×
Sign in

Hello There

Sign In to Brilio

Welcome to our Community Page, a place where you can create and share your content with rest of the world

  Connect with Facebook   Connect with Google
Perlunya meningkatkan rasa empati & toleransi bagi penderita depresi

0

Serius

Perlunya meningkatkan rasa empati & toleransi bagi penderita depresi

Meningkatkan rasa empati dan toleransi untuk mencegah angka bunuh diri yang diakibatkan oleh depresi.

Disclaimer

Artikel ini merupakan tulisan pembaca Brilio.net. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Silakan klik link ini untuk membaca syarat dan ketentuan creator.brilio.net. Jika keberatan dengan tulisan yang dimuat di Brilio Creator, silakan kontak redaksi melalui e-mail redaksi@brilio.net

Sabrina Beauty

30 / 01 / 2019 11:43

Mental Illness atau yang biasanya kita ketahui penyakit mental adalah penyakit yang menyebabkan gangguan pemikiran atau perilaku dari ringan hingga parah, yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk mengatasi tuntutan dan rutinitas hidup yang biasa. Ada lebih dari 200 bentuk penyakit mental. Beberapa gangguan yang lebih umum adalah depresi, gangguan bipolar, demensia, skizofrenia dan gangguan kecemasan. Gejala yang mudah terlihat untuk menilai seseorang itu mengalami penyakit ini adalah perubahan suasana hati, kepribadian, kebiasaan pribadi dan atau penarikan sosial.

Masalah kesehatan mental mungkin terkait dengan stres berlebihan karena situasi atau serangkaian peristiwa tertentu. Seperti halnya terkena penyakit yang cukup parah, bullying, dan trauma mendalam. Penyakit mental sering kali bersifat fisik, emosional, dan psikologis. Penyakit mental dapat disebabkan oleh reaksi terhadap tekanan lingkungan, faktor genetik, ketidakseimbangan biokimia, atau kombinasi dari semua ini. Dengan perawatan yang tepat, banyak orang belajar untuk mengatasi atau pulih dari penyakit mental atau gangguan emosi.

 

Kemungkinan terburuk dari penyakit mental.

Sangat memprihatinkan bahwa kemungkinan terburuk dari penyakit mental bisa menuju pada kematian akibat bunuh diri. Ini bisa disebabkan dari tidak adanya penanggulangan karena seseorang itu menyimpannya sendiri terlalu lama dan terlalu banyak tekanan yang membuat kondisi mentalnya semakin menurun setiap harinya.

Loading...

Masih banyak orang di luar sana yang menganggap kondisi seperti ini sesuatu yang bisa dijadikan bahan lelucon atau dianggap hanya berlebihan saja, yang sebenarnya jika kita yang mengalaminya serasa seperti mimpi buruk. Setiap manusia punya batas untuk menerima masalah atau tekanan yang terus menerus, maka dari itulah dibutuhkan teman cerita atau seseorang yang bisa dipercaya, namun juga memiliki rasa empati tinggi sehingga bisa menempatkan diri sebagaimana orang tersebut.

Contoh kasus yang bisa kita lihat adalah anak yang terlahir dalam keadaan broken home harus melihat orang tuanya bertengkar dan berpisah, lalu saat berada di sekolah status yang melekat sebagai anak broken home malah dijadikan lelucon oleh teman-teman sekolahnya, itu berulang-ulang setiap harinya, dan saat sudah cukup dewasa si anak mempunyai perasaan yang sangat keras dan sulit di atur malah mengalihkannya ke pergaulan yang arahnya pada minum-minuman keras ataupun narkoba. Perilaku anak ini tentu akan membuat orang tua marah dan menyalahkannya, namun disinilah akan memperburuk semuanya.

 

Depresi, salah satu dari penyakit mental yang banyak dialami.

Depresi sendiri bisa digolongkan dalam 2, yaitu mood depression dan gangguan depresi. Semua orang pasti pernah merasakan yang dinamakan mood depression seperti patah hati, nilai ujian tidak memuaskan, dsb. Namun jika sudah terjadi perubahan suasana hati, individu dengan gejala depresi cenderung kehilangan minat untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang sebelumnya ia anggap menyenangkan, kehilangan nafsu makan atau sebaliknya, makan dengan porsi berlebih. Penderita juga akan kesulitan untuk berkonsentrasi, mengingat detail-detail umum, membuat keputusan, ataupun mengalami kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain. Pengalaman-pengalaman ini dapat mendorong individu yang pada akhirnya mencoba bunuh diri.

