×
Sign in

Hello There

Sign In to Brilio

Welcome to our Community Page, a place where you can create and share your content with rest of the world

  Connect with Facebook   Connect with Google
Pihak-pihak yang bertikai di konflik Suriah, seperti ini keruwetannya

0

News

Pihak-pihak yang bertikai di konflik Suriah, seperti ini keruwetannya

Tujuh tahun sudah konflik Suriah dan masih jauh dari kata damai, kenapa bisa terjadi dan siapa saja yang terlibat? Versi ringkasnya mungkin seper

Disclaimer

Artikel ini merupakan tulisan pembaca Brilio.net. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Silakan klik link ini untuk membaca syarat dan ketentuan creator.brilio.net. Jika keberatan dengan tulisan yang dimuat di Brilio Creator, silakan kontak redaksi melalui e-mail redaksi@brilio.net

Huda Maman

13 / 09 / 2018 12:56

Setelah Asian Games 2018 selesai, banyak pikiran yang kini tertuju pada negara Suriah. Aksi mereka melambai-lambaikan bendera Indonesia pada saat parade sangat menyentuh segenap hati masyarakat Indonesia. Banyak yang sangat menyayangkan bahwa negara mereka kini sedang dalam perang saudara yang tidak berkesudahan.

Banyak pula yang sudah lupa asal mula konflik Suriah, dan dengan mudahnya menyalahkan pihak-pihak asing seperti Amerika, Israel, atau Iran sebagai kekuatan asing yang membuat kekacauan di sana. Nah, kalau mau berpikiran jernih, seperti ini kronologi perang saudara di Suriah, dilihat dari sudut pihak-pihak yang bertikai.

1. Pemerintah Suriah

Suriah Syria

Pemerintahan Suriah saat ini dipimpin oleh presiden Bashar al-Assad, menggantikan ayahnya Hafez al-Assad yang telah wafat. Bashar al-Assad sebelumnya meniti karir sebagai seorang dokter, namun setelah kakaknya, Bassel al-Assad, yang sudah disiapkan menjadi pewaris tahta tewas dalam sebuah kecelakaan mobil, Bashar al-Assad pun dipanggil untuk menjadi pewaris kekuasaan ayahnya yang semakin menua.

Loading...

Bashar terpilih memimpin Suriah sejak tahun 2000 lewat sistem pemilihan tertutup (hanya kandidat tunggal), kemudian berturut-turut memenangi dua pemilihan lainnya yaitu pada tahun 2007 (tertutup) dan tahun 2014 (terbuka dengan dua kandidat). Segera setelah terpilih, Bashar al-Assad berusaha melakukan reformasi bidang ekonomi dan politik, namun banyak yang menganggapnya tidak berhasil. Meskipun mayoritas rakyat Suriah adalah Islam Sunni, namun keluarga al-Assad dari etnis minoritas Syiah Alawiyah, tidak heran jika politik luar negeri pemerintah Suriah kemudian lebih condong ke Iran.

2. Kekuatan Oposisi

Protes Demonstrasi

Pada Desember 2010 seorang pemuda Tunisia bernama Mohamed Bouazizi membakar dirinya sendiri setelah lelah menghadapi bullying dari oknum-oknum pemerintah Tunisia. Aksi pemuda ini tidak hanya mempengaruhi rakyat Tunisia, tapi juga rakyat dari negara-negara Arab lainnya untuk menyuarakan perubahan atau lebih dikenal sebagai Musim Semi Arab (Arab Spring). Sayangnya tidak semua demonstrasi berakhir bahagia seperti di Tunisia, seperti di Libya yang jatuh ke dalam perang saudara singkat yang berakhir setelah kematian Khadafi, sementara di Mesir malah berakhir dengan kudeta militer.

