Brilio.net - Kofi Annan mantan Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB yang dikenal karena diplomasi lembutnya dengan para pemimpin dunia di masa krisis, meninggal dunia di sebuah klinik di Jenewa, Swiss pada Sabtu (18/8). Kofi Annan menghembuskan napas terakhirnya di usia 80 tahun.

Seperti brilio.net lansir dari laman DailyMail, Minggu (19/8), penampilan terakhirnya di publik adalah di Harare, Zimbabwe, bulan lalu ketika ia mengajukan permohonan pemilihan umum yang damai. Para pengamat mengatakan pada saat itu bahwa Annan tampak ragu-ragu ketika ia menyampaikan pidato dan tampak tak sehat.

Diketahui pula kalau Annan tampak terkena gejala flu. Sebagai ketua The Elders, sebuah kelompok diplomat internasional yang disatukan oleh Nelson Mandela, Annan ada di sana untuk mendesak warga Zimbabwe untuk membawa perdamaian abadi ke negara mereka. Ia mengatakan gelombang kebebasan baru itu mungkin. "Kita semua bisa merasakan gelombang. Ambil gelombang ini," ungkapnya.

Annan merupakan orang yang paling terang-terangan mengkritik keras atas keputusan Tony Blair untuk bergabung dengan pasukan AS dalam invasi tahun 2003 di Irak. Seminggu sebelum invasi, ia memperingatkan bahwa tindakan militer akan melanggar piagam Dewan Keamanan PBB.

Ia sebelumnya mengatakan bahwa invasi akan menyebabkan kerusakan dalam tatanan internasional dan bahwa seharusnya ada resolusi PBB kedua yang mengesahkan perang terhadap Irak. Pada September 2004, ia melangkah lebih jauh dan mengutuk invasi itu sebagai ilegal. Dalam wawancara dengan BBC World Service ia mengatakan, "Invasi itu tidak disetujui" dan "Tidak sesuai dengan piagam pendirian PBB".

Loading...

Ditanyakan langsung apakah itu ilegal, ia berkata," Ya, jika kamu mau. Saya telah mengindikasikan bahwa itu tidak sesuai dengan piagam PBB. dari sudut pandang kami dan dari sudut pandang lainnya, itu ilegal."

Annan dilahirkan dalam keluarga aristokrat dari kepala suku Ashanti di Kumasi, Ghana pada tahun 1938. Ia masih dihormati di sana sebagai seorang Ghana yang tak pernah melupakan akarnya dan yang mempertahankan hubungan dengan komunitas lokalnya sepanjang hidupnya.

Ia kuliah di Kumasi, kemudian memenangkan beasiswa Ford Foundation ke Minnesota, AS, di mana ia memperoleh gelar di bidang ekonomi pada tahun 1961. Ia memulai kariernya di World Health Organization (WHO), lalu bergabung dengan PBB di New York di mana sebagian hidupnya dihabiskan sebagai diplomat.

Pada tahun 1990, Annan menegosiasikan pembebasan sandera di Irak setelah invasi Saddam Hussein ke Kuwait. Ia juga konsisten untuk mencapai perdamaian di Irak dan diangkat sebagai Sekjen PBB pada tahun 1997. Dan Annan menjadi orang berkulit gelap pertama yang mengambil posisi teratas di PBB.

Annan diakui secara luas telah merevolusi birokrat kelas berat PBB dan memprioritaskan hak asasi manusia, perubahan iklim dan kebutuhan akan kesetaraan dalam ekonomi dunia. Pada tahun 2001, Annan dianugerahi Nobel Perdamaian bersama-sama dengan PBB karena membawa kehidupan baru ke inisiatif perdamaiannya.

Annan diberi gelar kehormatan oleh Ratu Elizabeth II dalam pertemuan pribadi di Istana Buckingham pada tahun 2007. Di tahun itu pula ia meninggalkan PBB dan mendirikan Kofi Annan Foundation yang didedikasikan untuk mempromosikan pemerintahan yang lebih baik dalam 'dunia yang lebih adil, lebih damai'.

Ia memimpin pembicaraan untuk membangun perdamaian di Kenya setelah kekerasan pasca pemilu tahun 2017 di mana lebih dari 1.000 orang tewas. Di tempat lain di Afrika, Annan bekerja untuk memerangi epidemi HIV/AIDS, mendesak distribusi gratis obat anti-retroviral.

Dua tahun lalu pula, ia memimpin komisi PBB yang menyelidiki pembantaian Rohingya di Myanmar. Annan menerbitkan memoar, Interventions: A Life In War And Peace in 2012.

Sebuah pernyataan dari Kofi Annan Foundation kemarin mengatakan, "Di mana ada penderitaan atau kebutuhan ia mengulurkan tangan dan menyentuh banyak orang dengan belas kasih dan empati yang dalam."