Brilio.net - Selama hampir 1.000 tahun menara dari Masjid Agung Aleppo menjulang ke langit kota terbesar Suriah itu. Tapi sekarang bangunan itu terletak pada puing reruntuhan, salah satu dari banyak korban bersaudara tak berkesudahan. Padahal Menara dari Masjid Agung Aleppo ini memiliki bentuk yang nggak biasa. Jika biasanya menara masjid berbentuk silinder, Masjid Agung Aleppo memiliki menara berbentuk kotak panjang dan terletak di persimpangan.

Bangunan batu bata itu memiliki tinggi 45 meter berwarna merah jambu muda. Dihiasi tulisan Arab dan berdiri di tengah-tengah kota. Menurut laman BBC Magazine, menara tersebut bercerita tentang riwayat Aleppo atau Halab dalam bahasa  Arab, salah satu kota tertua di dunia yang pernah dihuni oleh manusia. Di dalam masjid juga dikatakan terdapat Nabi Zakaria yang bersemayam.

Masjid Agung Aleppo © 2016 brilio.net

"Ketika kamu memasuki halamannya, entah bagaimana terjadi perubahan udara, seolah kamu sedang berada di 'dunia lain', kata seniman Suriah dan arkeolog, Zahed Tajeddin, yang lahir dan besar di Aleppo namun sekarang tinggal di London.

"Murni, bersih dan membuat dirimu jauh dari suasana riuh dan penuh keramaian, kemacetan lalu lintas, kebisingan. Kamu akan melihat langit membiru di atas kepala. Terasa tenang dan damai. Dan tentu saja yang jadi pusat perhatian bukanlah masjid itu sendiri, melainkan menaranya yang berdiri megah di sudut halaman," tambahnya.

Loading...

Masjid Agung Aleppo © 2016 brilio.net

Didirikan pada awal abad ke-8, masjid dan menara itu menjadi saksi sejarah kependudukan suku Fatimiyah, Abbasiyah, Bizantium, Armenia, dan Mongol dan bahkan momen gempa bumi. Menara itu hampir berusia 1.000 tahun ketika berubah menjadi puing-puing pada musim semi 2013. Pasukan pemerintah Suriah dan pemberontak saling menyalahkan satu sama lain atas kehancuran itu.

"Menara itu tampak tak selaras dengan sisa bangunan masjid. Bangunan itu benar-benar jauh dari proporsional, lebih besar, dan justru paling menarik perhatian," kata Nasser Rabbat, ahli sejarah Suriah dari Massachusetts Institute of Technology.

Masjid Agung Aleppo © 2016 brilio.net

"Saya pikir masjid itu kehilangan keindahan, seiring dengan runtuhnya menara tersebut," ujarnya lagi.

Menara itu memiliki 4 kolom bagian yang berbeda, dan masing-masing dihias secara terpisah selama bertahun-tahun. Prasasti berbahasa Arab yang menghiasi dinding juga ditulis dengan dua gaya yang berbeda. Di bawah menara, tertera tulisan kuno Kufic, sementara di atasnya terpahat tulisan Kursif yang lebih modern.

Masjid Agung Aleppo © 2016 brilio.net

"Perubahan gaya penulisan juga merupakan hal yang simbolik. Cetakan Kursif yang berada di atas lebih mudah dibaca dan memiliki maksud bahwa agama itu adalah sesuatu yang mudah dipelajari bagi semua orang. Dijelaskan bahwa umat manusia tidak perlu pendidikan atau pengetahuan yang tinggi untuk mengerti hal itu," terang Rabbat menjelaskan simbol itu.

Masjid Agung Aleppo © 2016 brilio.net

Masjid dan menaranya dikelilingi oleh keriuhan aktivitas warga. Di pintu masuknya merupakan pasar utama Aleppo. Di situ adalah pusat jantung Kota Tua yang padat dengan toko-toko dan penjual kaki lima. "Orang-orang sudah tinggal di situ hampir sepanjang sejarah manusia. Mereka berbelanja, bertukar barang, membuat benda-benda, dan bersosialisasi di situ," kata Heghnar Watenpaugh, ahli sejarah keturunan Lebanon-Armenia yang pernah tinggal dan bekerja di Aleppo.

"Saat kau melangkahkan kakimu ke situ, kau sudah menjadi saksi sejarah manusia paling tua," ujarnya.

Masjid Agung Aleppo © 2016 brilio.net

"Di situ yang kalian rasakan bukan sekedar kota, kamu bisa menemukan barang-barang eksotik hingga benda-benda yang membosankan seperti kepala kambing sampai kain sutra dari oriental (Asia Timur)," kenang Watenpaugh.

Di bawah masa pemerintahan Ottoman pada Abad ke-16 dan 17, pasar itu berubah menjadi pusat kota paling terkenal. Orang-orang dari Eropa, India, Persia, baik itu pedagang, turis, hingga diplomat pasti menyempatkan diri datang ke situ. Di pasar itulah, mereka asik menikmati musik, manusia dan hewan campur aduk.

"Saat siang hari, sebagai pusat perdagangan, namun di malam hari jadi pusat hiburan. Penari pria dan wanita asik meliukkan badannya, aroma alkohol dan opium tercium di udara. Dan banyak komunitas pedagang akan bersaing satu sama lain untuk menjadi pusat perhatian di malam hari," kata Watenpaugh.

Masjid Agung Aleppo © 2016 brilio.net

Watenpaugh juga menjelaskan bahwa raja Prancis, Louis, pernah merayakan ulang tahunnya di lokasi tersebut. Namun kini kejayaan pusat manusia berkumpul itu tinggal kenangan. Hari ini, area itu menjadi medan pertempuran dan Aleppo diseret ke dalam perang. Ketika perang pecah pertama kalinya pada 2011, Aleppo merupakan zona tempur. Pemberontak memasuki Kota Tua lewat pasar itu. Alhasil, wilayah niaga itu menjadi pusat tentara pemberontak. Pada September 2012, kawasan itu terbakar habis dan sebagian besar bangunannya hancur.

Menurut wartawan perang BBC, Will Wintercross, penembak jitu juga turut memasuki kawasan tersebut. Namun, menurut beberapa laporan para penembak jitu juga menguasai menara itu sebagai pos sniper dan bagian bawah penuh dengan persediaan amunisi. Hingga akhirnya simbol perdamaian itu hancur terkena tembakan. Baik pemerintah Suriah dan pemberontak saling menyalahkan atas kerusakan menara tersebut.

Masjid Agung Aleppo © 2016 brilio.net

Tapi, bagi Nasser Rabbat, menara itu hanyalah salah satu korban kebodohan perang dan gila kekerasan. "Kami punya catatan 250 ribu orang tewas di Suriah. Bukan hanya menara, namun juga kerusakan benda-benda bersejarah lainnya," kata Nasser Rabbat.

"Meskipun aku adalah ahli sejarah bangunan, aku tak perlu mengekspresikan kesedihanku atas hancurnya bangunan. Tapi yang kusesalkan adalah kehilangan warga Suriah dan gaya hidup mereka," terang Rabbat.

Masjid Agung Aleppo © 2016 brilio.net

Rabbat percaya, Aleppo pernah mengalami berbagai invasi perang berdarah pasang dan selamat. Ia percaya akan ada seseorang yang menyelamatkan puing-puing menara di tempat yang aman. Sehingga suatu hari, mungkin, kami bisa membangunnya kembali.