Terinspirasi dari peristiwa Tunisia, gelombang protes di Suriah dimulai pada tahun 2011. Rakyat turun ke jalan menuntut perbaikan ekonomi dan reformasi politik seperti yang pernah dijanjikan sebelumnya. Gelombang protes yang semakin besar membuat pemerintah melepas tembakan hingga menewaskan beberapa orang, pemerintah berdalih bahwa pemrotes pada saat itu sudah disusupi oleh teroris. Suriah pun akhirnya masuk dalam perang saudara.

Perjuangan kekuatan oposisi sepertinya akan berlangsung mudah dan singkat setelah mayoritas angkatan bersenjata Suriah membelot dan menolak memerangi rakyatnya sendiri. Mereka menamakan dirinya Free Syrian Army (FSA) dan berjuang bersama kekuatan oposisi.

3. Al-Qaida

Children

Klaim pemerintah soal adanya teroris ternyata benar adanya. Yang ikut serta dalam memerangi pemerintah adalah fraksi al-Qaida di Suriah, al-Nusra. Mereka memerangi pemerintah karena banyak dari mereka sebelumnya adalah tahanan pemerintah. Setelah bebas dalam kekacauan, mereka membangun kembali kekuatan fraksi mereka dan ikut berperang melawan pemerintah Suriah.

4. Etnis Minoritas Kurdi

Children of War

Kurdi adalah etnis minoritas yang menempati perbukitan bagian utara di antara perbatasan tiga negara yaitu Suriah, Irak, dan Turki. Etnis Kurdi sudah bertahun-tahun memperjuangkan kemerdekaan wilayah mereka yang mereka sebut Kurdistan, sehingga mereka pun dicap pemberontak oleh ketiga negara tersebut. Tak mau kehilangan kesempatan, Kurdi pun ikut dalam peperangan melawan pemerintah Suriah, tentunya untuk kepentingannya sendiri. Meskipun sama-sama memerangi pemerintah, namun Kurdi dan kekuatan oposisi tidak terafiliasi, kebetulan saja mereka melawan musuh yang sama.

5. Negara-negara Islam Sunni

Saudi Arabia

Arab Saudi dan negara-negara Islam Sunni lainnya seperti Turki dan Yordania dicurigai secara diam-diam menggalang kekuatan untuk membantu logistik kekuatan oposisi Suriah. Pemerintah Amerika pada masa presiden Obama bahkan pernah melakukan protes kepada Saudi untuk tidak memberikan senjata kepada teroris, mengacu pada banyaknya simpatisan al-Qaida di barisan oposisi. Saudi diduga ingin mengurangi pengaruh Islam Syiah di kawasan Arab agar dapat memojokkan posisi Iran yang sudah terlibat perselisihan dengan Saudi selama bertahun-tahun. Dengan dukungan Saudi dan teman-teman, kekuatan oposisi kini menjadi semakin kuat.

6. Negara-negara Islam Syiah

Iran

Mengetahui sekutunya dalam posisi kritis, Iran tidak tinggal diam. Pada tahun 2012 Iran mulai secara periodik mengirimkan bantuan kepada pemerintah Suriah baik logistik dan personel. Tidak lama kemudian fraksi Syiah di Lebanon, Hezbollah, juga menyatakan mendukung pemerintah Suriah dan mulai merangsek masuk Suriah untuk melawan kekuatan oposisi. Dengan dukungan Iran dan negara-negara Islam Syiah lainnya cukup untuk membuat kedudukan kekuatan-kekuatan yang bertikai di Suriah kembali berimbang.

7. Amerika Serikat - Barrack Obama

Barrack Obama Amerika

Presiden Amerika, Barrack Obama, pernah secara terbuka menyerukan kepada Bashar al-Assad agar turun tahta untuk meredakan gejolak perang Suriah namun tidak digubris. Meskipun demikian, Amerika tidak mau mengirimkan bantuan kepada oposisi karena mengetahui adanya ekstrimis al-Qaida dalam barisan oposisi, malahan Amerika diduga secara rahasia melatih milisi sendiri di perbatasan Yordania untuk ambil bagian di perang Suriah.

