Sumber daya manusia berupa karyawan merupakan salah satu komponen utama dalam perusahaan. Oleh sebab itu, sangat penting bagi perusahaan untuk memberikan perhatian khusus dalam proses pengembangannya. Proses pengembangan yang dimaksud di sini adalah berupa proses training atau proses pelatihan.

Training atau pelatihan adalah proses mengajarkan suatu skill atau keahlian yang dibutuhkan untuk suatu pekerjaan kepada karyawan (Dessler, 2013). Proses training ini sangatlah penting karena memiliki banyak manfaat, di antaranya sebagai berikut.

Pertama, tujuan dari proses ini sendiri adalah agar karyawan-karyawan yang telah dilatih dapat bekerja dengan baik dan optimal yang tentu saja kemudian akan berdampak pada peningkatan performa perusahaan. Oleh karena itu, proses training yang dilakukan oleh perusahaan harus sesuai dan sejalan dengan tujuan dari perusahaan itu sendiri (Dessler, 2013). Salah satu caranya adalah adalah dengan membuat need analysis.

Need analysis merupakan langkah paling awal dalam merancang program training (Noe dalam Aamodt, 2012). Proses ini sebaiknya dilakukan untuk menentukan jenis training apa yang dibutuhkan oleh karyawan-karyawan dalam suatu perusahaan (Aamodt, 2012). Program training yang dirancang berdasarkan need analysis yang telah dibuat sebelumnya akan berjalan dengan lebih lancar dan efektif dibandingkan dengan program training yang dirancang tanpa menggunakan need analysis (Arthur, Bennett, Edens, & Bell dalam Aamodt, 2012).

Salah satu contohnya adalah PT Gaya Baru, yaitu perusahaan yang menaungi merek mobil ternama BMW. Perusahaan ini mengirim karyawan ke luar negeri seperti Jerman, Thailand, Mesir atau Rusia untuk mengikuti proses training merakit mobil. Proses training ini dilaksanakan apabila terdapat mobil keluaran terbaru. Hal ini bertujuan agar karyawan-karyawan dapat melakukan proses perakitan mobil dengan baik. Jumlah karyawan yang dikirim untuk proses trainingini juga beragam, tergantung kebutuhan perusahaan (Nayazri, 2017).

Hal ini juga harus diperhatikan karena semakin banyak jumlah karyawan yang dikirim untuk mengikuti proses training, maka semakin banyak pula biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan. Maka dari itu, sebaiknya perusahaan melakukan proses need analysis dengan baik sebelum melaksanakan proses training atau pelatihan.

Pentingnya training karyawan dan cara sederhana menerapkannya

Kedua, proses training ini juga dapat berfungsi untuk memberikan skill tambahan bagi karyawan. Misalnya seorang juru masak yang diberikan training atau pelatihan menjadi barista. Karyawan tersebut kemudian akan handal dalam memasak dan juga membuat berbagai macam jenis kopi. Hal ini tentu saja berdampak baik bagi pemilik restoran karena tidak perlu merekrut dua orang karyawan dengan tugas berbeda, yaitu juru masak dan barista karena satu karyawan saja dapat mengerjakan kedua hal tersebut.

Seperti yang kita tahu, proses rekrutmen karyawan tentu saja memakan banyak biaya dan waktu. Mulai dari proses penyebaran iklan lowongan pekerjaan, proses interview, hingga proses penerimaan karyawan. Selain itu, merekrut karyawan baru juga menyebabkan perusahaan harus mengeluarkan lebih banyak biaya untuk gaji karyawan. Oleh karena itu, daripada merekrut karyawan baru untuk suatu pekerjaan yang berbeda, lebih baik lakukan saja proses training pada karyawan yang sudah ada.

Pentingnya training karyawan dan cara sederhana menerapkannya

Dalam merancang program training, salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah aspek keuangan. Terlebih lagi bagi perusahaan-perusahaan baru yang belum memiliki terlalu banyak dana untuk melaksanakan program training. Salah satu jenis program training sederhana yang dapat dilakukan tanpa bantuan orang luar adalah on the job training.

Pentingnya training karyawan dan cara sederhana menerapkannya

On the job trainingadalah training atau pelatihan yang dimana karyawan mempelajari skill atau keahlian baru dengan benar-benar melakukannya secara langsung (Dessler, 2013). Keuntungan dari jenis pelatihan ini adalah cukup fleksibel dalam hal tempat karena dapat langsung dilakukan di tempat kerja disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan (Irawan, 2013). Oleh karena itu, pelatihan ini tidak membutuhkan begitu banyak biaya.

On the job training dapat dilakukan melalui beberapa cara seperti melalui proses modeling yang di mana karyawan melihat dan mempelajari bagaimana karyawan lain bekerja, melalui proses coaching yang dilakukan oleh karyawan yang lebih berpengalaman kepada karyawan baru, atau dapat melalui job rotation. Job rotation adalah di mana keryawan melakukan berbagai pekerjaan yang berbeda dalam suatu organisasi (Aamodt, 2012). Job rotation ini sendiri sangat berguna untuk memberikan wawasan mengenai berbagai macam pekerjaan dalam perusahaan sehingga karyawan diharapkan akan memiliki berbagai skill atau keahlian.