×
Sign in

Hello There

Sign In to Brilio

Welcome to our Community Page, a place where you can create and share your content with rest of the world

  Connect with Facebook   Connect with Google
Duh, terobsesi dengan makanan sehat bisa bikin gejala gangguan makan!

View Image

0

BRILIO » Life

Duh, terobsesi dengan makanan sehat bisa bikin gejala gangguan makan!

Untuk membedakan mereka yang memang berpola hidup sehat secara 'normal' dengan penderita orthorexia nervosa memang agak sulit dibedakan.

12 / 04 / 2015

Brilio.net - Kamu suka menerapkan pola makan sehat? Hal ini memang sangat bermanfaat bagi kesehatanmu. Tapi, guys, kali ini kamu perlu mengkroscek kembali apakah pola hidup sehatmu terkait konsumsi makanan sehat itu dalam taraf normal atau justru sebaliknya?

Adalah orthorexia nervosa atau gangguan makan makanan sehat yang akan dibahas dalam artikel ini. Istilah tersebut diambil dari bahasa Yunani, yaitu 'ortho' berarti lurus, tepat, benar.

Beberapa waktu belakangan, gencar di mana-mana gerakan hidup sehat, dari mulai olahraga, gowes, yoga, sampai modifikasi pola makan. Untuk pola makan sendiri, banyak yang mulai menerapkan mengonsumsi makanan yang bersih, pengolahan juga lebih diperhatikan, bahkan ada yang memilih makanan rebus atau mentah demi tidak terimbas penyakit-penyakit berbahaya.

Dikutip brilio.net dari dailymail.co.uk, Minggu (12/4), ternyata, fenomena tersebut telah menjadi perhatian seorang dokter dari Amerika, Steven Bratman. Pada tahun 1997, dia mencetuskan istilah orthorexia nervosa untuk obsesi tidak sehat terhadap makan makanan yang 'tepat' atau 'benar'.

Jadi, bagi mereka yang terobsesi dengan makanan mentah, mereka benar-benar memakan bahan makanan tanpa dipanaskan di atas 44 derajat celcius, sehingga semua enzim hidup dalam makanan tetap utuh. Mereka juga tidak menyertakan bahan makanan dengan kandungan gluten (protein yang secara alami terkandung dalam hampir semua jenis serealia atau biji-bijian), susu, daging, maupun gula.

Loading...

Nah, untuk membedakan mereka yang memang berpola hidup sehat secara 'normal' dengan penderita orthorexia nervosa memang agak sulit dibedakan. Berikut gejala yang bisa diketahui dari penderita orthorexia nervosa:

1. Perasaan tertekan karena merasa wajib harus makan makanan yang bersih, mentah, dan pengolahan yang tak terlalu aneh-aneh.

2. Merasa sangat bersalah ketika memakan roti

3. Rasa cemas harus segera memakan sayur-sayuran yang segera dihidangkan selama makan

4. Hanya mau makan di rumah karena bisa mengontrol ketat pola makan ketimbang ketika makan di luar bersama teman atau kerabat

Bila gejala-gejala itu terus berlanjut, akan mempengaruhi hubungan dengan anggota keluarga dan teman-teman. Semakin mengkhawatirkan bila mempengaruhi kondisi psikologis mereka.

Orthorexia nervosa bukanlah gangguan makan yang diakui secara klinis, namun para peneliti telah mengembangkan dan menguji kuesioner pada berbagai populasi untuk mendapatkan ide terkait. Sebut saja seperti penelitian di Italia. Di sana sudah dikembangkan alat ukur bernama ORTO-15 pada tahun 2005. Alat ukur ini menggunakan patokan skor cut-off di bawah 40 untuk menandakan orthorexia nervosa. Sedangkan skor di atas 40 bisa menandakan kecenderungan perilaku makan patologis dan atau ciri-ciri kepribadian obsesif-fobia.

Pertanyaan dalam kuesioner ORTO-15 mencakup misalnya, Apakah pikiran tentang makanan mengkhawatirkan kamu lebih dari tiga jam per hari?' dan 'Apakah kamu merasa bersalah ketika melanggar aturan makan sehat?

Dari hasil survei alat ukur ini, peneliti Italia menemukan prevalensi (jumlah keseluruhan kasus penyakit yang terjadi pada suatu waktu tertentu di suatu wilayah) orthorexia nervosa sebanyak 57,6 persen, dengan perbandingan rasio wanita dibandingkan pria adalah 2:1. Tapi, saat menggunakan standar cut-off 35, prevalensi turun menjadi 21 persen. Kebanyakan penelitian telah dilakukan pada populasi sub-kelompok yang mungkin mengalami peningkatan risiko orthorexia nervosa, misalnya saja para profesional kesehatan.

Pemberlakuan ORTO-15 dengan standar cut-off 40 di Turki menunjukkan prevalensi orthorexia nervosa pada kalangan dokter sebesar 45,5 persen, kalangan seniman sebesar 56,4 persen. Selain itu, di Spanyol, pemberlakuan alat ukur dan standar yang sama menunjukkan bahwa profesi guru yoga mengalami orthorexia nervosa sebesar 86 persen. Sedangkan bila menggunakan alat ukur lain, yaitu Bratman test, 12,8 persen ahli gizi di Austria dinyatakan memiliki orthorexia nervosa.

Nah, buat kamu yang ingin menguji diri sendiri termasuk mengalami gangguan makan ini atau tidak, bisa cek langsung di situs resmi European Food Information Council, hwww.eufic.org. Selamat mencoba dan selalu hidup sehat yang benar-benar 'sehat', ya!





Pilih Reaksi Kamu
  • Senang

    100%

  • Ngakak!

    0%

  • Wow!

    0%

  • Sedih

    0%

  • Marah

    0%

  • Love

    0%

Loading...

RECOMMENDED VIDEO

Wave white

Subscribe ke akun YouTube Brilio untuk tetap ter-update dengan konten kegemaran Milenial lainnya

MORE
Wave more