Kesehatan mental didefinisikan WHO sebagai suatu keadaan sejahtera di mana seseorang menyadari kemampuannya sendiri, dapat mengatasi tekanan kehidupan yang normal, serta dapat bekerja secara produktif dan mampu memberikan kontribusi kepada komunitasnya.

Lalu, apakah gangguan kesehatan mental memengaruhi laki-laki dan perempuan secara berbeda? Yuk, simak penjelasan berikut.

Kesehatan mental memengaruhi laki-laki dan perempuan secara berbeda?

Kesehatan mental memengaruhi perempuan secara berbeda? Ini faktanya

Gangguan kesehatan mental umumnya dimanifestasikan dengan beberapa kombinasi yang abnormal antara pemikiran, emosi, perilaku dan hubungan dengan orang lain. Gangguan kesehatan mental meliputi depresi, gangguan bipolar, skizofrenia dan gangguan psikosis lainnya, demensia, gangguan perkembangan termasuk autisme.

Masalah kesehatan mental memengaruhi perempuan dan laki-laki secara berbeda. Menurut laporan National Institute of Mental Health pada kondisi schizophrenia dan bipolar disorder tidak terdapat perbedaan signifikan kejadian antara perempuan dan laki-laki, sedangkan pada kondisi depresi dan kecemasan kejadiannya lebih umum terjadi pada perempuan.

Perempuan berisiko mengalami depresi dan kecemasan.

Kesehatan mental memengaruhi perempuan secara berbeda? Ini faktanya

Menurut laporan WHO pada 2019, satu dari empat orang di dunia mengalami gangguan kesehatan mental dan gangguan neurologis. Jumlah ini setara dengan 450 juta orang, ini menempatkan gangguan kesehatan mental menjadi salah satu penyebab utama angka kesakitan dan kecacatan di seluruh dunia.

Sedangkan angka kejadian pada perempuan, menurut penelitian yang telah dirangkum psychologytoday.com menunjukkan bahwa perempuan memiliki kemungkinan 40% lebih tinggi daripada pria untuk mengalami depresi. Mereka juga dua kali lebih mungkin mengembangkan PTSD, di mana sekitar 10% perempuan mengalami kondisi PTSD setelah peristiwa traumatis, dibandingkan dengan hanya 4% laki-laki.

Ditambahkan dalam laporan mentalhealth.org.uk, perempuan memiliki kecenderungan dua kali lipat mengalami gangguan kecemasan dibandingkan laki-laki serta sekitar 60% individu dengan fobia dan obessive compulsive disorder adalah perempuan. Serta dalam kasus demensia, dua per tiga dari populasi penderitanya adalah perempuan.

Apakah karena pengaruh hormon?

Kesehatan mental memengaruhi perempuan secara berbeda? Ini faktanya

Banyak pendapat menyatakan perempuan lebih berisiko mengalami masalah kesehatan mental karena pengaruh hormon ataupun perempuan yang dianggap lebih emosional. Faktanya berdasarkan beberapa penelitian yang dirangkum psychologytoday.com, memang terdapat perbedaan kadar beberapa hormon pada perempuan dan laki-laki. Namun penelitian tersebut menunjukkan baik perempuan maupun laki-laki sebenarnya memiliki hormon yang sama dalam aliran darah mereka namun dengan jumlah yang berbeda dipengaruhi usia, kondisi kesehatan serta berbagi faktor lain. Perbedaan ini yang diduga dapat bereperan dalam kondisi kesehatan mental seseorang. Misalnya, perempuan diketahui menghasilkan jumlah serotonin yang lebih rendah daripada laki-laki, di mana kekurangan serotonin yang berperan mengatur suasana hati dihubungan dengan kondisi depresi dan kecemasan.

Perempuan, kehamilan, dan persalinan.

Kesehatan mental memengaruhi perempuan secara berbeda? Ini faktanya

Kehamilan dan persalinan menjadi salah satu periode penting bagi sebagian perempuan. Namun periode tersebut juga dihubungkan dengan kondisi gangguan kesehatan mental.

Menurut laporan mentalhealth.org.uk depresi terjadi pada 8%-15% perempuan setelah proses persalinan. Periode kehamilan dan proses persalinan juga menjadi periode di mana perempuan memiliki kecenderungan mengalami perubahan suasana hati ekstrem yang berisiko berkembang menjadi gangguan kesehatan mental apabila tidak tertangani dengan bijak.

Periode kehamilan dihubungan dengan perubahan suasana hati sehubungan dengan adanya perubahan citra tubuh sehubungan dengan peningkatan berat badan serta perubahan hormon yang menjadikan perempuan lebih sensitif. Sedangkan setelah proses persalinan, perubahan suasana hati perempuan dapat dihubungkan karena proses adaptasi peran baru sebagai ibu yang rentan menyebabkan kelelahan serta citra tubuh yang tidak terbangun dengan baik sehubungan dengan waktu yang diperlukan tubuh untuk kembali seperti semula.

Perempuan dan kekerasan.

Kesehatan mental memengaruhi perempuan secara berbeda? Ini faktanya

Menurut laporan WHO berjudul Gender and Womens Mental Health beberapa faktor risiko yang meningkatkan potensi masalah kesehatan mental pada perempuan di antaranya kekerasan berbasis gender, rendahnya pendapatan atau ketidaksetaraan pendapatan hingga tanggung jawab untuk merawat orang lain. Kekerasan yang dialami perempuan baik secara fisik, psikis hingga seksual akan meningkatkan potensi perempuan mengalami Post Traumatic Syndrome Disorder (PTSD).

Masih menurut laporan WHO, setidaknya satu dari lima wanita pernah mengalami pemerkosaan atau percobaan perkosaan dan pravalensi kekerasan yang dialami perempuan berkisar 16%-50%. Kondisi ini diperparah dengan kondisi perawatan pasca trauma yang tidak memadai atau tidak sensitif. Sebagai contoh beberapa perempuan yang melaporkan malah disalahkan saat mengalami pemerkosaan. Selain itu mayoritas perempuan memiliki beberapa peran sekaligus dalam satu waktu seperti ibu yang mengasuh anak dan memasak untuk keluarga, istri dan ibu yang juga menjadi tulang punggung keluarga, kondisi ini akan menyebabkan peningkatan angka kecemasan dan depresi pada perempuan.

Apa yang dapat kita lakukan? Memberikan dukungan baik dari lingkungan sosial, keluarga, teman, sahabat hingga pertolongan tenaga kesehatan untuk membantu pulih dari masalah kesehatan mental.

Selain itu terdapat beberapa kegiatan juga telah diketahui menjaga kesehatan mental seperti tidur yang cukup, rutin melakukan aktivitas fisik, konsumsi makanan bergizi seimbang, terlibat dalam kegiatan di komunitas ataupun kegiatan sosial hingga rutin memeriksakan diri di pelayanan kesehatan.