Brilio.net -  Virus Corona atau COVID-19 sekarang ini memang menjadi permasalahan hampir diseluruh dunia. Meski demikian, bukan berarti wabah satu ini tidak bisa diperangi. Salah satu cara yang dilakukan beberapa negara adalah dengan tidak mengizinkan penduduknya untuk keluar rumah dalam beberapa waktu ke depa. Hal ini dilakukan untuk menekan jumlah penyebaran Virus Corona yang terbilang cukup cepat.

Dilansir brilio.net dari liputan6.com, kasus infeksi virus Corona di seluruh dunia telah mencapai 169.387. Dari angka itu, 77.257 di antaranya telah dinyatakan sembuh berdasarkan peta Coronavirus COVID-19 Global Cases by Johns Hopkins CSSE, Senin (16/3).

Melihat data tersebut, kekhawatiran masyarakat tentunya bisa mereda, karena ada banyak cara yang bisa dilakukan agar virus tersebut tidak terus menyebar. Bagi mereka yang terjangkit, kemungkinan untuk sembuh pun besar.

Demi mencegah penularan Virus Corona, setiap orang dianjurkan untuk selalu membersihkan diri. Mulai dari mencuci tangan usai memegang benda-benda tertentu, membersihkan lingkungan rumah dan lain sebagainya. Muncul pertanyaan dari beberapa pihak, apakah orang bisa tertular Virus Corona dari benda sekitar?

Loading...

Dilansir brilio.net dari liputan6.com, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat, saat ini tidak jelas apakah seseorang bisa tertular Virus Corona hanya dengan menyentuh permukaan atau benda yang sebelumnya terdapat COVID-19.

Faktanya, tidak banyak yang diketahui tentang COVID-19, jadi para peneliti beralih ke jenis virus yang hampir yang sama, seperti SARS dan MERS, untuk mendapatkan jawabannya. Dikutip dari laman sciencealert, Rabu (18/3), peneliti menemukan bahwa patogen manusia dapat bertahan di permukaan dan tetap menular pada suhu kamar hingga sembilan hari.

Namun rata-rata peneliti mengatakan jenis virus Corona dapat bertahan antara empat dan lima hari di sejumlah benda seperti aluminium, kayu, kertas, plastik, dan kaca.

"Suhu rendah dan kelembapan udara tinggi akan semakin meningkatkan umur mereka," kata dokter Günter Kampf di Rumah Sakit Universitas Greifswald.

Untuk mengurangi penyebaran virus Corona, para penulis studi baru menyarankan rumah sakit dengan hati-hati membersihkan permukaan benda dengan natrium hipoklorit, hidrogen peroksida, atau etanol.

Dilansir brilio.net dari liputan6.com, selama ini respons warganet di media sosial terkait virus Corona COVID-19 adalah virus itu tak lebih parah dari flu, yang bisa membunuh puluhan ribu orang per tahun. Angka kematian flu disebut lebih parah ketimbang virus Corona yang saat ini membunuh sekitar 3.000 orang.

Namun, WHO sudah membantah pernyataan itu. Virus Corona secara statistik didapati lebih parah ketimbang flu. Tingkat kematian akibat flu musiman di bawah 1 persen dan kematian akibat Virus Corona sudah mencapai 3,4 persen.

Meski demikian, WHO tetap percaya virus Corona masih bisa diatasi. Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mendorong agar setiap negara menambah tindakan untuk meredam penyebaran virus, serta melindungi petugas medis di garis depan.

"Secara global, sekitar 3,4 persen kasus COVID-19 telah meninggal, flu musiman umumnya membunuh di bawah 1 persen yang terinfeksi," ujar Tedros seperti dikutip Al Jazeera.

Tedros menyebut penularan virus Corona tidak separah flu. Ia yakin virus ini bisa diredam walau belum ada pengobatannya. Sebelumnya, WHO sempat melaporkan tingkat kematian akibat virus Corona bisa bervariasi antara 0,7 persen hingga 4 persen. Hal itu tergantung dari kualitas kesehatan tempat pasien dirawat.

Direktur Eksekutif program darurat kesehatan WHO Mike Ryan berkata Virus Corona tidak menular dengan cara seperti flu. Pihak WHO pun mengakui tidak sepenuhnya paham cara penularan.

"Di sini kita mendapati penyakit yang tidak punya vaksin, tak punya pengobatan. Kita tak memahami sepenuhnya penularannya, kita tak sepenuhnya paham kasus kematian," ujar Ryan yang menegaskan virus ini berbeda dari influenza.