Brilio.net - Kebersihan menjadi sebuah hal sederhana namun penting untuk dijaga. Mungkin ajakan untuk menjaga kebersihan sudah terlalu sering kamu dengar. Mulai dari kecil hingga dewasa, banyak imbauan agar kita selalu menjaga kebersihan. Baik itu kebersihan diri sendiri maupun lingkungan harus kita jaga dengan baik. Sebab, ketika kebersihan disepelekan akan menimbulkan berbagai permasalahan baru.

Beragam penyakit dan kerugian bisa mengintaimu ketika tidak menjaga kesehatan tubuh. Dari gangguan kulit terasa gatal, iritasi, sampai gangguan pernapasan serius bisa timbul akibat lalai dalam menjaga kebersihan. Bahkan tidak hanya kamu yang rugi, orang-orang yang ada di sekitarmu juga bisa merasakan dampak penyakit itu.

Menjaga kebersihan bisa dimulai dari cara yang sederhana yaitu dengan rutin mandi. Ya, mandi memberikan banyak manfaat pada tubuh kita. Kesegaran setelah mandi bisa membuat kamu menjadi lebih tenang, fokus, dan juga meredakan rasa stres. Selain itu rajin membersihkan diri dengan mandi juga bisa membersihkan kotoran pada tubuh yang menyebabkan aroma tidak sedap pada tubuh.

Nilai pentingnya menjaga kebersihan, juga sudah ditanamkan dalam setiap agama, termasuk dengan agama Islam. Agama Islam adalah agama yang mencintai kebersihan. Tentu kamu sudah pernah mendengar slogan 'kebersihan adalah sebagian dari iman', kan? Maka dari itu sebagai muslim yang baik hendaknya kita selalu menjaga kebersihan, terutama kebersihan diri sendiri.

Biasanya kita akan melakukan wudhu untuk menghilangkan hadas kecil sebelum mengerjakan sholat ataupun ibadah lainnya. Namun ada beberapa waktu atau kondisi di mana diri kita diharuskan untuk melakukan mandi junub, mandi besar ataupun mandi wajib agar suci dari hadas besar. Waktu-waktu tersebut adalah saat berhentinya darah haid, nifas dan setelah melakukan jima'.

Begini penjelasan lengkapnya, seperti dihimpun brilio.net dari berbagai sumber pada Jumat (27/3).

Hal-hal yang menyebabkan mandi wajib.

foto: unsplash.com

Ada beberapa hal yang menyebabkan seseorang harus melakukan mandi wajib. Faktor tersebut bisa dilakukan baik oleh laki-laki ataupun wanita. Maka dari itu pahami yuk apa saja faktor yang menyebabkan seseorang harus melakukan mandi wajib.

1. Keluarnya mani dengan syahwat.

Ada beberapa dalil yang menunjukkan seseorang yang mengeluarkan mani dengan syahwat, harus melakukan mandi wajib, di antaranya:

Loading...

"Wa in kuntum junuban fattahharu."
Artinya:
Dan jika kamu junub maka mandilah." (QS. Al Maidah: 6)

"Y ayyuhallana man l taqrabu-alta wa antum sukr att ta'lam m taqlna wa l junuban ill 'bir sablin att tagtasil,"
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi." (QS. An Nisa’: 43)

Niat mandi wajib setelah syahwat.

"Bismillahirrahmaanirrahiim nawaitul ghusla liraf'il hadatsil akbar minal janabati fardlon lillahi ta'ala."
Artinya:
"Dengan menyebut nama Allah aku niat mandi untuk menghilangkan hadas besar dari jinabah, fardlu karena Allah Ta'ala."

Setelah membaca niat, lakukan ritual pembersihan dengan tata cara mandi wajib yang sudah dijabarkan sebelumnya.

