×
Sign in

Hello There

Sign In to Brilio

Welcome to our Community Page, a place where you can create and share your content with rest of the world

  Connect with Facebook   Connect with Google
5 Mitos soal udara dingin yang perlu kamu tahu

0

N/A

5 Mitos soal udara dingin yang perlu kamu tahu

Foto: Pexels dari Pixabay

Mungkin saja apa yang selama ini kamu ketahui tentang pengaruh udara dingin terhadap kesehatan adalah salah atau hanya sekadar mitos.

Disclaimer

Artikel ini merupakan tulisan pembaca Brilio.net. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Silakan klik link ini untuk membaca syarat dan ketentuan creator.brilio.net. Jika keberatan dengan tulisan yang dimuat di Brilio Creator, silakan kontak redaksi melalui e-mail redaksi@brilio.net

Saiht Namron

05 / 12 / 2019 11:45

Sejak kecil mungkin kamu sering kena omel orang tua karena keluar rumah malam hari tidak pakai mantel atau ketika udara dingin tidak boleh main keluar rumah karena takut sakit pilek. Benarkah hawa dingin sedemikian menakutkannya untuk kesehatan? Atau itu semua hanya mitos. Mari kupas 5 mitos yang beredar sejak dulu tentang udara dingin.

1. Jika tidak mengenakan mantel, kamu akan masuk angin.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa virus (seperti yang menyebabkan pilek dan flu) dapat bereplikasi lebih mudah di udara yang dingin dan kering, tetapi mengenakan mantel tidak akan melindungimu dari hal tersebut. Hasil penelitian tidak menemukan hubungan antara menjadi dingin secara fisik dan terkena flu. Pemanas ruangan, bagaimanapun dapat berkontribusi pada kondisi ingusan. Ketika orang sakit batuk, bersin, atau berbicara, ia memancarkan tetesan kecil yang terinfeksi virus dingin yang menggantung di udara. Ketika tingkat kelembapan kurang dari 50%—yang biasanya kita lihat di dalam ruangan saat panas menyala—virus bertahan lebih baik, dan tetesan itu dapat tetap melayang di udara selama berjam-jam.

2. Olahraga di luar ruangan dalam udara dingin dapat melukai paru-paru.

Kamu tak perlu batal olahraga hanya karena udara di luar sedang dingin. Saluran pernapasan seperti hidung, mulut, dan trakea semuanya bekerja untuk menghangatkan dan melembapkan udara hampir sampai suhu tubuh sebelum mencapai jaringan alveoli yang rapuh di paru-paru. Namun, otot kamu adalah cerita yang berbeda.

Loading...

Otot dingin lebih kaku, yang berarti otot tidak bisa berkontraksi selama atau sekeras itu. Itulah yang menempatkanmu pada risiko cedera yang jauh lebih tinggi. Jadi jelas, lakukan pemanasan dan gerakkan sesi berkeringatmu di dalam ruangan jika kamu memiliki kondisi tertentu dalam pernapasan seperti asma karena flu dapat memperburuknya.

3. Sebagian besar panas tubuhmu hilang melalui kepala.

Ini tidak benar. Para peneliti yang menulis dalam jurnal Inggris melacak awal mula mitos tersebut yang ternyata bermula dari hasil eksperimen militer AS tahun 1950-an di mana para peserta dibundel mulai dari jari kaki hingga ke lehernya dan kehilangan jumlah panas tubuh yang mengejutkan dari kepalanya.

Hasil eksperimen itu menyimpulkan bahwa orang kehilangan 40% hingga 50% dari panas tubuh mereka melalui kepala mereka. Tetapi ini sebenarnya terjadi karena kepala dibiarkan terbuka. Jika kamu tidak mengenakan syal dan membiarkan lehermu terbuka, maka lehermu pun akan membiarkan panas tubuh keluar. Sama halnya jika kamu tak memakai sarung tangan maka akan kehilangan panas melalui tanganmu.

4. Alergi menghilang di musim dingin.

Hal ini tidak berlaku untuk semua orang. Jika serbuk sari dan rumput adalah hal-hal yang membuatmu sengsara, kemungkinan besar kamu akan akan berlayar sepanjang musim. Tetapi bagi orang-orang dengan alergi dalam ruangan (terhadap debu, tungau debu, dan jamur), lebih banyak waktu di dalam ruangan sebenarnya berarti lebih banyak paparan dan gejala yang memburuk.

Jika kamu memiliki batuk yang menetap atau hidung meler, jangan menganggapnya sebagai pilek musim dingin yang epik—mungkin ada baiknya berbicara dengan doktermu tentang apakah itu adalah alergi. Alergi mungkin saja berkembang pada segala usia.

5. Kamu tidak perlu tabir surya selama musim dingin.

Tidak benar. Yang membuat kulit kita terbakar itu bukan udara panas, tetapi radiasi sinar Ultra Violet (UV) sepanjang tahun tanpa memandang musim panas atau musim dingin. Untuk itu direkomendasikan menggunakan tabir surya spektrum luas setiap hari tak peduli berapa lama kamu akan berada di luar. Bahkan di dalam ruangan pun radiasi sinar UV tetap dapat tembus.

Sinar UV dapat melewati awan dan melalui banyak jenis kaca jendela. Jadi kamu masih akan terkena paparan Sinar UV walaupun duduk di dalam ruangan atau sedang menyetir mobil. Setiap harinya tabir surya harus dioleskan kembali setiap dua jam.

Terkait udara dingin, riset membuktikan bahwa justru ketika musim dingin risiko terpapar sinar UV semakin tinggi karena salju dan es dapat memantulkan hingga 80% dari sinar UV yang berbahaya menurut Skin Cancer Foundation, yang berarti kulitmu mungkin terkena radiasi sinar UV lebih banyak di musim dingin daripada di musim panas.

Source





Pilih Reaksi Kamu
  • Senang

    0%

  • Ngakak!

    0%

  • Wow!

    0%

  • Sedih

    0%

  • Marah

    0%

  • Love

    0%

Loading...

RECOMMENDED VIDEO

Wave white

Subscribe ke akun YouTube Brilio untuk tetap ter-update dengan konten kegemaran Milenial lainnya

MORE
Wave red