Brilio.net - Mendirikan sholat Idul Fitri menjadi salah satu ibadah yang menandakan berakhirnya bulan suci Ramadhan. Sholat Idul Fitri merupakan sholat sunah yang memiliki 2 rakaat. Sholat ini termasuk dalam salat sunah muakad, artinya walaupun bersifat sunah, tetapi sangat penting sehingga sangat dianjurkan untuk tidak meninggalkannya. Meski dilaksanakan secara singkat, namun jangan terburu-buru untuk meninggalkan tempat sholat. Pasalnya masih ada khutbah Idul Fitri yang dianjurkan untuk kamu dengarkan.

Khutbah Idul Fitri dilaksanakan seusai sholat Id berjamaah. Khutbah Idul fitri memiliki hukum sunah. Akan tetapi, dalam melaksanakan khutbah perlu memperhatikan rukun-rukun yang ditetapkan. Rukun tersebut menjadi ketentuan yang perlu dipahami seseorang sebelum melakukan khutbah Idul Fitri. Akan tetapi pada dasarnya, rukun khutbah Idul fitri sama dengan khutbah jumat. Nah seperti apa rukun khutbah Idul Fitri? Simak selengkapnya dalam ulasan brilio.net dari berbagai sumber pada Sabtu (8/5).

1. Pengertian khutbah Idul Fitri.

Makna khutbah Idul Fitri © freepik.com

foto: freepik.com

Secara umum, khutbah merupakan salah satu metode yang digunakan untuk mengomunikasikan sebuah pesan. Sedangkan secara harfiah, khutbah berarti ceramah atau pidato. Kegiatan tersebut disampaikan kepada sejumlah umat Islam dengan syarat dan rukun tertentu yang berisi sebuah ajakan berbuat kebajikan, peringatan, pembelajaran, nasehat dan sebagainya.

Khutbah Idul Fitri bersifat sunah. Khutbah ini menjadi pembeda antara sholat sunah Idul fitri dengan sholat sunah lainnya seperti sholat dhuha atau tahajud. Dengan adanya khutbah Idul fitri menandakan bahwa sholat tersebut merupakan momen yang penting dan istimewa.

2. Dalil terkait khutbah Idul Fitri.

Makna khutbah Idul Fitri © freepik.com

foto: freepik.com

Mendirikan khutbah Idul Fitri merupakan salah satu ajaran yang dilakukan Nabi Muhammad SAW. Nabi menunjukkan bagaimana tahapan ketika beliau memberikan khutbah setelah pelaksanaan sholat Idul Fitri. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits. Ibnu Umar berkata:

"Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar menunaikan shalat Idul Fithri dan Idul Adha sebelum khutbah" [Riwayat Bukhari 963, Muslim 888, At-Tirmidzi 531, An-Nasa’i 3/183, Ibnu Majah 1276 dan Ahmad 2/12 dan 38]

Tak hanya melaksanakan khutbah, keluar rumah dan merayakan hari raya Idul Fitri juga menjadi bagian ajaran Rasulullah SAW.

"Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Al Mutsanna] berkata, telah menceritakan kepada kami [Ibnu Abu 'Adi] dari [Ibnu 'Aun] dari [Muhammad] berkata, " [Ummu 'Athiyyah] berkata, "Kami diperintahkan untuk keluar, maka kami keluarkan pula para wanita yang sedang haid, gadis remaja dan wanita-wanita yang dipingit dalam rumah." Ibnu Aun menyebutkan, "Atau gadis-gadis remaja yang dipingit. Adapun wanita haid, maka mereka dapat menyaksikan (menghadiri) jama'ah kaum Muslimin dan mendo'akan mereka, dan hendaklah mereka menjauhi tempat shalat mereka (kaum laki-laki)." (HR Bukhari 928)

Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa semua orang diminta untuk merayakan hari suci ini. Termasuk wanita yang sedang haid, namun mereka harus menjauhi tempat sholat.

