×
Sign in

Hello There

Sign In to Brilio

Welcome to our Community Page, a place where you can create and share your content with rest of the world

  Connect with Facebook   Connect with Google
Tak ada di Timur Tengah, ini 4 tradisi Idul Fitri unik di Indonesia

0

News

Tak ada di Timur Tengah, ini 4 tradisi Idul Fitri unik di Indonesia

Istilah Halal Bihalal, ketupat, dan mudik hanya dijumpai di Indonesia pada saat Hari Raya Idul Fitri.

Disclaimer

Artikel ini merupakan tulisan pembaca Brilio.net. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Silakan klik link ini untuk membaca syarat dan ketentuan creator.brilio.net. Jika keberatan dengan tulisan yang dimuat di Brilio Creator, silakan kontak redaksi melalui e-mail redaksi@brilio.net

Ilham Sofyan

12 / 06 / 2019 11:51

Keberagamam budaya serta tradisi Nusantara menjadi ciri khas tersendiri bangsa Indonesia. Sejak Islam pertama kali masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M, sudah banyak akulturasi budaya antara Islam dengan Nusantara yang masih ada sampai sekarang. Hal ini menjadi contoh bahwa kearifan lokal sangat dijunjung tinggi dan diwariskan turun-temurun oeh para pendahuu. Keberagaman budaya dan agama menjadi kelebihan tersendiri bagi bangsa Indonesia dibanding negara-negara lain.

Begitu juga dalam momen Lebaran (Hari raya Idul Fitri), beberapa tradisi masih dilakukan sampai sekarang demi menjaga kelestarian dan kemuliaan hari kemenangan itu sendiri. Beberapa daerah bahkan mempunyai cara unik sendiri, seperti di Bali dengan tradisi saling memberi makanan antar tetangga atau biasa disebut Ngejot.

Berikut ini 4 tradisi Lebaran yang masih dipegang kebanyakan masyarakat Nusantara yang beragama Islam.

1. Mudik.

Tak ada di Timur Tengah, ini 4 tradisi Idul Fitri unik di Indonesia

Loading...

Foto : Instagram.com/gotravel_id

Mudik secara sederhana berarti pulang ke kampung halaman. Dosen Sejarah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Silverio Raden Lilik Aji Sampurno mengungkapkan, mudik sudah ada sejak zaman Majapahit dan Mataram Islam. Dulu wilayah kekuasaan Majapahit sampai Sri Langka dan Semenanjung Malaya. "Selain berawal dari Majapahit, mudik juga dilakukan oleh pejabat dari Mataram Islam yang berjaga di daerah perbatasan. Terutama mereka kembali untuk menghadap Raja pada Idul Fitri," kata dia.

"Mudik menurut orang Jawa itu kan dari kata Mulih Disik yang bisa diartikan pulang dulu. Hanya sebentar untuk melihat keluarga setelah mereka menggelandang (merantau)," ujar Silverio. Selain itu, masyarakat Betawi mengartikan mudik sebagai "kembali ke udik". Dalam bahasa Betawi, kampung itu berarti udik. Saat orang Jawa hendak pulang ke kampung halaman, orang Betawi menyebut "mereka akan kembali ke udik". Akhirnya, secara bahasa mengalami penyederhanaan kata dari "udik" menjadi "mudik".

 

2. Takbir Keliling.

Tak ada di Timur Tengah, ini 4 tradisi Idul Fitri unik di Indonesia

Foto : ext4ever.tumblr.com

Mulai ba'da Maghrib menjelang sholat idul Fitri, umat Islam beramai-ramai mengumandangkan takbir sebagai bentuk syukur dan isyarat agama menyambut hari kemenangan. Tradisi yang masih langgeng yaitu dengan menabuh bedug dengan bermacam-macam hiasan berkeliling sambil menggemakan suara takbir. Kegembiraan bertambah dengan adanya iringan bedug dan pesona kembang api saat malam takbiran.

Rasululllah SAW pernah bersabda, "Perbanyaklah membaca takbiran pada malam hari raya (fitri dan adha) karena hal dapat melebur dosa-dosa." (HR. Bukhori dan Musim).

 

3. Halal Bihalal.

Tak ada di Timur Tengah, ini 4 tradisi Idul Fitri unik di Indonesia

Foto : ext4ever.tumblr.com

Halal Bihalal menjadi media untuk saling meminta maaf antar sesama umat Islam. Ada cerita menarik dibalik tradisi yang satu ini. Pada tahun 1948, Indonesia mengalami problematika politik besar dan ditambah beberapa kasus pemberontakan yang ada. Di tahun yang sama Bung Karno memanggil KH Wahab Chasbullah ke Istana Negara untuk dimintai pendapat dan sarannya untuk mengatasi situasi politik Indonesia yang tidak sehat. Kemudian Kiai Wahab memberi saran kepada Bung Karno untuk menyelenggarakan Silaturrahim, sebab sebentar lagi Hari Raya Idul Fitri, dimana seluruh umat Islam disunahkan bersilaturrahmi.

