×
Sign in

Hello There

Sign In to Brilio

Welcome to our Community Page, a place where you can create and share your content with rest of the world

  Connect with Facebook   Connect with Google
11 Jenis tes inteligensi ini turut digunakan di Indonesia

0

Ilmiah

11 Jenis tes inteligensi ini turut digunakan di Indonesia

Perkembangan dalam ilmu Psikologi memberi pengaruh besar bagi masyarakat terutama dalam penggunaan tes psikologi.

Disclaimer

Artikel ini merupakan tulisan pembaca Brilio.net. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Silakan klik link ini untuk membaca syarat dan ketentuan creator.brilio.net. Jika keberatan dengan tulisan yang dimuat di Brilio Creator, silakan kontak redaksi melalui e-mail redaksi@brilio.net

Laila Midori

30 / 03 / 2020 11:08

Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan yang semakin maju dan pesat, ilmu dalam bidang Psikologi juga turut berkembang. Perkembangan dalam ilmu Psikologi memberi pengaruh besar bagi masyarakat, terutama dalam penggunaan tes psikologi.

Saat ini tes psikologi sudah banyak digunakan dalam berbagai bidang kehidupan seperti bidang pendidikan, klinis, sosial, maupun bidang industri. Kaplan dan Saccuzzo (dalam Rahmadani, 2019) mengemukakan bahwa tes psikologi merupakan tes yang terdiri dari seperangkat item serta dirancang untuk mengukur dan memberikan informasi mengenai karakteristik dari individu yang berhubungan dengan perilaku. Penggunaan alat tes psikologi yang populer dalam masyarakat salah satunya adalah tes inteligensi.

Sejarah tes inteligensi sendiri dimulai pada awal tahun 1895. Pada tahun tersebut Alfred Binet dan rekannya Victor Henri mempublikasikan beberapa artikel yang menyatakan bahwa kemampuan memori dan pemahaman akan hubungan sosial dapat diukur. Artikel tersebut menjadi awal dari apa yang akan dinamakan tes inteligensi.

Sepuluh tahun setelah artikel mengenai memori dan pemahaman akan hubungan sosial yang dapat diukur dipublikasikan ke publik, Binet dan rekannya Theodore Simon mempublikasikan skala ukur inteligensi yang disebut 30-Item. Skala ukur 30-Item pada awalnya bertujuan untuk membantu mengidentifikasikan anak-anak yang memiliki mental retardasi di sekolah Paris Schoolchildren. Lalu, skala ukur 30-Item ini akhirnya dikembangkan, ditingkatkan dan diadaptasi ke dalam beberapa bahasa sehingga dapat digunakan pada bidang-bidang lain seperti di sekolah, rumah sakit, persidangan hingga penjara (Cohen & Swerdlik, 2009). Namun, sejarah ini hanya menceritakan satu pandangan mengenai tes inteligensi. Sementara itu, tes inteligensi memiliki arti yang lebih luas dan lebih terperinci. 

Tes inteligensi merupakan salah satu alat yang digunakan dalam mengasesmen individu (Cohen & Swerdlik, 2009). Definisi dari tes inteligensi terbagi menjadi dua, yaitu definisi tes dan inteligensi.

Loading...

Tes dalam konteks tes psikologi merupakan alat yang digunakan untuk mengukur atribut psikologi pada individu. Contoh atribut psikologi seperti kepribadian, ketertarikan, nilai-nilai, sikap dan inteligensi (Cohen & Swerdlik, 2009). Sedangkan, inteligensi merujuk pada kecerdasan namun terdapat banyak pandangan yang mendefinisikan mengenai inteligensi. Inteligensi diartikan sebagai macam-macam kemampuan yang dimiliki oleh individu yang sesuai dengan rentang usianya (Cohen & Swerdlik, 2009).

