Brilio.net - Hari Raya Idul Fitri merupakan hari yang paling ditunggu seluruh umat Islam di dunia, termasuk Indonesia. Bagaimana tidak, setelah satu bulan lamanya berpuasa, umat muslim akan merayakan hari kemenangan.

Idul Fitri diartikan sebagai hari suci atau hari di mana umat Islam seperti terlahir kembali dan bersih dari dosa. Setelah melatih kesabaran dan hawa nafsu selama sebulan, tentu akan ada nilai penting yang bisa diterapkan setelah berakhirnya bulan Ramadhan.

Idul Fitri atau Lebaran dirayakan pada tanggal 1 Syawal. Saat Idul Fitri, umat Islam melakukan satu ibadah sholat Idul Fitri atau sholat Ied. Selain itu, masyarakat Indonesia juga biasanya akan saling berkunjung ke rumah sanak saudara setelah sholat Idul Fitri. Melaksanakan silaturahmi menjadi cara yang tepat untuk menjalin hubungan antar umat menjadi lebih baik.

Keistimewaan Idul Fitri.

Keistimewaan Idul Fitri bagi umat Islam © 2021 brilio.net

ANDA MUNGKIN MENYUKAI INI

foto: freepik.com

Selain menjadi hari yang paling ditunggu oleh seluruh umat Islam, Idul Fitri juga memiliki beberapa keistimewaan sebagai Hari Raya umat Islam. Berikut beberapa keistimewaan yang terdapat dalam Idul Fitri.

1. Membawa kebahagiaan dan kegembiraan.

Dalam Alquran surat Yunus ayat 58, Allah berfirman:

Keistimewaan Idul Fitri bagi umat Islam © 2021 brilio.net

Qul bifadlillaahi wa birahmatihii fa bizaalika falyafrahu, huwa khairum mimmaa yajma'un

Artinya:

"Katakanlah: "Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan"."

Hari Raya Idul Fitri adalah hari ketika umat muslim di seluruh dunia berbahagia dan bergembira karena Allah/ Hal ini dikarenakan mereka telah berhasil menyempurnakan ibadahnya dan memperoleh pahala puasa.

2. Merupakan hari yang baik.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda:

"Allah telah memberi ganti bagi kalian dua hari yang jauh lebih baik, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha." (HR. Ab Daud dan An-Nasa’i dengan sanad hasan)

Hadits tersebut menjelaskan bahwa Idul Fitri merupakan hari yang lebih baik dari pada hari-hari lainnya.

3. Hari kembali berbuka.

Idul Fitri adalah hari untuk kembali berbuka. Hal ini didasarkan atas makna dari kata 'Id' dan 'fitri'. Kata 'Id' berasal dari kata aada – yauudu yang berarti 'kembali'. Sedangkan fitri dalam hal ini diartikan sebagai buka puasa untuk makan.

Fitri berarti buka puasa berdasarkan akar kata ifthar (sighat mashdar dari aftaro– yufthiru) dan didasarkan atas hadits berikut. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:

"Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah keluar pada hari Idul Fitri (ke tempat shalat) sampai beliau makan beberapa kurma terlebih dahulu. Beliau memakannya dengan jumlah yang ganjil." (HR. Bukhari)

4. Kembali suci.

Keistimewaan selanjutnya, Idul Fitri merupakan hari kembali suci. Hal ini berkaitan dengan makna kata 'fitri' yang berarti suci, dan bersih dari segala dosa-dosa. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda:

"Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni." (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

"Barangsiapa mendirikan shalat malam di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari dan Muslim)

5. Merupakan hari pembagian hadiah.

Idul Fitri merupakan hari pembagian hadiah. Pembagian hadiah ini artinya umat Islam yang telah satu bulan berpuasa serta mengerjakan amalan shaleh karena Allah maka akan memperoleh hadiah berupa ganjaran atau pahala atas ibadah yang telah ia kerjakan.

-

Amalan saat Idul Fitri.

Keistimewaan Idul Fitri bagi umat Islam © 2021 brilio.net

foto: freepik.com

1. Mengumandangkan takbir.

Saat Idul Fitri tiba, suara takbir saling bersautan dari satu masjid dengan masjid lainnya. Mengumandangkan takbir saat Idul Fitri tak harus dilakukan di masjid, namun juga bisa dilakukan di rumah. Mengumandangkan takbir merupakan salah satu sunah yang bisa dikerjakan saat Idul Fitri. Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda:

"Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar hendak sholat pada hari raya Idul Fitri sambil bertakbir sampai di lapangan dan sampai sholat hendak dilaksanakan. Ketika sholat hendak dilaksanakan, beliau berhenti dari bertakbir."

2. Mandi sunah Idul Fitri.

Amalan selanjutnya yakni dengan mandi sunah Idul Fitri. Hal ini juga disebutkan dalam salah satu hadist yang diriwayatkan Ibnu Umar,

"Dari Nafi’, (ia berkata bahwa) ‘Abdullah bin ‘Umar biasa mandi di hari Idul Fithri sebelum ia berangkat pagi-pagi ke tanah lapang." (HR. Malik).

Mandi sunah ini bertujuan untuk membersihkan diri dari hadas besar dan hadas kecil. Setelah mandi, seorang muslim yang hendak menunaikan sholat Idul Fitri harus memakai pakaian terbaik, dalam artian bersih dan sopan. Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

"Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki jubah khusus yang beliau gunakan untuk Idul Fithri dan Idul Adha, juga untuk digunakan pada hari Jum’at." (HR. Ibnu Khuzaimah, dalam kitab shahihnya, 1765).

3. Makan terlebih dahulu.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

"Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah keluar pada hari Idul Fitri (ke tempat sholat) sampai beliau makan beberapa kurma terlebih dahulu. Beliau memakannya dengan jumlah yang ganjil." (HR. Bukhari)

4. Menyegerakan sholat Idul Fitri.

Setelah makan, maka segeralah menyegerakan sholat Idul Fitri di masjid, musholla atau tanah lapang. Ketika seseorang berangkat lebih awal, maka ia akan lebih banyak mengumandangkan takbir dan dapat mendapatkan shaf terdepan.

5. Berjalan kaki dengan tenang dan khusyu' menuju tempat sholat.

Meski harus segera sholat Idul Fitri, seseorang sebaiknya tetap berjalan dengan tenang menuju tempat sholat. Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra ia berkata:

"Rasulullah SAW biasa keluar menuju shalat 'Ied dengan berjalan kaki dan pulang dengan berjalan kaki." (HR. Ibnu Majah)

6. Memberikan ucapan selamat.

Dari Jubair bin Nufair, ia berkata bahwa jika para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumpa dengan hari Ied, satu sama lain saling mengucapkan, "Taqabbalallahu minna wa minka (Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).” Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. (Fath Al-Bari, 2: 446)

Imam Ahmad berkata,

"Tidak mengapa (artinya: boleh-boleh saja) satu sama lain di hari raya ‘ied mengucapkan: Taqobbalallahu minna wa minka." (Al-Mughni, 2: 250).

7. Mengambil jalan yang berbeda saat pulang sholat.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda:

"Nabi SAW ketika hari raya mengambil jalan yang berbeda (antara pergi dan pulangnya).” (HR. Bukhari)

(brl/gib)