Di Indonesia sendiri, stigma terhadap orang dengan gangguan depresi menyebabkan mereka semakin sulit untuk mendapatkan penanganan yang tepat dan terisolasi. Bahkan data dari riset kesehatan dasar menyebutkan bahwa pada tahun 2013 terdapat 56.000 orang dengan gangguan depresi yang dipasung karena stigma negatif, kurangnya informasi, dan buruknya fasilitas penanganan. Data lain dari riset kesehatan dasar pada tahun 2007 di Indonesia terdapat sekitar 1 juta orang yang mengalami gangguan jiwa berat dan 19 juta orang dengan gangguan jiwa ringan hingga sedang, dengan jumlah yang terus meningkat secara signifikan. Angka–angka tersebut sebenarnya hanyalah puncak gunung es yang menyimpan potensi bahaya laten lain yang lebih besar. Isu kesehatan mental apabila terus-menerus terpinggirkan akan berpengaruh buruk bagi Indonesia. Penurunan produktivitas terbukti berdampak nyata pada perekonomian. DALY (Disability-Adjusted Life Year) atau waktu yang hilang selama setahun dari orang dengan gangguan mental ternyata 12,5% lebih besar daripada penderita penyakit jantung sistemik dan TBC.

 

Penting adanya edukasi yang lebih mengenai kesehatan mental.

Maka dari itu penting bagi negara berkembang seperti Indonesia untuk memperhatikan dan memberikan edukasi lebih akan kesehatan mental. Memang mulai banyak orang yang tertarik akan kesehatan mental sehingga membagikan informasi lewat media atau bahkan melalui kampanye akan hal ini, bahkan sudah ada komunitas di mana berisikan orang yang peduli dan orang yang terdiagnosa terkena gangguan depresi untuk menyuarakan kepada masyarakat luas betapa pentingnya untuk memperhatikan kesehatan mental.

Tujuan dari kampanye “You Are Not Alone” adalah ingin meningkatkan rasa toleransi dan empati terhadap sesama sehingga menghilanglah stigma-stigma yang ada selama ini. Dengan adanya perhatian lebih dari masyarakat, orang-orang yang terdiagnosa gangguan depresi akan berani untuk menceritakan keadaannya tanpa harus takut di pandang sebelah mata jadi lebih cepat diketahui untuk diarahkan kepada penangan medis yang selayaknya didapatkan. “Namun banyak generasi milenial yang merasa dia gangguan depresi lalu sekadar membaca di internet langsung mengsugestikan dirinya jika terjangkit gangguan depresi dan itu bahaya sekali.” kata Psikolog Klinis, Monica Sulistiawati.

Terkadang orang-orang menyamakan kondisi orang yang dalam keadaan gila secara medis dan gangguan mental, padahal jelas sudah sangat berbeda. Mari ditekankan lagi di mana letak perbedaannya jikalau gila secara medis adalah kondisi pikiran seseorang tidak terkendali dan akhirnya menjadikan pikirannya tidak waras, berperilaku aneh (tak wajar layaknya manusia biasa) dan gangguan mental adalah kondisi di mana proses mental seseorang tidak berfungsi sebagaimana mestinya sehingga kegiatan sehari-hari seseorang ini terganggu, namun tetap dapat berada di tengah masyarakat pada umumnya walau tergantung tingkat keparahan yang dialami. Memang tidak jauh berbeda, gangguan jiwa adalah proses penderitanya bisa menjadi gila.

“Sekalipun itu adalah orang yang udah gue consider sebagai sahabat gue dan pasti akan mengerti, bisa mengatakan bahwa gue glorifying my depression di saat gue sangat membutuhkan dia walaupun hanya sekadar mendengar”, ungkap salah satu narasumber yang terdiagnosa gangguan depresi.

Mulailah dengan menjadi pendengar yang baik, menempatkan bagaimana rasanya kita berada di situasi seperti itu dan jika memang tidak bisa memberikan solusi yang tepat, lebih baik beri saja semangat seperlunya. Jadilah sesama manusia yang berempati dan bertoleransi tinggi sehingga bisa saling menghargai dan tentunya sadar akan pentingnya menjaga perasaan, sehingga akan lebih terbuka pandangan kita untuk mengetahui seseorang yang dekat dengan kita itu mengalami gejala gangguan depresi dan mengarahkannya untuk mendapat penanganan yang seharusnya secara medis. Dengan begitu angka kematian yang di akibatkan oleh depresi yang berujung bunuh diri dapat berkurang. “Dunia tidak seperti yang kalian lihat sekejap mata”, ungkapan terakhir seorang narasumber yang terdiagnosa.

Source





Pilih Reaksi Kamu
  • Senang

    0%

  • Ngakak!

    0%

  • Wow!

    0%

  • Sedih

    0%

  • Marah

    0%

  • Love

    0%

Loading...

RECOMMENDED VIDEO

Wave white

Subscribe ke akun YouTube Brilio untuk tetap ter-update dengan konten kegemaran Milenial lainnya

MORE
Wave red