Definisi tersebut memberikan gambaran bahwa intelegensi terdiri dari banyak jenis kemampuan dan berbeda tingkat kemampuan pada masing-masing usia. Secara umum, kemampuan-kemampuan tersebut terdiri dari mampu mendapatkan dan menggunakan pengetahuan, berpikir logis, membuat perencanaan yang efektif, mengartikan persepsi, membuat keputusan dan pemecahan masalah, memahami konsep visual, dapat fokus memberikan perhatian, dapat menggunakan intuisi, mengucapkan kata-kata dan memikirkan hal-hal yang sesuai dengan lingkungan serta kemampuan untuk beradaptasi dan menyesuaikan diri pada lingkungan baru (Cohen & Swerdlik, 2009).

Nuraeni (2012) mengemukakan bahwa hingga kini telah banyak tes inteligensi yang disusun oleh para ahli baik tes inteligensi, baik untuk anak-anak maupun orang dewasa. Tes inteligensi juga beraneka ragam, baik disajikan secara individual maupun secara kelompok, tes verbal dan tes performansi, maupun tes inteligensi untuk orang cacat khusus misalnya tuna rungu dan tuna netra. Beberapa bentuk tes inteligensi antara lain:

- Tes inteligensi untuk anak-anak, seperti tes Binet, WISC, WPPSI, CPM, CFIT skala 1 & 2, dan TIKI dasar.

- Tes inteligensi untuk remaja hingga dewasa, seperti TIKI menengah, TIKI tinggi, WAIS, SPM, APM, CFIT skala 3.

- Tes inteligensi untuk tuna rungu seperti, tes SON.

Hasil tes inteligensi umumnya berupa skor IQ (Intelligence Quotient). Meski begitu, ada pula tes inteligensi yang menghasilkan tingkatan atau grade. Pertama kali seorang ahli psikologi berkebangsaan Jerman yaitu William Stern mengemukakan istilah IQ. Kemudian istilah IQ digunakan secara resmi oleh Lewis Madison untuk hasil tes inteligensi Stanford Binet Intelligence Scale di Amerika Serikat pada tahun 1916.

Jika dalam perhitungannya, menurut William Stern menggunakan rasio antara MA dan CA dengan rumus IQ = (MA/CA) x 100. MA mengacu pada mental age, sedangkan CA mengacu pada chronological age yang memiliki angka konstan sebesar 100 (Nuraeni, 2012).

Tes inteligensi sendiri memiliki berbagai macam jenis. Berikut ini merupakan macam-macam tes inteligensi yang turut serta digunakan di Indonesia.

1. Tes Binet.

Tes Binet Simon dipublikasikan pertama kali pada tahun 1905 di Paris-Prancis. Tes ini digunakan untuk mengukur kemampuan mental seseorang. Inteligensi digambarkan oleh Alfred Binet sebagai sesuatu yang fungsional. Komponen dalam inteligensi sendiri terdiri dari tiga hal, yaitu kemampuan untuk mengarahkan pikiran atau tindakan, kemampuan untuk mengubah arah tindakan bila tindakan tersebut telah dilaksanakan dan kemampuan untuk mengkritik diri sendiri. Tes Binet yang digunakan di Indonesia saat ini adalah Stanford Binet Intelligence Scale Form L-M, di mana tes tersebut merupakan hasil revisi ketiga dari Terman dan Merril pada tahun 1960 (Nuraeni, 2012).

Tes Binet dengan skala Stanford–Binet berisi materi berupa sebuah kotak yang berisi berbagai macam mainan yang akan diperlihatkan pada anak-anak, dua buah buku kecil yang berisi cetakan kartu-kartu, sebuah buku catatan yang berfungsi untuk mencatat jawaban beserta skornya, dan sebuah petunjuk pelaksanaan dalam pemberian tes. Pengelommpokkan tes-tes dalam skala Stanford–Binet dilakukan menurut berbagai level usia, dimulai dari usia 2 tahun sampai dengan usia dewasa. Meski begitu, dari masing-masing tes yang berisi soal-soal tersebut memiliki taraf kesukaran yang tidak jauh berbeda untuk setiap level usianya. Skala Stanford–Binet dikenakan secara individual dan pemberi tes memberikan soal-soalnya secara lisan. Meski begitu, skala ini tidak cocok untuk dikenakan pada orang dewasa, sekalipun terdapat level usia dewasa dalam tesnya. Hal ini karena level tersebut merupakan level intelektual dan hanya dimaksudkan sebagai batas-batas dalam usia mental yang mungkin dicapai oleh anak-anak. Skala Stanford-Binet versi terbaru diterbitkan pada tahun 1986. Konsep inteligensi dikelompokkan menjadi empat tipe penalaran dalam revisi terakhir ini dan masing-masing diwakili oleh beberapa tes (Rohmah, 2011).