Pada tahun 2013, pemerintah Suriah kedapatan menggunakan senjata kimia kepada kekuatan oposisi. Aksi ini mendapat respon keras dari Obama yang mengancam akan menggerakkan kekuatan militer Amerika kepada pemerintah Suriah. Namun rencana agresi militer tersebut batal setelah Rusia berhasil melobi Amerika dan pemerintah Suriah untuk tidak menggunakan dan melucuti senjata kimianya.

8. ISIS

Children of War

Mungkin plot twist yang paling mengejutkan dan tidak terduga dalam konflik Suriah adalah kemunculan ISIS. Pada tahun 2014, kelompok al-Qaida yang berbasis di Irak terpecah dan menjadi saling bermusuhan satu sama lain. Fraksi yang baru terbentuk tersebut menamakan dirinya ISIS dan mengklaim sebagian besar wilayah Irak dan Suriah sebagai wilayah negaranya. Yang membuat keadaan semakin kacau, ISIS tidak hanya memerangi mantan teman-temannya di al-Qaida, tetapi juga pemerintah Suriah dan Irak, kekuatan oposisi, dan Kurdi karena saling tumpang tindih wilayah kekuasaan yang mereka akui.

Hanya dalam waktu singkat ISIS berhasil menarik simpatisan dari seluruh dunia dan langsung menjadi kekuatan besar yang menambah rumit di konflik Suriah. Presiden Obama terpaksa mengalihkan perhatiannya untuk menjatuhkan ISIS di Irak dan Suriah. Milisi yang telah dilatih Amerika secara rahasia pun berganti tujuan untuk memerangi ISIS.

9. Turki

Turki

Meskipun pernah menyebut Bashar al-Assad sebagai teroris, namun pada tahun 2015 Turki membuat langkah mengejutkan dengan memerangi pemberontakan Kurdi di daerah perbatasannya dengan Suriah dan Irak. Hal ini mengejutkan, karena koalisi untuk menekan rezim pemerintah Suriah terbukti rapuh dengan tiap-tiap pihak memiliki prioritas sendiri-sendiri dan membela kepentingannya masing-masing.

Amerika dibuat pusing, karena Kurdi adalah kekuatan yang tidak terafiliasi dengan al-Qaida untuk menekan pemerintah Suriah dan juga ikut melawan ISIS namun kini posisinya menjadi lemah. Amerika juga tidak bisa berbuat banyak terhadap Turki yang merupakan salah satu sekutu utama dalam menekan rezim pemerintah Suriah. Masih ingat dengan FSA, kini mereka bertindak seperti tentara bayaran. Dengan bantuan logistik dari Turki, FSA juga ikut memerangi Kurdi dari wilayah Suriah.

10. Rusia

Rusia

Yang benar-benar membalikkan keadaan menjadi keuntungan pemerintah Suriah adalah dukungan Rusia kepada rezim pemerintah Suriah. Rusia diketahui beberapa kali mem-veto resolusi DK PBB kepada Suriah, dan di akhir tahun 2015 Rusia mengirimkan beberapa pesawat tempurnya kepada pemerintah Suriah. Rusia berdalih kekuatan udaranya hanya digunakan untuk memerangi ISIS dan teroris, namun kenyataan di lapangan menunjukkan pasukan udara Rusia juga ikut menggempur basis-basis kekuatan oposisi.

Dengan Amerika sedang sibuk memerangi ISIS, sedangkan Turki dan FSA melawan Kurdi, otomatis kekuatan tempur pasukan oposisi goyah digempur pemerintah yang dibantu Rusia dan Iran. Gabungan kekuatan Rusia dan Iran terbukti sangat berperan besar bagi pemerintah Suriah dalam memenangkan kembali kota Aleppo pada tahun 2016 yang sebelumnya menjadi basis kekuatan oposisi.