2. Berhubungan badan walaupun tidak keluar mani.

Mengenai faktor ini 'Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata:

"Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang seorang laki-laki yang menyetubuhi istrinya namun tidak sampai keluar air mani. Apakah keduanya wajib mandi? Sedangkan Aisyah ketika itu sedang duduk di samping, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Aku sendiri pernah bersetubuh dengan wanita ini (yang dimaksud adalah Aisyah) namun tidak keluar mani, kemudian kami pun mandi." (HR. Muslim no. 350)

3. Berhentinya darah haid dan nifas.

Penjelasan mengenai kondisi ini diterangkan dalam hadist 'Aisyah radhiyallahu 'anha, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata pada Fathimah binti Abi Hubaisy.
"Apabila kamu datang haid hendaklah kamu meninggalkan sholat. Apabila darah haid berhenti, hendaklah kamu mandi dan mendirikan sholat." (HR. Bukhari no. 320 dan Muslim no. 333).

4. Ketika orang kafir masuk Islam.

Dalil yang menjelasan mengenai faktor ini terdapat dalam hadist dari Qois bin 'Ashim radhiyallahu 'anhu.

"Beliau masuk Islam, lantas Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkannya untuk mandi dengan air dan daun sidr (daun bidara)." (HR. An Nasai no. 188, At Tirmidzi no. 605, Ahmad 5/61. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

5. Kematian.

Dalam poin ini yang dimaksud adalah orang yang masih hidup wajib memandikan oang yang mati. Sebagian ulama menyatakan memandikan orang mati memiliki hukum fardhu kifayah, artinya jika sebagian orang sudah melakukannya, maka yang lain gugur kewajibannya.

Dalil mengenai memandikan jenazah salah satunya perintah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Ummu 'Athiyah dan kepada para wanita yang melayat untuk memandikan anaknya.

"Mandikanlah dengan mengguyurkan air yang dicampur dengan daun bidara tiga kali, lima kali atau lebih dari itu jika kalian anggap perlu dan jadikanlah yang terakhirnya dengan kafur barus (wewangian)." (HR. Bukhari no. 1253 dan Muslim no. 939).

2 dari 6 halaman


Mandi wajib karena haid dan nifas.

foto: unsplash.com

Haid merupakan siklus bulanan yang dialami oleh seorang wanita. Kondisi ini juga dikenal dengan siklus menstruasi, membuat seorang wanita tidak diizinkan untuk melaksanakan ibadah sholat. Selama kurang lebih satu minggu, perempuan juga tidak diizinkan untuk melakukan puasa.

Namun jika siklus ini sudah selesai, maka wajib bagi seorang perempuan agar segera melakukan mandi wajib. Hal ini bertujuan untuk membersihkan diri dari hadas kecil dan hadas besar. Sehingga ia dapat kembali menjalankan ritual ibadah kepada Allah SWT.

Dalil yang mengharuskan seorang wanita melakukan mandi wajib setelah haid dan nifas terdapat dalam Alquran surat Al- Baqarah ayat 222 yang artinya, "Dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu."

Nifas sendiri adalah keluarnya darah dari rahim wanita saat melahirkan atau setelah melahirkan. Masa nifas kurang lebih 40 hari. Sama seperti wanita yang sedang haid, seorang wanita yang sedang nifas tidak diperbolehkan untuk melakukan sholat dan puasa.

Mandi wajib karena jima'

Jima' dalam Alquran memiliki arti bersetubuhnya suami istri, atau bertemunya dua kemaluan walau tidak adanya air mani atau juga keluarnya air mandi walaupun tidak bertemunya dua kemaluan.

Setelah melakukan jima', seorang muslim diwajibkan untuk melakukan mandi wajib. Hal ini dijelaskan pada hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim yang berbunyi, "Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda 'Jika seseorang duduk di antara empat anggota badan istrinya (menyetubuhinya) lalu bersungguh-sungguh kepadanya, maka wajib baginya mandi'." Kemudian dalam riwayat Muslim juga terdapat tambahan "Walaupun tidak keluar air mani".