2. WISC (Wechsler Intelligence Scale for Children).

Tes inteligensi Wechsler Intelligence Scale for Children (WISC) adalah salah satu tes yang sering dan umum digunakan di dunia psikologi serta sering digunakan oleh para psikolog. Wechsler Intelligence Scale for Children dikembangkan oleh David Wechsler yang mempublikasikannya pada tahun 1939, dimana tes ini mengukur fungsi intelektual yang lebih global. Tes inteligensi WISC digunakan untuk tes inteligensi pada anak usia 8-15 tahun. Tes WISC terdiri atas tes verbal dan tes performance. Tes verbal terdiri atas materi perbendaharaan kata, pengertian, informasi, hitungan, persamaan, rentangan angka. Sedangkan tes performance terdiri atas mengatur gambar, melengkapi gambar, rancangan balok, merakit objek, mazes dan simbol. (Mudhar & Rafikayati, 2017).

Melalui Tes WISC dapat mendeskripsikan berbagai aspek kecerdasan anak dan dapat mengukur kemampuan kognitif seseorang dengan melihat pola-pola respon pada tiap-tiap subtes. Andayani (2001) mengungkapkan bahwa kemampuan yang diukur oleh masing-masing subtes antara lain:

- Operasi ingatan jangka-panjang, kemampuan untuk memahami, kapasitas berpikir asosiatif dan juga minat dan bacaan anak.

- Kemampuan anak untuk menggunakan pemikiran praktis didalam kegiatan sosial sehari-hari, seberapa jauh akulturasi sosial terjadi, dan perkembangan conscience atau moralitasnya.

- Kemampuan anak untuk menggunakan konsep abstrak dari angka dan operasi angka, yang merupakan pengukuran perkembangan kognitif, fungsi non-kognitif yaitu konsentrasi dan perhatian, kemampuan menghubungkan faktor kognitif dan nonkognitif dalam bentuk berpikir dan bertindak.

- Kemampuan untuk menerjemahkan masalah dalam bentuk kata-kata ke dalam operasi aritmatika.

- Penyerapan fakta dan gagasan dari lingkungan dan kemampuan melihat hubungan penting yang mendasar dari hal-hal tersebut.

- Kemampuan belajar anak, banyaknya informasi, kekayaan ide, jenis dan kualitas bahasa, tingkat berpikir abstrak, dan ciri proses berpikirnya.

- Identifikasi visual dari objek-objek yang dikenal, bentuk-bentuk, dan makhluk hidup, dan lebih jauh lagi kemampuan untuk menemukan dan memisahkan ciri-ciri yang esensial dari yang tidak esensial.

Setelah itu, akan dibuat profil berdasarkan skala Bannatyne dari skor masing-masing subtes. Profil ini menunjuk pada empat kelompok kemampuan yaitu; (1) Kemampuan spatial yang mencakup skor pada subtes-subtes yaitu melengkapi gambar, rancangan balok, dan merakit objek; (2) Kemampuan konsep yang meliputi skor pada subtes-subtes pengertian, persamaan, dan perbendaharaan kata; (3) Pengetahuan serapan yang meliputi skor pada subtes subtes informasi, hitungan, dan perbendaharaan kata; dan (4) Kemampuan mengurutkan yang mencakup skor pada subtes-subtes rentang angka, mengatur gambar, dan coding (Andayani, 2001).

Melalui profil tersebut dapat memberikan gambaran secara umum bagaimana kemampuan seorang anak serta dapat digunakan untuk mendeteksi kesulitan belajar anak (Andayani, 2001). Beberapa penelitian juga telah menggunakan WISC untuk mengungkap gejala-gejala gangguan klinis pada anak, di antaranya seperti main brain disfunction/brain damage, emotional disturbance, learning disabilities, anxiety, delinquency, dan lain-lain  (Mudhar & Rafikayati, 2017).

