Brilio.net - Kisah kejayaan kerajaan Majapahit masih menjadi perbincangan hingga kini. Jejak kebesarannya terus diteliti oleh arkeolog, ilmuwan, hingga paranormal. Kerajaan yang pernah tumbuh besar pada tahun 1293 M hingga ambruk pada sekitar tahun 1500 M ini menyisakan banyak jejak sejarah. Jejak-jejak itu dicoba untuk dikembalikan dengan dibangunnya puing-puing sisa kerajaan di sebuah desa di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Akhir April lalu, brilio.net secara khusus melakukan peliputan sisa-sisa keruntuhan Majapahit di Desa Bejijong, di Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Desa tersebut memang dipenuhi sisa bangunan, tembok kuno, batu-batuan kuno, hingga tata letak bangunan-bangunan yang menunjukkan usia yang sudah sangat tua. Tak heran jika Desa Bejijong dikenal sebagai Kampung Majapahit.

Untuk menuju Desa Bejijong tidaklah sulit karena posisi desa berada persis di pinggir jalan utama yang menghubungkan Jombang-Mojokerto. Melewati gapura Kampung Majapahit pemandangan memang sudah berbeda dibanding dengan desa-desa tetangga. Sebuah rumah bergaya kuno berdiri kokoh.

Bentuk bangunan rumah menyerupai pendopo, sedikit terbuka dengan empat tiang kayu penyangga. Lantai terbuat dari batu sungai yang ditutup dengan batu berwarna merah marun. Atap rumah berbentuk limas segitiga yang memanjang. Kemudian pintu masuknya terdiri dari dua daun pintu kembar yang terbuat dari kayu dengan ukuran lumayan besar. Di kiri dan kanan pintu terdapat dua buah jendela yang juga terbuat dari kayu.

Sebuah rumah di Kampung Majapahit

Loading...

lipsus desa majapahit © 2016 brilio.net

Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah, Andi Muhammad Said menjelaskan, desain rumah Kampung Majapahit yang dibuat saat ini merupakan hasil modifikasi dari rumah kawula (rakyat biasa) Majapahit kala itu. Dengan konsep di zaman itu, ruangan rumah hanya berfungsi sebagai tempat tidur, sementara aktivitas kehidupan lainnya dilakukan di luar rumah. “Hanya saja atap yang ada sekarang sudah menggunakan desain modern. Sementara untuk rumah Majapahit zaman dulu biasanya modelnya menggunakan atap sirap,” katanya. Rumah-rumah itu dibangun guna mengembalikan kampung Majapahit sesuai penelitian-penelitian para arkeolog, bahwa kerajaan Majapahit berlokasi di Trowulan.

Lalu, setelah melewati rumah pendopo tersebut, suasana perkampungan ala Majapahit semakin terasa. Pasalnya, semakin masuk kampung semakin banyak pula rumah yang berbentuk serupa. Rumah itu berjajar-jajar berdampingan di kanan dan kiri jalan utama desa. Yang membedakan hanyalah ukurannya, ada yang besar ada yang kecil.

Di Desa ini memang terdapat banyak peninggalan bersejarah Kerajaan Majapahit. Diantaranya Candi Brahu dan Makam Siti Inggil yang merupakan makam sang raja Majapahit yaitu Raden Wijaya. Di Bejijong juga terdapat Maha Vihara Majapahit Bejijong. Bangunan-bangunan kuno itu menyatu dengan rumah-rumah bergaya kuno, meski dibangun baru sekitar dua tahun sebagai proyek mengembalikan wajah kampung Majapahit.

Suasana Kampung Majapahit siang hari

lipsus desa majapahit © 2016 brilio.net

Batik Tulis

Tak hanya sekadar rumah dan bangunan kuno saja yang menyuguhkan nuansa kuno di Desa Bejijong. Namun desa dengan julukan Kkampung Majapahit itu juga semakin membawa imajinasi pada kerajaan Majapahit zaman dulu karena aktivitas sebagian besar warganya. Di kampung tersebut warganya kebanyakan berprofesi sebagai pengrajin batik tulis khas Majapahit. Sebagian lainnya adalah pengrajin patung tanah liat.

