Brilio.net - Mantan Sekretaris Jenderal Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Said Didu baru-baru ini punya pengalaman yang bikin dia sibuk bukan kepalang. Pengamat ekonomi politik ini kehilangan telepon selulernya saat meninggalkan Bandara Soekarno Hatta melalui Terminal 1 B. Namun akhirnya dia lega, ponsel miliknya yang sempat raib bisa ditemukan.

Keberhasilan ini berkat kesigapan para petugas Angkasa Pura II (AP2) yang menjadi pengelola bandara terbesar di Indonesia tersebut. Said pun mengungkapkan rasa salutnya kepada para petugas yang bekerja cepat layaknya “detektif”.

Kisahnya bermula saat Said kehilangan ponselnya yang tertinggal di atas mesin ATM di pintu keluar Terminal 1 B pada 3 Agustus 2018 pukul 11.45 WIB. Said baru sadar ponselnya tertinggal setelah 10 menit meninggalkan ATM usai bertransaksi.

Ponsel Said Didu © 2018 brilio.net

Said kembali ke ATM. Ternyata ponselnya telah raib. Dalam benaknya saat itu mustahil bisa menemukan kembali ponselnya yang hilang. Said bukan mempermasalahkan harga ponselnya. Tapi banyak data penting di dalamnya.       

Loading...

“Secara ekonomi, nilai ponsel saya tersebut tidak terlalu besar tapi data yang ada dalamnya tidak bisa saya nilai secara ekonomi. Dalam ponsel tersebut terdapat banyak komunikasi yang sangat ‘bernilai’ bahkan banyak yang bersifat rahasia,” kisah Said.

Data-data berharga itu dijelaskan Said seperti berbagai topik diskusi dan data tentang hal-hal strategis seperti alat pertahanan dan keamanan (alpalhankam), mafia migas, mafia tambang, kasus TKA ilegal, bahkan kasus-kasus korupsi yang sedang hangat dibicarakan, terekam pada diskusi dengan pihak-pihak tertentu dalam ponsel tersebut.

Karena strategisnya data tersebut Said pun berupaya keras menggunakan segala kemampuan dan relasi untuk  mengamankan data dan menemukan kembali ponsel tersebut. Apalagi di ponsel itu juga banyak nomor telepon koleganya.

Ponsel Said Didu © 2018 brilio.net

Maklum ia sudah 24 tahun memiliki ponsel tersebut. Ia pun khawatir nomor-nomor itu nantinya digunakan pihak yang tidak bertanggungjawab. Dalam benaknya ada dua hal yang perlu diselamatkan, data dan nomor kontak kolega agar tidak digunakan untuk tujuan yang tidak benar.

Kemudian Said bertanya kepada satpam yang berada di sekitar area ATM. Si satpam yang bernama Topik itu dengan ramah menyapa dan melayani keluhan Said. Kemudian Topik menghubungi temannya yang lain untuk membantu membuka akses ke CCTV. “Sekitar satu menit saudara Topik datang dan meminta saya direkam di CCTV mungkin untuk bahan penyelidikan kejadian,” jelas Said.

Hanya butuh 7 menit

Sekitar tujuh  menit kemudian, Topik menjelaskan bahwa sesuai rekaman CCTV, ponsel Said tertinggal di atas mesin ATM Bank Mandiri. Dalam rekaman CCTV menunjukkan ada seorang anak muda yang berusia sekitar 20-an menggunakan ATM itu setelah Said pergi. Si pemuda yang menemukan ponsel itu bukannya melapor kepada petugas setempat, tapi malah memasukan ponsel itu ke tas selempang yang ia bawa. Si pemuda meninggalkan ATM menuju pos bus Damri. Said pun merasa kehilangan jejak. (Bersambung...)