3. WPPSI (Wechsler Preschool and Primary Scale of Intelligence).

Wechsler Preschool and Primary Scale of Intelligence (WPPSI) dikembangkan oleh Weschler. Sesuai dengan namanya, alat tes ini dirancang dan ditujukan untuk anak-anak pada usia sebelum masuk sekolah atau anak-anak yang ada pada tingkat taman kanak-kanak, perkiraan usia dimulai dari 2 tahun atau saat anak mulai masuk ke taman kanak-kanak hingga umur 6 tahun saat anak mulai masuk ke sekolah dasar. Alat tes ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kecerdasan anak secara keseluruhan serta dapat juga digunakan untuk mengidentifikasi karakteristik keterlambatan atau kesulitan anak tersebut (Cloudida, 2018).

Atribut psikologis dan kemampuan-kemampuan yang diukur oleh alat tes ini terdiri dari dua penilaian besar, yaitu tes verbal yang mencangkup atas tes kemampuan menerima informasi, kemampuan pemahaman, kemampuan berhitung, kemampuan melihat persamaan dan pengertian; serta tes prestasi yang terdiri  atas rumah  binatang dengan mencocokan nama binatang dan tempat tinggalnya,  penyelesaian  gambar dengan  melengkapi gambar yang kosong,  mencari jejak, bentuk geomteris, labirin dan puzzle balok (Siswina et al., 2016).

Alat tes WPPSI juga dapat digunakan untuk mengidentifikasikan dan mengklasifikasikan anak-anak dengan keterlambatan kemampuan kognitif, mengevaluasi keterlambatan kemampuan kognitif, gangguan intelektual dan autisme. WPPSI juga dapat digunakan untuk menentukan jenis sekolah yang tepat bagi anak hingga melihat apakah anak mengalami kerusakan pada otak (Wechsler, 2012).

4. IST (Intelligenz Struktur Test).

Intelligenz Struktur Test (IST) merupakan alat tes inteligensi yang telah diadaptasi di Indonesia. Tes ini dikembangkan oleh Rudolf Amthaeur di Frankfrurt Main Jerman pada tahun 1953. Intelligenz Struktur Test (IST) terdiri dari sembilan subtes antara lain: Satzerganzung (SE) yaitu melengkapi kalimat, Wortauswahl (WA) yaitu melengkapi kata-kata, Analogien (AN) yaitu persamaan kata, Gemeinsamkeiten (GE) yaitu sifat yang dimiliki bersama, Rechhenaufgaben (RA) yaitu kemampuan berhitung, Zahlenreihen (SR) yaitu deret angka, Figurenauswahl (FA) yaitu memilih bentuk, Wurfelaufgaben (WU) yaitu latihan balok, dan Merkaufgaben (ME) yaitu latihan simbol. Tes IST terdiri dari sembilan sub tes terdiri dari 176 item soal. Waktu pengerjaan yang dibutuhkan dalam penyajian tes IST ini kurang lebih selama 90 menit dengan instruksi yang berbeda-beda pada setiap sub tesnya. Tes IST ini membutuhkan seorang tester yang memiliki keterampilan dalam menyajikan tes dan proses skoring serta interpretasi yang memakan waktu. Tes ini dapat dilakukan secara individual maupun klasikal (Kumolohadi & Suseno, 2012).

Kumolohadi & Suseno (2012) menjelaskan bahwa melalui tes IST, dapat diperoleh skor inteligensi umum dan skor kemampuan khusus secara mendetail yang diungkap dengan sembilan sub tes dalam IST, di antaranya yaitu:

- Sub tes Satzerganzung (SE) mengungkap kemampuan berpikir kongkrit praktis, mengukur keinginan berprestasi, pengambilan keputusan, kemampuan memahami realitas, common sense, pembentukan pendapat/penilaian, dan kemandirian dalam berpikir.

