Brilio.net - Dalam sistem negara demokrasi, Pemilihan Umum (Pemilu) merupakan hajat besar negara yang dilaksanakan dalam suatu kurun waktu tertentu. Seperti halnya Indonesia yang akan segera melaksanakan pemilu pada 17 April mendatang. Pesta demokrasi itu akan memilih presiden dan wakil presiden serta anggota legislatif.

Indonesia memang salah satu dari sekian banyak negara di dunia yang menggelar pemilu dalam rangka memilih para pemimpinnya. Namun, sistem dan tata cara pemilunya tentu berbeda-beda tiap negara.

Masing-masing negara ternyata punya aturan unik tentang penyelenggaraan pemilunya. Penasaran negara mana saja?

Dilansir brilio.net dari mentalfloss pada Selasa (9/4), berikut 15 fakta menarik pemilu di berbagai negara.

1. Kebanyakan pemilu diadakan pada hari Minggu.

Loading...

fakta pemilu © 2019 brilio.net

foto: straitstimes.com

Pemilu Indonesia 17 April mendatang memang diadakan pada hari Rabu. Namun, banyak negara di dunia memilih untuk mengadakan pemilu pada hari Minggu sebagai hari libur.

Menariknya, negara-negara persemakmuran Inggris masuk ke pengecualian. Misalnya, Kanada yang mengadakan pemilu pada Senin, hingga Australia dan Selandia Baru yang memilih hari Sabtu.

2. Pemilu Indonesia terbesar kedua di dunia, cuma kalah oleh India.

fakta pemilu © 2019 brilio.net

foto: liputan6.com

Dengan jumlah pemilih mencapai 187 juta orang, pemilu Indonesia menjadi pemilu terbesar kedua di dunia. Sementara itu, India menggelar pemilu terbesar dengan 800 juta pemilih.

3. Pemilih di Swedia dan Prancis tidak perlu mendaftar.

fakta pemilu © 2019 brilio.net

foto: washingtonpost.com

Warga Swedia dan Prancis nggak perlu repot-repot mengurus administrasi agar terdaftar dalam pemilih pemilu. Pemerintah Prancis secara otomatis mendaftar warganya yang berusia lebih dari 18 tahun sebagai pemilih. Sementara itu, Swedia menggunakan daftar pembayar pajak untuk membuat daftar pemilih pemilu di negaranya.

4. Golput di Australia akan didenda.

fakta pemilu © 2019 brilio.net

foto: theconversation.com

Tiap warga Australia yang berusia di atas 18 tahun diwajibkan secara hukum untuk memberikan suaranya pada pemilu. Bahkan, bagi warganya yang golput alias tidak memilih akan dikenakan denda mulai dari 20 dollar Australia atau Rp 200 ribu hingga 180 dollar Australia hampir 2 juta rupiah.

5. Di Brasil, anak berusia 16 tahun sudah bisa memilih.

fakta pemilu © 2019 brilio.net

foto: hawaiinewsnow.com

Kebanyakan batas usia pemilih dalam pemilu di berbagai negara adalah 17 hingga 18 tahun. Namun berbeda dengan Brasil yang memperbolehkan anak berusia 16 tahun untuk memilih dalam pemilu. Negara lain yang melakukan hal sama dengan Brasil adalah Australia dan Argentina.

6. Warga Estonia bisa memilih secara online.

fakta pemilu © 2019 brilio.net

foto: news.err.ee

Nggak perlu repot-repot datang ke tempat pemungutan suara (TPS). Warga Estonia dengan mudah bisa memilih saat pemilu dengan cara online sejak tahun 2005. Pada pemilu 2015 lalu, lebih dari 30 persen pemilih Estonia menggunakan cara online.