Sri Mujiatim, salah satu pengrajin batik pertama yang ada di Desa Bejijong menuturkan, batik Majapahit sendiri sebenarnya sama dengan batik yang ada di daerah lainnya. Hanya saja untuk motifnya, batik Majapahit lebih mengangkat peninggalan-peninggalan era Majapahit. Seperti ada ukiran candi, tanaman, atau bunga yang dipercaya pernah ada saat Majapahit berkuasa. “Dari ciri khas yang ada, batik Majapahit hampir sama dengan batik yang ada di Yogyakarta. Dimana warna dominan batiknya yaitu coklat muda dan biru,” katanya.

Batik khas peninggalan Majapahit memang memiliki corak dan motif yang berbeda dibanding dengan batik-batik daerah lain. Kekhasan batik tulisnya terletak pada simbol Surya Majapahit. Sepotong kain batik tulis dengan kualitas bagus bisa membutuhkan waktu sebulan. Selain motif Surya Majapahit, motif-motif batik khas Mojokerto lebih banyak berasal dari alam seperti sisik grinsing, mrico bolong, pring sedapur, dan burung bertengger.

Warga Desa Bejijong sedang membatik

lipsus desa majapahit © 2016 brilio.net

Pembangunan desa wisata bertema kampung Majapahit ini sendiri tidak hanya berada di Desa Bejijong. Dua desa lainnya yang disulap adalah Desa Sentonorejo dan Desa Jatipasar. Total ada 296 rumah yang dibangun, sebanyak 200 rumah ada di Desa Bejijong, 46 di Desa Sentonorejo, dan 50 rumah lainnya di Desa Jatipasar. Rumah-rumah itu dibangun agar bisa mengesankan sebuah desa masa zaman kerajaan Majapahit.

Pembangunan ke-296 rumah itu dilakukan secara bertahap. Pada tahap pertama, anggaran bersumber dari APBD provinsi Jatim tahun 2014 sebesar Rp 5,92 miliar, dan Rp 1,48 miliar dari APBD Pemkab Mojokerto. Kemudian pada tahap kedua, anggaran yang dikucurkan dari APBD provinsi Rp 7,4 miliar, sedangkan dari APBD Pemkab Mojokerto Rp 2,5 miliar. Sehingga secara keseluruhan, rumah majapahit di ketiga desa tadi menghabiskan total anggaran sebesar Rp 16,3 miliar.

Namun baru-baru ini, muncul wacana pemerintah akan menambah jumlah pembangunan rumah Majapahit hingga 300 unit lagi di tiga desa yang berbeda. Yaitu di Desa Trowulan, Temon dan Watesumpak. Dengan begitu rumah majapahit di Trowulan total akan menjadi 596 unit yang tersebar di enam desa.

Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah, Andi Muhammad Said melanjutkan, kedepannya rumah Majapahit yang ada di enam desa ini diharapkan bisa menjadi tempat akomodasi para wisatawan. Seperti tempat homestay, toko suvernir barang kerajinan, dan tempat kesenian seperti panggung.

"Jadi masyarakat desa bisa diberdayakan sepenuhnya dan pengunjung juga bisa bermalam dan merasakan tinggal di kampung Majapahit," ucapnya.

Jika itu tercapai maka bukan tidak mungkin desa-desa wisata ini bisa menjadi 'museum hidup'. Dimana masyarakat bisa menyaksikan kembali nuansa peninggalan sejarah salah satu kerajaan terbesar di Jawa. Tidak hanya dengan menyaksikan artefak-artefak yang tersimpan dan candi-candi yang berdiri kokoh.

Tonton juga videonya

Desa Wisata Majapahit