3. Rukun khutbah idul fitri.

Makna khutbah Idul Fitri © freepik.com

foto: freepik.com

Perlu diketahui, khutbah shalat Idul Fitri dilaksanakan setelah shalat dua rakaat usai, bukan sebaliknya. Hal ini termasuk juga sebagai salah satu rukun pada khutbah ini. Simak penjelasan lainnya berikut ini.

- Memuji Allah di kedua khutbah. Pujuan ini disyaratkan menggunakan kata “hamdun” dan lafadh-lafadh yang satu akar kata dengannya, misalkan “alhamdu”, “ahmadu”, “nahmadu”.

- Membaca shalawat Nabi Muhammad di kedua khutbah. Contoh membaca shalawat yang benar adalah “ash-shalâtu ‘alan-Nabi”, “ana mushallin ‘alâ Muhammad”, “ana ushalli ‘ala Rasulillah”.

- Berwasiat ketakwaan di kedua khutbah. Prinsipnya adalah setiap pesan kebaikan yang mengajak ketaatan atau menjauhi kemaksiatan.

- Membaca ayat suci al-Quran di salah satu dua khutbah.Membaca ayat suci al-Quran dalam khutbah standarnya adalah ayat al-Qur'an yang dapat memberikan pemahaman makna yang dimaksud secara sempurna. Baik berkaitan dengan janji-janji, ancaman, mauizhah, cerita dan lain sebagainya.

- Berdoa untuk kaum mukmin di khutbah terakhir. Mendoakan kaum mukminin dalam khutbah Jumat disyaratkan isi kandungannya mengarah kepada nuansa akhirat.

4. Sunah khutbah Idul Fitri.

Makna khutbah Idul Fitri © freepik.com

foto: freepik.com

- Khatib yang disyaratkan berdiri (bila mampu) saat berkhutbah disunnahkan menyela kedua khutbah dengan duduk sebentar. Sebagaimana diungkap dalam hadits Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah yang berkata:

“Sunnah seorang Imam berkhutbah dua kali pada salat hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha), dan memisahkan kedua khutbah dengan duduk.” (HR Asy-Syafi’i)

- Pada khutbah pertama khatib disunnahkan memulainya dengan membaca takbir hingga sembilan kali, sedangkan pada khutbah kedua membukanya dengan takbir tujuh kali.

- Saat khutbah berlangsung, jamaah diperintahkan untuk tenang, mendengarkannya secara seksama, agar memperoleh proses kesempurnaan salat id.

5. Keutamaan berkhutbah.

Makna khutbah Idul Fitri © freepik.com

foto: freepik.com

Khutbah adalah salah satu cara untuk menyebarkan kebaikan. Amalan ini wajib dilakukan bagi seseorang yang mampu. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Alquran surah Ali-imran ayat 110:

"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar...."

Selain itu, Abi Mas’ud ‘uqbah bin amir al anshari Radhiallahu’anhu telah berkata: Rasulullah Shalallahu’alaihiwasallam telah bersabda:

“Barangsiapa yang menunjukkan kepada sebuah kebaikan maka baginya seperti pahala pelakunya.”

(H.R Muslim imarah No. 1893, H.R Tirmidzi al-ilmu No. 2673)

Dari Abi Hurairah Radhiallahu’anhu sesungguhnya Rasulallah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda :

"Barangsiapa yang mengajak kepada suatu petunjuk, maka dia memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi sedikit pun dari pahala-pahala mereka. Dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan maka dia memperoleh dosa semisal dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikit pun dari dosa-dosa mereka."

Shahih Muslim al-ilmu :2674)

Berdasarkan pernyataan tersebut dapat dijelaskan bahwa umat Islam akan mendapatkan pahala yang melimpah dari Allah SWT apabila mereka mengajak, menyampaikan dan menyerukan kebajikan sesuai syariat Islam pada orang lain meskipun dalam hal kecil. Selain itu, seorang muslim juga akan terjaga dari kemungkaran dan diberikan ampunan atas dosa yang diperbuat.

(brl/guf)