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Sya'ban, Ramadhan, Syawal, Dzulkaidah, dan Dzulhijjah. Kalender Islam ini perhitungannya terus berlanjut dan mengalami perubahan di setiap tahun masehi.

Ramadhan adalah Bulan Suci ketika umat Islam berpuasa dan mencoba melakukan thawab (amal baik yang diberikan oleh Allah). Di bulan Ramadhan, diwajibkan bagi orang beriman untuk berpuasa, menahan lapar dan haus mulai dari terbit sang fajar hingga terbenamnya matahari.

Di bulan ini umat Islam berlomba-lomba melakukan amal baik. Sebab, Ramadhan adalah bulan penuh keberkahan.

Ramadhan biasanya berlangsung selama 29 hingga 30 hari, tergantung dari hilal. Arti Ramadhan sendiri diambil dari bahasa Arab yaitu ramada atau ar-ramad, artinya panas yang menghanguskan atau kekeringan.

Makna ini kerap disangkutpautkan dengan jatuhnya Ramadhan saat musim panas menyengat. Sebab itu pula umat Islam mengibaratkan panas menyengat dapat menghapus dosa-dosa selama ini.

Loading...

Bukan sekadar artinya saja yang penuh makna, tapi selama Bulan Suci ini banyak kejadian penting dan istimewa dalam sejarah Islam.

Dihimpun brilio.net dari berbagai sumber, Rabu (22/4), berikut penjelasan lengkap mengenai Ramadhan.

Sejarah Ramadhan.

Arti Ramadhan sejarah unplash

foto: pixabay.com

Ramadhan merupakan bulan penting bagi umat Islam, sebab dulunya banyak kejadian-kejadian penting yang mempengaruhi agama Islam. Dikutip dari buku berjudul Mister Bulan Ramadhan, karangan Yusuf Burhanudin, Ramadhan tidak bisa dilepaskan dari peristiwa hijrahnya Nabi SAW.

Pada zaman dulu, Nabi mengalami hijrah atau berpindah dari Mekah ke Madinah. Momentum itu terjadi sebagai upaya agar Nabi bisa terhindar dari gangguan orang Quraisy. Hijrahnya Nabi itu pula sebagai bentuk penyempurnaan syariat Islam.

Saat sebelum ayat puasa turun, dulunya umat Islam berpuasa pada 10 Muharram yang dikenal sebagai hari Asyura. Mereka boleh berbuka dan melakukan kegiatan biasa mulai dari maghrib hingga isya. Selepas menunaikan sholat isya, umat Islam diminta untuk berpuasa lagi hingga waktunya berbuka datang lagi.

Tidak lama berselang, praktek puasa tersebut diubah. Allah kemudian menurunkan Alquran Surat Al-Baqarah ayat 187, yang artinya:

"Dihalalkan bagi kalian bersetubuh dengan istri-istri kalian pada malam hari bulan puasa. Mereka adalah pakaian bagi kalian, dan kalian pun pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasannya kalian tidak bisa menahan nafsu kalian. Karena itu, Allah mengampuni kalian dan memberi maaf kepada kalian. Maka kini campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untuk kalian. Dan, makan minumlah hingga terang bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu hingga (datang) malam, tetapi janganlah kalian campuri mereka, sementara kalian sedang beri'tikaf dalam masjid. Itulah ketentuan Allah. Karena itu, janganlah kalian mendekatinya. Demikian Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia supaya mereka bertakwa."

Dilansir dari laman Nahdlatul Ulama, turunnya QS Al-Baqarah ayat 187 itu kemudian jadi pedoman umat Islam dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Terutama tentang waktu berpuasa Ramadhan, yaitu dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari.

Lantas menurut hadits yang diriwayatkan oleh Mu'adz bin Jabal, praktek puasa Ramadhan mulai diwajibkan pada tahun ke-2 Hijriah atau 624 Masehi. Hal ini juga bersamaan dengan disyariatkannya sholat ied, zakat fitrah, dan kurban.

Keistimewaan dan keutamaan Ramadhan.

Arti Ramadhan sejarah unplash

foto: pixabay.com

Dilansir dari laman Kemenag, Ramadhan adalah bulan yang suci dan penuh berkah. Di dalamnya terdapat berbagai keutamaan.

Orang yang berhak mendapatkan keutamaan Ramadhan adalah orang-orang beriman. Seperti yang terkandung dalam surat Al-Baqarah ayat 183, bahwa yang dipanggil untuk melaksanakan ibadah puasa adalah orang yang beriman.

Penekanannya bukan orang Islam ataupun manusianya, tetapi yang beriman. Karena itu tidak heran ketika Ramadhan datang, tidak semua orang berpuasa tanpa alasan yang dibolehkan. Sebab, tingkat keimanan setiap orang berbeda-beda.

Keutamaan Ramadhan juga telah disebutkan oleh Nabi Muhammad SAW, yang telah diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu: Adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memberi kabar gembira kepada para sahabatnya dengan bersabda, "Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa di dalamnya, pada bulan ini pintu-pintu Surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan para setan diikat, juga terdapat pada bulan ini malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barangsiapa tidak memperoleh kebaikannya maka dia tidak memperoleh apa-apa." (HR Ahmad dan An-Nasa'i)

Sedangkan dari Ubadah bin AshShamit, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan keberkahan. Allah mengunjungimu pada bulan ini dengan menurunkan rahmat, menghapus dosa-dosa dan mengabulkan doa. Allah melihat berlomba-lombanya kamu pada bulan ini dan membanggakanmu kepada para malaikat-Nya, maka tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang baik dari dirimu. Karena orang yang sengsara ialah yang tidak mendapatkan rahmat Allah di bulan ini." (HR Ath Thabrani)

Adapun keistimewaan dan keutamaan Ramadhan lainnya sebagai berikut:

1. Ramadhan adalah satu-satunya nama bulan yang ada di Alquran. Salah satunya berada pada QS Al-Baqarah.

2. Pada bulan ini, terdapat sebuah malam lebih baik daripada 100 bulan. Hal ini dijelaskan pada surat QS Al-Qard ayat 3. Yang artinya: Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.

3. Di bulan Ramadhan, umat Islam yang beriman diwajibkan ibadah puasa. Telah dijelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 183, yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

4. Pada bulan Ramadhan, terdapat pengampunan dosa. Di Bulan Suci ini pula pintu surga telah dibuka, dan pintu neraka ditutup.

5. Ladang atau media penebusan dosa atau kafarat hingga bulan Ramadhan berikutnya. Sepanjang sholat fardhu dari satu Jumat ke Jumat berikutnya.

6. Saat bulan Ramadhan, amal ibadah akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT.