Brilio.net - Merawat budaya adat Dayak adalah jalan hidup M. Sumpit (75). Ia didaulat sebagai Temenggung Adat Dayak Iban Kecamatan Batang Lupar Kapuas Hulu dan dikenal dengan nama Apai Sumpit.

Guna merawat adat istiadat Dayak Iban, Apai Sumpit kerap keliling ke beberapa negara seperti Malaysia dan Brunei Darusalam untuk studi banding. Di dua negara tersebut masyarakat Dayak juga hidup dan bergelut dengan modernitas.

"Sekarang ini, hukum adat, menjaga alam, dan hidup rukun dengan ciptaan Tuhan sudah mulai berkurang. Banyak lahan ditimpa sama perusahaan. Banyak juga orang Iban yang kurang paham soal adat istiadatnya," katanya.

Arus investasi kata dia, seperti pedang bermata dua. Di satu sisi bisa menguntungkan warga, tapi di sisi lain bisa menjadi batu sandungan ekologi dan etnografi serta menurunnya keyakinan adat Iban.

"Banyak pula masyarakat yang jual tanah. Padahal, tanpa tanah, orang Iban tidak bisa melakukan aktifitasnya, seperti ritual adat. Hewan seperti burung tertentu sebagai penanda alam juga hilang. Di situ saya bersama Temenggung lain bikin buku hukum adat, yang melarang semua yang bertentangan dengan adat, kalau dilanggar ya bayar adat," tukasnya.

Loading...

Rumah Betang yang menjadi ciri khas masyarakat Dayak Iban

dayak © 2016 brilio.net-foto: disbudpar.kapuashulukab.go.id

Selain hal itu, Apai Sumpit pun menjadi inisiator pengaliran air bukit Lanjak untuk dialirkan ke rumah-rumah warga di kawasan Lanjak, Kecamatan Batang Lupar, Kabupaten Kapuas Hulu. Ia bersama para Patih (pemimpin adat tingkat desa) dan Tuai Rumah ( pemimpin adat tingkat dusun atau rumah panjang), menolak masuknya perkebunan untuk menggerus bukit yang menjadi mata air. Akhirnya saat ini, warga Lanjak menikmati air bersih gratis, baik untuk mandi dan minum serta aktifitas lainnya.

"Kalau ndak gitu, warga harus beli air. Padahal air dah disiapkan Betara (Tuhan), cuma manusia mau rusak pohon, hutan, ya mana ada air kalau gitu. Tugas kitalah yang jaganya," pungkasnya.

Apai Sumpit, hanya satu dari sebagian kecil petinggi adat yang masih mempertahankan khazanah budaya mereka. Tato atau rajahan tubuh sebagai bukti ia sudah berkelana.

"Dulu orang Iban memang terkenal jago berperang. Cuma sekarang kan tidak zaman itu lagi. Ya pertahankanlah alam dan adat itu juga perang yang sesungguhnya saat ini. Bukan dengan kekerasan, tapi dengan diplomasi dan aturan," katanya.

Masyarakat Dayak Iban sendiri berada di perbatasan Kalimantan Barat dengan Lubok Antu-Sarawak Malaysia. Ribuan tahun lalu, Komunitas Dayak Iban sungguh terkenal sebagai Suku Dayak yang mahir berperang. Tak ayal, sejumlah sub suku dayak lain cukup hormat dengan sub satu ini.

Bertempat di lima kecamatan perbatasan yakni Batang Lupar, Embaloh Hulu, Puring Kencana, Badau, dan Empanang, sebaran komunitas yang masih melekatkan peninggalan sejarah yakni hidup di rumah panjang, menjadi ciri khas Dayak Iban.

Hingga saat ini tak bisa dipastikan berapa jumlah pasti orang Dayak Iban. Namun untuk di kawasan perbatasan saja, angkanya bisa di atas 100.000 warga. Belum lagi yang merantau ke Kabupaten Sambas, Bengkayang, atau Entikong Sanggau.

Sumpit bercerita, hal yang paling mudah untuk melihat seberapa jauh orang Iban bejalai (merantau) adalah melihat tatonya. Karena, secara adat orang Iban harus membuat tato di mana ia singgah, ataupun di mana ia 'mengayau' (memotong kepala musuh).

"Tapi itu dulu, zaman perang (adat) dulu, abis bejalai tu bikin tato, atau abis ngayau tu bikin tato juga. Banyaknya kepala, ada motifnya sama banyak dengan tato yang dibuat," katanya.