- Sub tes Wortauswahl (WA) mengungkap kemampuan bahasa dengan menangkap inti kandungan makna dari sesuatu yang disampaikan, kemampuan empati serta kemampuan berpikir induktif dengan menggunakan bahasa.

- Sub tes Analogien (AN) mengungkap kemampuan berpikir secara fleksibilitas, kemampuan menghubung-hubungkan atau mengkombinasikan, resistensi, serta kemampuan untuk berubah dan berganti dalam berpikir.

- Sub tes Gemeinsamkeiten (GE) mengukur kemampuan memahami esensi pengertian suatu kata untuk kemudian dapat menemukan kesamaan esensial dari beberapa kata, serta mengukur kemampuan menemukan ciri-ciri khas yang terkandung pada dua objek dalam upaya menyusun suatu pengertian yang mencakup kekhasan dari dua objek tersebut.

- Sub tes Rechhenaufgaben (RA) mengukur kemampuan berpikir logis, kemampuan bernalar, memecahkan masalah praktis dengan berhitung, matematis, dan kemampuan berpikir runtut dalam mengambil keputusan.  

- Sub tes Zahlenreihen (ZR) mengukur kemampuan berhitung dengan didasari pada pendekatan analisis atas informasi faktual yang berbentuk angka sehingga ditemukan suatu kesimpulan.

- Adanya kemampuan mengikuti komponen irama dalam berpikir. Sub tes Figurenauswahl (FA) mengungkap kemampuan membayangkan secara menyeluruh dengan cara dengan menggabung-gabungkan potongan suatu objek visual secara konstruktif sehingga menghasilkan suatu bentuk tertentu.

- Sub tes Wurfelaufgaben (WU) mengukur kemampuan analisis yang turut disertai dengan kemampuan membayangkan perubahan keadaan ruang secara antisipasif. Dalam kemampuan ini terdapat peran imajinasi, kreativitas, fleksibilitas berpikir dan kemampuan menyusun atau mengkonstruksi perubahan.

- Sub tes Merkaufgaben (ME) mengukur daya ingat seseorang yang di dalamnya terdiri dari kemampuan memperhatikan, kemampuan menyimpan atau mengingat dalam waktu lama.

IST adalah alat tes yang kompleks dan memiliki tingkat kesulitan pada tugas-tugas di setiap bagian yang tinggi. Meski begitu, melalui tes IST individu dapat mengetahui IQ total dan per bagian (Kumolohadi & Suseno, 2012).

5. SPM (Standard Progressive Matrices).

Standard Proggressive Matrices (SPM) adalah tes inteligensi yang dirancang oleh J.C Raven pada tahun 1936 serta diterbitkan pertama kali di tahun 1938. SPM yang dijumpai di Indonesia yaitu hasil revisi pada tahun 1960. Tes SPM mengukur kecerdasan orang dewasa. Tes ini mengungkapkan faktor general (G faktor) atau kemampuan umum seseorang. Tes SPM digunakan secara individual atau klasikal dan waktu penyajian yang dibutuhkan 30 menit (Kumolohadi & Suseno, 2012).

Tes SPM memuat 60 soal yang di dalamnya terbagi menjadi lima seri yaitu seri A, B, C, D dan E. Setiap seri terdiri dari 12 soal yang berbentuk gambar-gambar. Setiap soal terdiri dari satu gambar besar yang tidak lengkap dan terdapat pilihan jawaban untuk melengkapi gambar tersebut.  Dalam penyajian tesnya, set A dan B menyediakan enam gambar kecil sebagai pilihan, sedangkan untuk set C, D, dan E, disediakan delapan pilihan. Penyusunan soal bertingkat dari soal  yang  mudah ke soal yang sukar (Rahmadani, 2019).

Secara operasional, subjek diberi soal dan diminta memilih jawaban yang paling tepat serta ia dapat menuliskan jawabannya di lembar jawaban khusus yang telah disediakan. Didalam tes SPM terdapat soal seri A nomor 1 dan 2 sebagai contoh soal sehingga dalam pengerjaannya soal seri A nomor 1 dan 2 dikerjakan oleh subjek bersamaan dengan tester saat memberikan instruksi pengerjaan tes SPM. Subjek harus bekerja dengan cepat dan teliti pada saat tes dimulai sampai akhir tes (Kumolohadi & Suseno, 2012).

