×
Sign in

Hello There

Sign In to Brilio

Welcome to our Community Page, a place where you can create and share your content with rest of the world

  Connect with Facebook   Connect with Google
Sering mengonsumsi bubble tea? Kenali bahayanya bagi kesehatan

0

Kesehatan

Sering mengonsumsi bubble tea? Kenali bahayanya bagi kesehatan

Minuman populer ini banyak disukai oleh anak muda. Tetapi di balik rasanya yang enak terdapat sejumlah bahaya yang perlu kamu ketahui.

Disclaimer

Artikel ini merupakan tulisan pembaca Brilio.net. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Silakan klik link ini untuk membaca syarat dan ketentuan creator.brilio.net. Jika keberatan dengan tulisan yang dimuat di Brilio Creator, silakan kontak redaksi melalui e-mail redaksi@brilio.net

dede atika

30 / 12 / 2019 17:30

Menurut Sally Kuzemchak yang dilansir dari blogs.webmd.com, bubble tea berasal dari seorang pemilik kedai teh bernama Liu Han-Chieh di Taiwan pada tahun 1998 yang sedang bosan. Ia kemudian mencampur puding tapioka ke dalam es teh yang ternyata rasanya enak dan menambahkan percobaannya ke menunya. Sebuah tren baru muncul, menyebar ke seluruh Taiwan dan sekitarnya. Singkat cerita, sekarang buble tea muncul di seluruh belahan dunia. 

Bubble tea adalah salah satu minuman kekinian yang populer bagi sebagian masyarakat Indonesia. Bubble tea juga dikenal sebagai pearl atau boba. Perpaduan tekstur yang kenyal dan rasa sedikit manis membuat bubble pearl disukai banyak lidah berbagai negara. Negara penggemar bubble tea mulai dari China, Korea Selatan, Filipina, Indonesia, Kanada, Amerika Serikat, dan beberapa negara di Eropa.

Namun, mengonsumsi bubble tea berlebihan ternyata dianggap berbahaya bagi kesehatan. Bubble tea terbuat dari tepung kanji atau tepung tapioka dengan tambahan  gula. “Tapioka mengandung pati resisten yang tidak dapat dicerna tubuh,” demikian  menurut laman Healthline.

Secangkir bubble tea mengandung 540 kalori dan karbohidrat dari pati. Terbukti seorang remaja 14 tahun asal China di Provinsi Zhejiang mengalami gangguan pencenaan lantaran kerap mengonsumsi bubble tea. Dokter menemukan butiran bola-bola dalam hasil pindaian tomografi terkomputerisasi (CT). Untungnya hal itu dapat diatasi dengan meminum obat pencahar untuk mengatasi masalah tersebut.

Apa saja bahaya di balik minuman bubble tea?

Loading...

Segelas bubble atau bulatan tapioka sebanyak seperempat gelas. Bubble berukuran 250 ml seukuran bubble 350 ml dan dua setengah segelas gula susu dan seperempat gelas bubble, kandungan nutrisinya kira-kira 230 kalori. Segelas bubble masih sering diberi tambahan bahan dan pemanis yang tentu menambah kalorinya.

Gula merupakan salah satu penyumbang kalori terbesar di minuman boba. Segelas boba berukuran 500 ml bahkan bisa mengandung 90 gram gula, tiga kali lipat lebih banyak dari coca-cola. Bubble mengandung karbohidrat yang tinggi. Jika mengonsumsi banyak bisa menyebabkan gangguan pencernaan atau sembelit.

Selain sulit dicerna, pati juga dapat memberi efek kenyang. Sifat tapioka ini yang mungkin menjadi akar masalah pada pencernaan si gadis asal China ketika terlalu banyak mengonsumsi bubble. Tapioka yang menjadi bahan dasar bubble, jadi terlalu banyak yang menumpuk dan sulit dicerna usus. Jika dikonsumsi secara wajar, pati resisten pada tapioka bisa membawa manfaat kesehatan bagi usus. Pati menjadi makanan bakteri baik yang memproduksi lapisan lendir pada usus untuk memecah makanan.

Dirumorkan dapat menyebabkan kanker.

Sebuah laporan dari Jerman pada tahun 2012 lalu sempat membuat heboh para pencinta bubble tea. Laporan tersebut mengungkapkan bahwa bubble dapat menyebabkan kanker. Media kemudian ramai-ramai mengangkat penelitian tersebut sebagai laporan utama. Termasuk media di Taiwan karena sampel penelitian diambil dari pasar Taiwan.

Para peneliti dari Rumah Sakit Universitas Achen menguji bubble dan menemukan stirena, asetofenon, serta zat tertentu yang melekat pada unsur bromin. Peneliti mengidentifikasi zat-zat tersebut sebagai bagian senyawa bifenil poliklorinasi (PCB), mikro-polutan yang beracun. U.S. Environmental Protection Agency juga mengatakan bahwa paparan PCB bisa memicu kanker pada hewan.

Sering mengonsumsi bubble tea? Kenali bahayanya bagi kesehatan

Bubble memicu obesitas.

Bahan dasar bubble yang terdiri dari tepung tepioka banyak mengandung karbohidrat. Universitas California Berkeley merangkum jumlah kalori secangkir bubble bisa mencapai angka 540 kkal. Jika menambahkan seperempat bubble pada segelas minuman, artinya ada 135 kalori tambahan masuk ke dalam tubuh, setara kalori lebih dalam sepiring nasi.

“Asetofenon dan stirena adalah senyawa aromatik yang tak serta merta bersifat toksikologis (beracun) ketika berdiri sendiri,” kata Noah Bartolucci, juru bicara The U.S. Food and Drug Administration (FDA), seperti dilansir laman Universitas California Berkeley.

Berikut efek dari kebanyakan minum bubble tea.

1. Mengganggu sistem pencernaan.

2. Ketidakseimbangan bakteri baik dan bakteri jahat pada usus.

3. Memicu penuaan dini.

4. Meningkatkan deposit lemak yang sebabkan obesitas karena mengandung banyak karbohidrat.

Sering mengonsumsi bubble tea? Kenali bahayanya bagi kesehatan

Cara aman memesan bubble tea.

1. Pilih bubble tea dengan rendah kalori atau tanpa topping lain.

2. Pilih tea seperti teh hijau atau olong.

3. Pesan dengan sedikit gula, kalau bisa tidak usah pakai gula karena sudah manis.

Namun bagi kamu yang begitu menyukai minuman bergelembung ini sehingga hampir selalu menambahkan penganan ini sebagai isi minuman, Sally Kuzemchak, seorang konsultan diet dari Columbus, Ohio, punya solusinya. 

Untuk menentukan tingkat kemanisan pada minumanmu, pilihlah kadar gula paling rendah, jika memungkinkan, tanpa pemanis. “Pilih ukuran minuman paling kecil untuk membatasi jumlah kalori,” katanya.

Source





Pilih Reaksi Kamu
  • Senang

    0%

  • Ngakak!

    0%

  • Wow!

    0%

  • Sedih

    0%

  • Marah

    0%

  • Love

    0%

Loading...

RECOMMENDED VIDEO

Wave white

Subscribe ke akun YouTube Brilio untuk tetap ter-update dengan konten kegemaran Milenial lainnya

MORE
Wave red