11. Amerika Serikat - Donald Trump

Donald Trump Amerika

Tahun 2016 menjadi tahun penting bagi rakyat Amerika dengan terpilihnya Donald Trump sebagai presiden baru menggantikan Barrack Obama. Trump yang terkenal dengan slogannya America First, kebijakan awalnya terhadap konflik Suriah sangat bersebrangan dengan Obama. Trump menyatakan tidak akan terlibat dalam konflik Suriah, dan akan membiarkan Bashar al-Assad berkuasa.

Namun di tahun 2017, hanya beberapa bulan setelah Trump resmi menjabat, pemerintah Suriah kedapatan lagi menggunakan senjata kimia kepada kekuatan oposisi. Kejadian kali ini menewaskan hampir 100 orang termasuk anak-anak. Presiden Trump langsung berubah pikiran dan segera merespon, hanya beberapa hari setelahnya Amerika meluncurkan hampir 60 rudal tomahawk ke pos-pos angkatan udara pemerintah Suriah.

Ini pertama kalinya Amerika secara langsung dan terang-terangan menyerang pemerintah Suriah. Namun efektivitasnya banyak yang mempertanyakan. Agar terhindar konflik dengan Rusia, Amerika dicurigai secara diam-diam menghubungi pihak Rusia untuk memindahkan kekuatan militernya dari tempat-tempat yang menjadi target serangan. Hubungan Amerika - Rusia juga ikut memanas, Rusia berjanji akan merespon jika Amerika kembali melakukan aksi militer kepada Suriah.

12. Perancis dan Inggris

Perancis

Lagi-lagi senjata kimia memakan korban sipil di Suriah, setelah seluruh dunia mengecam banyaknya korban sipil pada aksi militer di Ghouta saat awal tahun 2018, pada April 2018 di distrik Douma terjadi serangan yang melibatkan senjata kimia. Untuk kali ini Presiden Trump mendapatkan sekutu, yaitu Perancis dan Inggris, yang setuju untuk kembali melakukan serangan rudal ke Suriah.

Kali ini lebih dari 100 rudal yang ditembakkan. Amerika Serikat menargetkan pangkalan-pangkalan udara dan basis-basis militer, sementara Perancis dan Inggris menargetkan tempat-tempat yang menjadi fasilitas senjata kimia.

13. Pihak-pihak lainnya

Uni Eropa

- China diketahui bersama Rusia beberapa kali mem-veto upaya resolusi DK PBB. China juga sering mengecam aksi-aksi militer Amerika di Suriah.

- Israel beberapa kali mengirimkan pesawat-pesawat tempurnya ke Suriah jika terjadi kontak senjata yang dekat dengan perbatasan negara mereka. Target mereka sudah jelas adalah pasukan Iran, Israel pantas khawatir karena Iran beberapa kali mengancam akan menyerang Israel. Keberadaan pasukan Iran di di dekat perbatasan negaranya tentu akan membuat mereka was-was. Suriah juga sering mendapat serangan-serangan rudal misterius namun tidak ada yang mengklaim bertanggung jawab, yang menjadi tersangka utamanya adalah Israel.

- Uni Eropa yang awalnya cuek kini kewalahan karena menghadapi gelombang pengungsi dari Suriah. Mereka menyebut gelombang migrasi ini adalah yang terburuk sepanjang masa. Namun belum ada tanda-tanda mereka akan terlibat langsung dalam konflik Suriah selain dari menangani para pengungsi perang.

Source





Pilih Reaksi Kamu
  • Senang

    0%

  • Ngakak!

    0%

  • Wow!

    0%

  • Sedih

    0%

  • Marah

    0%

  • Love

    0%

Loading...

RECOMMENDED VIDEO

Wave white

Subscribe ke akun YouTube Brilio untuk tetap ter-update dengan konten kegemaran Milenial lainnya

-->
MORE
Wave red