Pemberian skor dengan memperoleh nilai 1 untuk aitem soal yang dijawab benar dan memberi nilai 0 untuk jawaban yang tidak benar. Soal seri A nomor 1 dan 2 hanya digunakan sebagai contoh dan harus dipastikan benar sehingga secara teoritis range nilai akan bergerak dari 2 sampai dengan 60. Skor total adalah jumlah jawaban benar yang dapat dikerjakan oleh subjek yang kemudian akan diinterpretasikan secara normatif menurut norma penilaian tes SPM (Kumolohadi & Suseno, 2012).

Raven (dalam Kumolohadi & Suseno, 2012) menjelaskan bahwa tes SPM tidak memberikan skor berupa suatu angka IQ seseorang, melainkan dengan tingkatan (grade) inteligensi menurut besarnya skor total dan usia subjek. Tingkat inteligensi subjek dikelompokkan berdasarkan atas nilai persentil sebagai berikut:

- Grade I yaitu Intellectually superior ditujukan bagi subjek yang memiliki nilai persentil 95 ke atas.

- Grade II yaitu Difenitelly above the avarage in intellectual capacity ditujukan bagi subjek yang memiliki nilai terletak diantara persentil 75 sampai dengan persentil 95.

- Grade III yaitu Intellectually avarage ditujukan bagi subjek yang memiliki nilai terletak diantara persentil 25 sampai dengan 75.

- Grade IV yaitu Difenitelly below the avarage in intellectual capacity ditujukan bagi subjek yang memiliki nilai terletak diantara persentil 5 sampai dengan persentil 25.

- Grade V yaitu Intellectually defective ditujukan bagi subjek yang memiliki nilai yang terletak pada dan di bawah persentil 5.

SPM adalah alat tes yang lebih sederhana dan tugas yang diberikan juga lebih mudah. Namun melalui SPM, seseorang hanya dapat mengetahui kategorisasi atau tingkatan (grade) rata-rata dari inteligensinya (Kumolohadi & Suseno, 2012).

6. APM (Advanced Progressive Matrices).

Tes Advanced Progressive Matrices (APM) dikembangkan oleh Raven yang merupakan tipe tes kedua dari tes yang ia kembangkan. Tes Advanced Progressive Matrices mengukur kinerja intelektual dari mereka yang memiliki inteligensi di atas rata-rata. Selain itu, tes ini juga mampu membedakan secara tajam antara mereka yang tergolong memiliki inteligensi unggul dari yang lainnya. Tes ini terdiri dua set yaitu set I mencangkup 12 soal dengan waktu pengerjaan 5 menit dan tes II mencangkup 36 soal dengan waktu pengerjaan 40 menit. Pemberian soal set I kepada testi ditunjukkan dengan maksud untuk menjelaskan prinsip-prinsip kerjanya, dan kemudian dilanjutkan ke set II dimana pengukuran sebenarnya dilakukan. Soal-soal pada set II meliputi persoalan-persoalan yang mampu menjadi alat pengukur pada proses berpikir tinggi secara analitis sehingga APM berguna untuk mendapatkan gambaran tentang laju kecepatan dan keberhasilan belajar yang mungkin dicapai seseorang didalam suatu bidang studi (Sunarya, 2017).

7. CFIT (Culture Fair Intelligence Test).

Culture Fair Intelligence Test (CFIT) merupakan salah satu tes inteligensi yang sering digunakan oleh psikolog dan lembaga psikologi di Indonesia. Pertama kali Tes inteligensi CFIT ini dikembangkan oleh Raymond B. Cattell pada tahun 1940. Dalam proses administrasinya, Tes CFIT relatif tidak memakan waktu yaitu hanya sekitar 30 menit sehingga tes CFIT populer digunakan di kalangan praktisi (Suwandi, 2015).