Keluarnya air mani meski tidak adanya pertemuan antara dua kemaluan juga diwajibkan untuk mandi junub. Dari Abu Sa'id Al- Khudri ra, Nabi Muhammad SAW bersabda, "Sesungguhnya (mandi) dengan air disebabkan karena keluarnya air (mani)." (HR. Muslim, no.343).

3 dari 6 halaman

Niat mandi wajib.

foto: freepik.com

Sama halnya dengan berwudhu, seseorang yang hendak melakukan mandi wajib diharuskan untuk membaca niat mandi junub. Lafal mandi junub pun mempunyai perbedaan berdasarkan kondisi penyebabnya.

Niat mandi wajib setelah haid.

Nawaitu ghusla liraf'i hadasil haidhil fardhal lillaahi ta'aalaa
Artinya: Aku berniat mandi besar untuk menghilangkan hadas besar, wajib karena Allah ta'aalaa.

Niat mandi wajib setelah nifas.

Nawaitu ghusla liraf'i hadasin nifaasi lillaahi Ta'aalaa
Artinya: Aku berniat mandi wajib untuk menyucikan hadas besar dari nifas karena Allah Ta'aalaa.

Niat mandi wajib setelah jima'.

Nawaitu ghusla liraf'il hadasil akbari minal janabati fardhu lillaahi ta'aalaa
Artinya: Aku berniat mandi wajib untuk menghilangkan hadas besar dari jinabah, wajib karena Allah Ta'aalaa.

4 dari 6 halaman


Tata cara mandi wajib.

foto: freepik.com

Dalam Alquran kata mandi memiliki makna mengguyur seluruh badan dengan air yang terdapat pada kalimat 'fath- thaharu' artinya 'mandilah'.

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah menjadikan bersuci untuk seluruh badan dan tidak ada satu anggota badan yang dikhususkan. Mandi tidak hanya dilakukan dengan mengusap tetapi membasuh atau mencuci seluruh anggota badan luar dengan air, termasuk pula rambut baik yang tebal maupun tipis.

Dalam hadits dari Ibnu 'Abbas berkata bahwa Maimunah mengatakan, "Aku pernah menyediakan air mandi untuk Rasulullah SAW. Lalu beliau menuangkan air pada kedua tangannya dan mencuci keduanya dua kali atau tiga kali. Lalu dengan tangan kanannya beliau menuangkan air pada telapak tangan kirinya, kemudian beliau mencuci kemaluannya.

Setelah itu beliau menggosokkan tangannya ke tanah. Kemudian beliau berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung. Lalu beliau membasuh muka dan kedua tangannya. Kemudian beliau membasuh kepalanya tiga kali dan mengguyur seluruh badannya. Setelah itu beliau bergeser dari posisi semula lalu mencuci kedua telapak kakinya (di tempat yang berbeda)." (HR. Bukhari no. 265 dan Muslim no.317).  

5 dari 6 halaman

Tata mandi  wajib untuk laki-laki.

foto: unsplash.com

Untuk tata caranya sendiri tidak ada banyak perbedaan. Kecuali perbedaan lafal niat yang dikarenakan perbedaan penyebab mandi wajib. Berikut tata cara mandi wajib bagi pria yang bisa kamu ikuti.

1. Niat.
Niat menjadi langkah awal yang bisa dilakukan dalam memulai setiap kegiatan. Dengan mengucap niat, seseorang bisa menjadi lebih berkonsentrasi dalam menjalankan sebuah amalan. Tidak banyak perbedaan niat yang diucapkan seperti mandi biasa. Namun kamu bisa melafalkan niat mandi besar untuk laki-laki seperti berikut.

"Bismillahirrahmaniraahim nawaitul ghusla liraf'il hadasil akar minal janabati fardlon lillahi ta'ala"
Artinya:"Dengan menyebut nama Allah aku niat mandi untuk menghilangkan hadas besar dari jinabah, fardlu karena Allah Ta'ala.

Jika sudah membaca niat, yang perlu kamu lakukan selanjutnya adalah melakukan mandi wajib dengan mengikuti tahap berikut.

