×
Sign in

Hello There

Sign In to Brilio

Welcome to our Community Page, a place where you can create and share your content with rest of the world

  Connect with Facebook   Connect with Google
Belajar tentang pentingnya pendirian diri lewat novel Atheis

0

N/A

Belajar tentang pentingnya pendirian diri lewat novel Atheis

Ilustrasi / Foto: Download a pic Donate a buck! ^ from Pexels

Lewat novel Atheis karya Achdiat K. Mihardja, kita bisa belajar cara agar tidak mudah terpengaruh oleh orang lain.

Disclaimer

Artikel ini merupakan tulisan pembaca Brilio.net. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Silakan klik link ini untuk membaca syarat dan ketentuan creator.brilio.net. Jika keberatan dengan tulisan yang dimuat di Brilio Creator, silakan kontak redaksi melalui e-mail redaksi@brilio.net

Akifah Humaira Salsabila

28 / 12 / 2021 14:02

Dalam setiap kehidupan manusia tentu saja kita pernah mendapat ajakan teman yang dapat memengaruhi diri kita, bukan? Nah, dalam tulisan ini akan penulis bahas tentang bagaimana cara menerapkan tameng pendirian diri agar tidak terpengaruh hal-hal negatif.

Pendirian diri agar tidak terpengaruh dari ajakan negatif ini terinspirasi dari novel karya Achdiat K. Mihardja yang berjudul Atheis. Novel Atheis  ini menceritakan kisah hidup Hasan yang merupakan anak dari orang tua yang taat dan mendalami ilmu agama. Sejak kecil Hasan sudah dididik menjadi anak yang saleh, diajarkan salat dan mengaji. Hasan tumbuh menjadi orang yang rajin beribadah. Hasan menyukai perempuan yang bernama Rukmini, namun ternyata Rukmini sudah dijodohkan oleh orang tuanya. Hal tersebut membuat Hasan sedih, sehingga hasan menjadi lebih dekat dengan Tuhannya.

Kehidupan Hasan berubah ketika bertemu dengan Rusli. Rusli adalah teman lama Hasan. Rusli mendatangi Hasan bersama dengan temannya yaitu Kartini. Kartini adalah teman Rusli. Wajah Kartini sangat cantik dam mirip dengan Rukmini. Namun, Kartini adalah wanita modern yang bebas pergaulannya. Kartini ini adalah seorang janda yang tidak memiliki anak. Karena wajah Kartini yang cantik dan Mirip dengan Rukmini, Hasan pun jatuh cinta dengan Kartini. Hasan mulai akrab dengan Kartini dan Rusli dan berkenalan dengan teman-teman Rusli dan Kartini yang lainnya. Hasan berniat untuk mengajak Rusli dan Kartini taat pada agama dan menjauhi dunia pergaulan bebas itu dengan sering memberikan ceramah kepada Rusli dan Kartini. Akan tetapi, usahanya tidak berhasil karena kepandaian Rusli dalam berbicara dan malah menjerumuskan Hasan ke jalan yang tidak benar.

Keimanan Hasan menjadi menurun dan Hasan menjadi meragukan keberadaan Tuhan. Pergaulannya pun menjadi bebas dan jauh dari agama. Mengetahui anaknya terjerumus ke jalan yang tidak benar, orang tua Hasan marah dan tidak merestui hubungan Hasan dan Kartini. Hasan yang sudah terlalu cinta dengan Kartini tetap menikahi Kartini walaupun orang tuanya tidak merestuinya. Ternyata pernikahan Hasan dan Kartini tidak berjalan dengan baik, pergaulan Kartini semakin bebas dan hal itu membuat Hasan cemburu. Hasan berpikiran bahwa Kartini selingkuh dengan laki-laki bernama Anwar.

Setelah kejadian tersebut, Hasan mulai sadar bahwa dia sudah terpengaruh dari ajakan seorang teman dan hal tersebut membuatnya jauh dari Tuhannya. Hasan menyesali perbuatannya dan berdoa atas apa yang telah diperbuatnya. Hasan pun memutuskan untuk bercerai dengan Kartini. Hasan juga pulang ke rumah untuk meminta maaf kepada orang tuanya, terutama kepada ayahnya. Tidak lama setelah Hasan sampai rumah, ayahnya meninggal dunia. Hasan berpikiran bahwa hal ini terjadi karena ulah Anwar. Hasan bergegas mencari Anwar namun ketika dalam perjalanan mencari Anwar, Hasan tertembak dan mengembuskan napas terakhirnya. Sebelum menghembuskan napas terakhirnya, Hasan sempat mengingat Tuhannya dan bertauhid.

Loading...

Dari cuplikan cerita mengenai kisah hidup Hasan kita dapat mengambil pelajaran bahwa pentingnya menerapkan pendirian terhadap diri kita agar tidak terpengaruh dan akhirnya menyesalinya. Ada beberapa cara yang bisa kita terapkan agar tidak mudah terpengaruh oleh orang lain.

1. Menguatkan iman dan ketakwaan agar senantiasa berada di jalan yang benar. Menguatkan dengan senantiasa taat kepada ajaran agama dan selalu berdoa agar dijauhkan dari teman-teman yang membawa pengaruh buruk dan selalu berada di jalan yang benar.

2. Mendengarkan perkataan baik yang dikatakan oleh orang tua. Perkataan orang tua biasanya berdasarkan fakta dan pengalaman mereka, sehingga tidak menjadi bumerang pada diri sendiri.

3. Menyaring apa yang dikatakan oleh teman. Dengan tidak menyerap semua yang dikatakan oleh teman karena ada beberapa perkataan teman yang bisa menjerumuskan kita ke hal-hal yang tidak baik.

4. Menjaga jarak dengan teman yang pergaulannya bebas. Kita boleh berteman dengan siapa pun tetapi kita juga harus membatasi pertemanan dengan orang yang telalu bebas pergaulannya. Bukan berarti kita menjauhi atau menghinanya, tetapi hal ini perlu dilakukan agar kita tidak ikut larut ke dalam pergaulannya.

5. Selalu berpikir akan risiko yang terjadi. Beberapa orang sering melakukan sesuatu tanpa memikirkan apa yang akan terjadi ke depannya, sehingga sering kali menyesali perbuatannya.

Dari beberapa cara yang sudah dituliskan di atas, tentu tidak akan bisa diterapkan tanpa adanya kesadaran diri sendiri. Oleh karena diri kita sendirilah yang selalu memegang kendali paling kuat agar tidak terjerumus kedalam hal–hal yang membuat kita menjadi menyusahkan diri sendiri.






Pilih Reaksi Kamu
  • Senang

    0%

  • Ngakak!

    0%

  • Wow!

    0%

  • Sedih

    0%

  • Marah

    0%

  • Love

    0%

Loading...

RECOMMENDED VIDEO

Wave white

Subscribe ke akun YouTube Brilio untuk tetap ter-update dengan konten kegemaran Milenial lainnya

MORE
Wave red