Menurut Cattell (dalam Suwandi, 2015) inteligensi terbagi menjadi 2 komponen, yaitu fluid dan crystallized intelligence. Fluid intelligence merupakan kecerdasan yang berasal dari sifat bawaan lahir atau hereditas. Sedangkan crystallized intelligence adalah kecerdasan yang sudah dipengaruhi oleh lingkungan, misalnya kecerdasan yang didapat melalui proses pembelajaran di sekolah. Tes ini dikembangkan sebagai tes non verbal untuk mengukur fluid intelligence (Gf).

Tes CFIT memiliki tiga jenis skala, yaitu: skala 1 ditujukan untuk usia 4 sampai 8 tahun, skala 2 ditujukan untuk usia 8 sampai 13 tahun, dan skala 3 ditujukan untuk individu dengan kecerdasan di atas rata-rata.  Skala 2 dan 3 berbentuk paralel (A dan B) sehingga tes ini yang dapat digunakan untuk pengetesan kembali. Umumnya tes-tes ini dapat diberikan pada sekelompok individu secara kolektif, namun terkecuali beberapa subtes dari skala 1. Skala 1 memiliki delapan subtes, namun yang benar-benar adil secara budaya hanya separuhnya (Suwandi, 2015). Terdapat kemiripan antara skala 2 dan 3 tes CFIT, yang membedakan hanya tingkat kesukarannya. Suwandi (2015) menjelaskan bahwa skala ini terdiri dari empat subtes, yaitu:

- Series terdiri dari 13 item, peserta diinstruksikan untuk melanjutkan gambar secara logis dari 3 gambar yang telah disajikan sebelumnya.

- Classification terdiri dari 14 item, peserta diinstruksikan untuk mencocokan 2 gambar dari setiap seri. Kemudian pada gambar yang cocok dipasangkan bersama.

- Matrice terdiri dari 13 item, peserta diinstruksikan untuk menentukan mana dari 5 alternatif yang paling logis untuk melengkapi pola matriks yang telah disajikan.

- Topology terdiri dari 10 item, peserta diinstruksikan untuk mencari aturan umum dimana titik ditempatkan dengan menyimpulkan aturan dan memilih gambar yang berlaku.

8. Wechsler Adult Intelligence Scale (WAIS).

Wechsler Adult Intelligence Scale (WAIS) dikembangkan oleh David Wechsler. Akibat rasa ketidakpuasan dengan batasan dari teori Stanford-Binet dalam penggunaannya, khususnya dalam pengukuran kecerdasan untuk orang dewasa sehingga dikembangkanlah tes ini. David Wechsler kemudian meluncurkan tes kecerdasan baru yang dikenal sebagai Wechsler Adult Intelligence Scale (WAIS) pada 1955. Tes ini digunakan oleh orang dewasa usia 16-75 tahun atau lebih. Pelaksanaan tes ini dilakukan secara individu (Maarif et al., 2017). WAIS menjadi alat tes yang paling populer karena paling banyak digunakan di dunia saat ini. Tes ini semula bernama Wechsler Bellevue Intellegence Scale (WBIS). Tes intellegensi ini memiliki enam subtes yang terkombinasikan dalam bentuk skala pengukuran ketrampilan verbal dan lima subtes membentuk suatu skala pengukuran ketrampilan tindakan (Rohmah, 2011).

Maarif (2017) menjelaskan materi tes WAIS terbagi menjadi 11 subtes. Ada pun sub-sub tes tersebut terdiri atas:

a. Bentuk Verbal:

1. Informasi

2. Pemahaman

3. Hitungan

4. Persamaan

5. Rantang Angka

6. Perbendaharaan Kata

b. Bentuk Performance:

1. Simbol Angka

2. Melengkapi Gambar

3. Rancang Balok

4. Mengatur Gambar

5. Merakit Objek

9. TIKI (Tes Intelegensi Kolektif Indonesia).

TIKI merupakan akronim dari Tes Intelegensi Kolektif Indonesia. Tes ini diciptakan berdasarkan kerja sama antara Indonesia dan Belanda. Tujuan dari dibuatnya tes ini adalah untuk melihat standar intelegensi di Indonesia serta membuat alat tes intelegensi yang berdasarkan norma Indonesia (Nuraeni, 2012).Tes ini secara keseluruhan dibagi menjadi tiga tes, TIKI Dasar, TIKI Menengah dan TIKI Tinggi.

a. TIKI Dasar.