Lalu Bung Karno menjawab, "Silaturrahmi kan biasa, saya ingin istilah yang lain".

"Itu gampang", kata Kiai Wahab. "Begini, para elit politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu kan dosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturrahmi nanti kita pakai istilah 'halal bi halal'", jelas Kiai Wahab.

Tapi istilah "halal bi halal" ini secara nyata dicetuskan oleh KH. Wahab Chasbullah dengan analisa pertama (thalabu halâl bi tharîqin halâl) adalah mencari penyelesaian masalah atau mencari keharmonisan hubungan dengan cara mengampuni kesalahan. Atau dengan analisis kedua (halâl "yujza'u" bi halâl) adalah pembebasan kesalahan dibalas pula dengan pembebasan kesalahan dengan cara saling memaafkan.

Dari Abdullah bin Umar, dari Rasulullah SAW bersabda; "Orang yang menyambung silaturahmi itu, bukanlah yang menyambung hubungangan yang sudah terjalin, akan tetapi orang yang menyambung silaturahmi ialah, ialah orang yang menjalin kembali hubungan kekerabatan yang sudah terputus". (HR. Bukhori).

 

4. Ketupat.

Instagram.com

Foto : Instagram.com/Tribunnews

Ketupat sendiri bisa dibilang sajian wajib saat lebaran. Ketupat biasa dihidangkan dengan opor ayam sebagai lauknya. Tradisi Ketupat (kupat) lebaran menurut cerita adalah simbolisasi ungkapan dari bahasa Jawa ku = ngaku (mengakui) dan pat = lepat (kesalahan) yang digunakan oleh Sunan Kalijaga dalam mensyiarkan ajaran Islam di Pulau Jawa yang pada waktu itu masih banyak yang meyakini kesakralan kupat.

Asilmilasi budaya dan keyakinan ini akhirnya mampu menggeser kesakralan ketupat menjadi tradisi Islami ketika ketupat menjadi makanan yang selalu ada di saat umat Islam merayakan lebaransebagai momen yang tepat untuk saling meminta maaf dan mengakui kesalahan. Asal usul ketupat yang beraal saat masa Sunan Kalijaga juga dibenarkan oleh sejarawan kuliner sekaligus penulis buku "Jejak Rasa Nusantara: Sejarah Makanan Indonesia", Fadly Rahma.

Menurutnya ketupat itu berasal dari masa hidup Sunan Kalijaga, tepatnya di masa syiar Islamnya pada abad ke-15 hingga 16. Sunan Kalijaga menjadikan ketupat sebagai budaya sekaligus filosofi Jawa yang berbaur dengan nilai ke-Islaman. Beliau membudayakan dua kali Bakda, yaitu Bakda Lebaran dan Bakda Kupat. Bakda Kupat dimulai seminggu sesudah Lebaran. Pada hari yang disebut Bakda Kupat tersebut, di tanah Jawa waktu itu hampir setiap rumah terlihat menganyam ketupatdari daun kelapa muda. Setelah sudah selesai dimasak, kupat tersebut diantarkan ke kerabat yang lebih tua, menjadi sebuah lambang kebersamaan.

Ketupat sendiri menurut para ahli memiliki beberapa arti. Pertama, mencerminkan berbagai macam kesalahan manusia, dilihat dari rumitnya anyaman bungkus ketupat. Yang kedua, mencerminkan kebersihan dan kesucian hati setelah mohon ampun dari segala kesalahan, dilihat dari warna putih ketupat jika dibelah dua. Yang ketiga mencerminkan kesempurnaan, jika dilihat dari bentuk ketupat. Semua itu dihubungkan dengan kemenangan umat Muslim setelah sebulan lamanya berpuasa dan akhirnya menginjak hari yang fitri.

Kreasi ketupa serta istilah diberbagai daerah berbeda-beda seperti di kota Solo dengan sebutan Ketupat cabuk ramba, ketupat nasi yang diiris tipis-tipis, dan disiram dengan sedikit sambal wijen (dicampur kemiri dan kelapa parut yang terlebih dulu digongseng). Ditambah sabal dan kerupuk nasi/karak yang sangat khas.

 

Source





Pilih Reaksi Kamu
  • Senang

    0%

  • Ngakak!

    0%

  • Wow!

    0%

  • Sedih

    0%

  • Marah

    0%

  • Love

    0%

Tags

Loading...

RECOMMENDED VIDEO

Wave white

Subscribe ke akun YouTube Brilio untuk tetap ter-update dengan konten kegemaran Milenial lainnya

MORE
Wave red