×
Sign in

Hello There

Sign In to Brilio

Welcome to our Community Page, a place where you can create and share your content with rest of the world

  Connect with Facebook   Connect with Google
Didi Kempot, pengubah ambyar menjadi jogetan

0

Sosok

Didi Kempot, pengubah ambyar menjadi jogetan

Daripada sedih, mending joget saja.

Disclaimer

Artikel ini merupakan tulisan pembaca Brilio.net. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Silakan klik link ini untuk membaca syarat dan ketentuan creator.brilio.net. Jika keberatan dengan tulisan yang dimuat di Brilio Creator, silakan kontak redaksi melalui e-mail redaksi@brilio.net

Muh. Fadhil Nurdiansyah

09 / 05 / 2020 17:14

God Father of Broken Heart, begitulah para penggemar menjuluki Didi Kempot. Milenial yang hatinya luluh lantak bisa sedikit terobati dengan mendengarkan lagu-lagu Lord Didi yang isinya soal patah hati. Lahir di Surakarta dan hidup dalam keluarga seniman, Didi Prasetyo menjelma menjadi seorang 'tabib hati' para jiwa muda yang tengah mengalami masa-masa asmara.

Jika kita napak tilas karier Didi Kempot, ia awalnya adalah seorang musisi—pengamen—jalanan bermodalkan kentrung dan kendang. Ia lalu nekat untuk mengadu nasib di Ibu Kota dengan melakukan hal yang sama di tempat kelahirannya, menjadi musisi jalanan. Namun, kariernya akhirnya terangkat ketika Musica Studio’s mengendus bakatnya. Kemudian muncullah album Cidro yang salah satu lagunya berjudul Cidro. Ini penggalan liriknya, “Aku nelongso mergo kebacut tresno..Ora ngiro saikine cidro.. Ora ngiro saikine cidro..”

Tak jauh berbeda dengan para fansnya yang berjuluk Sobat Ambyar, lagu Cidro ciptaan Lord Didi juga sebuah representasi kisah ketika cintanya tidak direstui oleh orang tua pasangannya. Itulah mengapa lagunya begitu meyentuh hati, lirik lagunya saja berbasis kisah nyata.

Sebelum kehadiran Didi kempot bersama lagu-lagunya, bisa dibilang para manusia yang hatinya ambyar akan sulit untuk untuk mengungkapkannya karena alasan takut dibilang 'lemah', 'bocah aleman', dan perkataan lain yang sifatnya merendahkan. Akhirnya perasaan mereka tidak bisa tersampaikan dengan baik.

Jangan salah, rasanya ketika ditolak seseorang yang begitu kita kagumi, apalagi jika sudah nyepik bertahun-tahun dan akhirnya ditolak pasti akan ambyar. Beruntung sekali kita memiliki musisi Tanah Air yang bisa menyalurkan emosional manusia ambyar dengan lagu-lagunya. Sehabis ditolak pun kamu bisa langsung nyanyi Suket Teki sambil nangis.

Loading...

Di sinilah titik kemunculan 'ambyarisme'. Patah hati memiliki arti yang tidak lagi suram, cupu, hina, dan sebagainya. Namun patah hati menjadi hal yang sudah lumrah dan tidak lagi tabu. Ideologi ini dianut oleh para Sobat Ambyar dengan ajaran, “Kalau cintamu ditolak, mending dijogetin aja”. 'Ambyarisme' juga mungkin mengajarkan agar kamu tidak merasa sok tegar karena cepat atau lambat semua orang akan ambyar pada waktunya.

Kalau bicara soal peran mereka—Lord Didi dan Sobat Ambyar—terhadap bangsa ini juga sangat besar lho. Mereka bisa menjadi sebuah kekuatan untuk membendung budaya asing yang mengikis bangsa kita perlahan-lahan. Meskipun membawakan lagu dengan menggunakan model campursari dan berbahasa Jawa, namun bisa mengikat banyak peminat meskipun tidak tahu artinya yang penting joget.

Biasanya kita akan lebih menyukai penyanyi yang cantik, tampan, dan putih seperti artis Korea dan Inggris. Bukan berarti ingin membanding-bandingkan, tapi kita tidak menemukannya di sosok Didi Kempot. Jangan kecewa para Sobat Ambyar, tapi itulah kelebihan kalian, tidak memandang Lord Didi dari segi fisik atau paras yang bisa dibilang sudah senior—tidak muda lagi—tapi kalian menganggapnya seperti seorang sahabat sendiri.

Kekuatan Lord Didi dan Sobat Ambyar terbukti secara mengagumkan bulan lalu, tepatnya malam tanggal 11 April 2020. Melalui konser amal berbasis online yang bisa dinikmati di salah satu TV swasta nasional mampu mengumpulkan donasi hingga Rp 4,7 miliar. Itu bukanlah angka yang kecil untuk konser yang digelar selama sekitar dua jam saja. Sudah tidak perlu diragukan lagi kehebatan mereka, bukan?

Meskipun arti kata ambyar adalah tercerai-berai, tapi buktinya para Sobat Ambyar yang juga memiliki dua golongan—Sad Boys dan Sad Girls—ini mampu mengubah arti kata ambyar menjadi hal yang tidak lagi buruk di telinga masyarakat. 

Patah hati yang semula sulit untuk diungkapkan karena takut dihujat orang lain, kini menjadi hal yang sangat menakjubkan ketika dipoles oleh sang Maesto Didi Kempot. Tidak hanya memperkecil angka kematian akibat bunuh diri, tapi juga dapat membuka mata para Sobat Ambyar untuk terus berjuang meskipun mengalami penolakan tak berujung. Cukup dengan menyanyi “Aku tak seng ngalah, trimo mundurr timbang loro atii, tak oyak oo wong kowe wes lali, oraa bakall baliii”.





Pilih Reaksi Kamu
  • Senang

    0%

  • Ngakak!

    0%

  • Wow!

    0%

  • Sedih

    0%

  • Marah

    0%

  • Love

    0%

Loading...

RECOMMENDED VIDEO

Wave white

Subscribe ke akun YouTube Brilio untuk tetap ter-update dengan konten kegemaran Milenial lainnya

MORE
Wave red