TIKI Dasar merupakan tes intelegensi yang paling awal dari ketiga tes yang ada. Tes intelegensi ini diperuntukan untuk anak-anak yang ada pada tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama kelas dua. TIKI Dasar mengukur intelegensi dengan berhitung angka, penggabungan bagian, eksklusi gambar, hubungan kata, membandingkan beberapa gambar, labirin/maze, berhitung huruf, mencari pola, eksklusi kata dan terakhir mencari segitiga (Nuraeni, 2012).

b. TIKI Menengah.

TIKI Menengah merupakan alat tes intelegensi kedua dalam rangkai TIKI yang diperuntukkan untuk anak yang berada pada tingkat sekolah menengah pertama kelas tiga hingga sekolah menengah atas. Pada TIKI Menengah, peserta tes akan diminta untuk berhitung angka, penggabungan bagian, menghubungkan kata, eksklusi gambar, berhitung soal, meneliti, membentuk benda, eksklusi kata, bayangan cermin, berhitung huruf, membandingkan beberapa benda dan terakhir adalah pembentukan kata (Nuraeni, 2012).

c. TIKI Tinggi.

TIKI Tinggi menjadi ala tes intelegensi yang termasuk ke dalam rangkaian TIKI yang berada paling akhir dan memiliki tingkat kesusahan yang paling kompleks dalam TIKI. TIKI Tinggi sendiri diperuntukan bagi individu yang ada pada tingkat perguruan tinggi serta orang dewasa. Pada TIKI Tinggi, peserta tes akan diminta untuk berhitung angka, penggabungan bagian, menghubungkan kata, abstraksi non verbal, deret angka, meneliti, membentuk benda, eksklusi kata, bayangan cermin, menganalogi kata, bentuk tersembunyi dan terakhir adalah pembentukan kata (Nuraeni, 2012).

10. CPM (Coloured Progressive Matrices).

CPM atau Coloured Progressive Matrices merupakan salah satu alat tes yang dibuat oleh Raven. CPM sendiri merupakan alat tes yang dibuat dikarenakan adanya keperluan pengetesan intelegensi pada anak-anak yang tidak dapat menggunakan alat tes Raven sebelumnya yaitu SPM atau Standart Progressive Matrices. Hal tersebut menjadikan CPM dapat digunakan pada anak-anak dengan rentang usia lima sampai sebelas tahun dan orang dewasa namun dengan syarat memiliki tingkat pendidikan yang rendah. perbedaan yang mendasar antara SPM dan CPM adalah adanya warna pada alat tes CPM (Nuraeni, 2012).

11. SON.

SON merupakan akronim dari Snijders Oomen Non Verbal Scale. SON merupakan salah satu tes inteligensi non verbal digunakan untuk individu dengan rentan usia 3 – 16 tahun. Alat tes ini juga tidak hanya sebatas untuk individu dalam kondisi normal namun juga dapat digunakan untuk individu dengan disabilitas seperti tunarungu. Alat tes ini dapat digunakan oleh individu dengan tunarungu dikarenakan tes SON berbentuk puzzle dan rangkaian gambar yang perlu dicocokan dan peserta tidak dituntut untuk menjawab perintah yang diberikan.  SON sendiri dirancang mulai pada tahun 1939 – 1942, di Amsterdam dan kemudian dalam perkembangannya banyak dilakukan revisi-revisi pada aitem alat tes ini (Nuraeni, 2012).

Source





Pilih Reaksi Kamu
  • Senang

    0%

  • Ngakak!

    0%

  • Wow!

    0%

  • Sedih

    0%

  • Marah

    0%

  • Love

    0%

Loading...

RECOMMENDED VIDEO

Wave white

Subscribe ke akun YouTube Brilio untuk tetap ter-update dengan konten kegemaran Milenial lainnya

MORE
Wave red