2. Membasuh tangan sebanyak 3 kali
3. Membasuh alat kelamin dari kotoran dan najis
4. Mencuci tangan dengan sabun agar bersih kembali setelah membasuh kotoran
5. Mengambil wudu sebagaimana biasa
6. Membasuh keseluruhan rambut di kepala dengan mengguyurnya sebanyak 3 kali
7. Siram anggota badan sebelah kanan hingga tiga kali
8. Kemudian siram anggota badan pada bagian kiri sebanyak tiga kali juga
9. Menggosok bagian tubuh sebanyak tiga kali, terutama bagian yang sulit seperti pusat, ketiak, lutut dan lain-lain supaya terkena air
10. Kamu bisa melanjutkannya dengan mandi seperti biasa

Tidak sulit untuk melakukan mandi wajib bagi seorang pria. Jika tahapan tersebut dipahami, akan lebih mudah dalam menerapkan pada kehidupan sehari-hari. Begitu juga pada penerapan mandi wajib untuk perempuan. Hanya saja, terdapat bacaan niat yang berbeda di antara keduanya.

6 dari 6 halaman

Tata cara mandi wajib pada perempuan.

foto: unsplash.com

Perempuan biasanya kerap menerapkan mandi wajib ketika selesai mengalami siklus menstruasi atau haid. Pada setiap bulannya, perempuan diwajibkan melakukan mandi wajib setelah menyelesaikan siklus haid. Hal ini dilakukan agar perempuan bisa kembali menjalankan ibadah dalam keadaan suci.

1. Niat.

Maka perempuan bisa membaca niat mandi wajib sebagai berikut.

"Bismillahirrahmanirrahim nawaitu ghusla liraf'il hadasil akbar minan nifasi fardlon lillahi ta'ala"
Artinya: "Dengan menyebut nama Allah aku niat mandi untuk menghilangkan hadas besar dari nifas, fardlu karena Allah Ta'ala."

2. Membasuh tangan sebanyak 3 kali
3. Membasuh alat kelamin dari kotoran dan najis.
4. Mencuci tangan dengan sabun agar bersih kembali setelah membasuh kotoran
5. Mengambil wudu sebagaimana biasa
6. Membasuh keseluruhan rambut di kepala dengan mengguyurnya sebanyak 3 kali.
7. Siram anggota badan sebelah kanan hingga tiga kali,
8. Kemudian siram anggota badan pada bagian kiri sebanyak tiga kali juga.
9. Menggosok bagian tubuh sebanyak tiga kali, terutama bagian yang sulit seperti pusat, ketiak, lutut dan lain-lain supaya terkena air.
10. Kamu bisa melanjutkannya dengan mandi seperti biasa

Selain niat yang berbeda, tata cara mandi wajib pada perempuan juga memiliki keistimewaan lain. Bagi perempuan yang memiliki rambut panjang, kamu tidak wajib untuk mengurai rambut saat melakukan mandi besar. Sebagaimana yang terdapat pada hadits, dari Ummu Salamah beliau bertanya kepada Nabi Muhammad SAW,

"Wahai Rasulullah, aku seorang perempuan yang gelungan rambutnya besar. Apakah aku harus membuka gelungan rambutku ketika mandi junub?"

Nabi Muhammad SAW menjawab: "Jangan (kamu buka). Cukuplah kamu menyela-nyelai kepalamu dengan air tiga kali, kemudian guyurlah kepala dan badanmu dengan air, sehingga kamu telah suci." (HR. Muslim no. 330).

Begitulah tata cara mandi wajib yang disunnahkan agar lebih sempurna. Tentunya setelah mengetahui harus kita realisasikan dalam kehidupan, karena ilmu tanpa amal seperti pohon yang tak berbuah tidak ada manfaatnya. Dan dengan begitu kita akan suci dari hadas besar dengan sempurna. Sehingga amal ibadah yang kita lakukan dapat diterima oleh Allah SWT. Aamiin allahumma aaamiiinnn.