7. Partisipasi pemilu Amerika rendah dibanding negara maju lain.

fakta pemilu © 2019 brilio.net

foto: cnn.com

Pada pemilu tahun 2016, tingkat partisipasi warga Amerika ternyata sangat rendah dibanding negara-negara maju lainnya yakni hanya sebesar 53,6 persen. Sementara itu, pemilu Belgia adalah yang paling besar tingkat partisipasinya yakni 87,2 persen.

8. Di Chili, TPS pria dan wanita dipisah.

fakta pemilu © 2019 brilio.net

foto: csmonitor.com

Ada yang unik di Pemilu Chili. Sejak 1930, TPS antara pria dan wanita dibuat secara terpisah. Daftar pemilihnya pun dipisahkan berdasar jenis kelamin. Meski sudah tidak diharuskan, hingga kini, pemisahan itu masih berlangsung.

9. Jangan salah, Korea Utara juga punya pemilu.

fakta pemilu © 2019 brilio.net

foto: time.com

Meski bukan negara demokrasi, Korea Utara juga menggelar pemilu lokal. Hanya saja, mereka pilihan mereka sangat terbatas. Mereka pun tidak mempunyai keleluasaan dalam memilih. Oleh karena itu, banyak calon yang mendapatkan 100 persen suara.

10. Ratu Inggris bisa ikut pemilu.

fakta pemilu © 2019 brilio.net

foto: afp.com

Peraturan dalam pemerintah menjelaskan bahwa anggota keluarga kerajaan tidak dapat memilih saat pemilu. Namun hal itu tidak berlaku bagi Ratu Inggris, ia dapat berpartisipasi dalam pemilihan.

11. Warga Gambia gunakan kelereng untuk memilih.

fakta pemilu © 2019 brilio.net

foto: aljazeera.com

Warga Gambia di Afrika punya cara unik dalam menentukan pilihannya saat pemilu. Pemilih menjatuhkan kelereng ke dalam sebuah drum dengan warna-warna yang berbeda untuk menunjukkan pilihan mereka. Drum tersebut memiliki lonceng yang berbunyi ketika kelereng dijatuhkan. Jadi, kalau drum berbunyi dua kali, maka kecurangan bisa terdeteksi.

12. Di Selandia Baru, pengamat politik dilarang berkomentar saat pemilu.

fakta pemilu © 2019 brilio.net

foto: fairobserver.com

Pada hari pelaksanaan pemilu, pemerintah Selandia Baru melarang para pengamat politik untuk memberikan komentarnya baik tentang kandidat maupun kemungkinan siapa yang menang di hadapan media. Mereka dan media baru diperbolehkan membahas hasil pemilu setelah pukul 7 malam.

13. Di Texas, astronot dapat memberikan suaranya dari luar angkasa.

fakta pemilu © 2019 brilio.net

foto: ap.com

Parlemen Texas, Amerika Serikat mengeluarkan kebijakan yang memungkinkan pengiriman surat suara ke luar angkasa. Astronot yang tengah berada di luar angkasa pun bisa ikut memilih dalam pemilu.

14. Warga Liechtenstein harus tinggal lebih dari 10 tahun untuk bisa memilih.

fakta pemilu © 2019 brilio.net

foto: istockphoto.com

Liechtenstein, negara kecil di Eropa memiliki peraturan unik dalam menentukan siapa yang berhak memilih dalam pemilu. Bukan dari indikator umurnya, melainkan hanya warga yang telah tinggal lebih dari 10 tahun yang bisa berpartisipasi dalam pemilu.

15. Sebuah merek bedak memenangkan pemilu wali kota di Ekuador.

fakta pemilu © 2019 brilio.net

foto: mentalfloss.com

Merek bedak kaki Pulvapies memenangkan pemilihan wali kota kota Picoaza pada 1967. Para pemilih harus menuliskan nama kandidat pilihan mereka di kertas suara, dan mayoritas mereka menuliskan Pulvapies. Usut punya usut, merek ini pernah menjalankan sebuah kampanye iklan bertema pemilu.