×
Sign in

Hello There

Sign In to Brilio

Welcome to our Community Page, a place where you can create and share your content with rest of the world

  Connect with Facebook   Connect with Google
Apa sih yang dimaksud perilaku poser itu?

0

Kepribadian

Apa sih yang dimaksud perilaku poser itu?

Banyak digunakan.

Disclaimer

Artikel ini merupakan tulisan pembaca Brilio.net. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Silakan klik link ini untuk membaca syarat dan ketentuan creator.brilio.net. Jika keberatan dengan tulisan yang dimuat di Brilio Creator, silakan kontak redaksi melalui e-mail redaksi@brilio.net

chairandy fajri

21 / 09 / 2018 11:20

Sebenernya ga jelas istilah Poser itu muncul dari mana.Kalau kita melihat ke kamus, mungkin kita tidak menemukan definisi seperti yang kita harapkan. Termasuk juga di wikipedia.

Tetapi di suatu situs, urbandictionary, Poser diartikan menjadi “A person exhibiting foolish or flighty behavior“. Dari definisi ini makin tercium jelas mengapa kata Poser memiliki arti yang berbeda di zaman sekarang ini.

Poser selalu dikaitkan dengan perilaku seseorang yang berusaha ‘tampil’ untuk dilihat oleh khalayak, dengan menjadi orang lain, atau setidaknya apa yang dikenakan tubuhnya tidak berasal dari kreatifitas dirinya sendiri.

Salah satu teman gue, seorang wanita mahasiswi fakultas hukum UI, kasitau gue dengan ngasih istilah  yang berkaitan yaitu, Imposter.

Menurut Wikipedia, Imposter atau Impostor diartikan menjadi “A person who pretends to be somebody else, often to try to gain financial or social advantages through social engineering, but just as often for purposes of espionage or law enforcement“. Semakin jelas lah apa yang di maksut dengan Poser ini.

Loading...

Sebenarnya cukup konyol, bahwa demi mendapatkan keuntungan sosial, atau gampangnya bisa kita katakan demi memanjat suatu status sosial tertentu, seseorang rela mempermalukan dirinya dengan menjadi orang lain.

Mereka melakukan hal seperti ini di jaman dimana originalitas menjadi hal yang sangat di banggakan. Tentu saja dengan sendirinya orang seperti ini akan menjadi cemoohan publik.

Oke.. mari kita persempit dulu ruang lingkup Poser yang gue akan bahas. Poser atau Imposter yang akan dan telah gue bahas hanya menyangkut gaya berpakaian, selera musik, atau mungkin selera jasmaniah lainnya.

Dimana seseorang menggunakan sesuatu, atau melakukan sesuatu karena mengikuti seseorang, demi mendapatkan suatu pandangan sosial bahwa dia berada di strata sosial yang lebih tinggi, bukan hanya dalam hal materi, tetapi juga non materi.

 

Mengapa seseorang harus menjadi Poser? dan Bagaimana pandangan umum orang terhadap Poser?

Poser adalah mereka yang belum memiliki jati diri. Mereka belum tau siapa diri mereka sebenarnya. Mungkin hal inilah yang mendasari munculnya para Poser. Mereka yang belum tahu jati diri mereka sendiri.

Bahwa Poser itu mungkin muncul saat seorang belum tahu mau mengarahkan dirinya ke kiblat yang seperti apa. Hal ini menjadi sangat menarik, karena seperti yang saya lihat di salah satu sudut Jakarta yang saya amati, para Poser ini selau memiliki selera yang berubah-ubah dan tidak tetap.

Dari selera musik, sampai cara berpakaian, mereka cendrung mengikuti ‘induk’ mereka berkiblat ke mana. Atau bahkan ada saja yang masih berpindah-pindah ‘induk’.

Biasanya wanita tidak suka berada dalam posisi ‘induk’ . Kalau laki-laki, kebanyakan memilih untuk tidak perduli dan menekankan pola pikir “cukup tau aja deeeh…” saat mereka berada dalam posisi ‘induk’.

Tetapi kita harus sepakat (maaf kalo gue maksa), bahwa masyarakat luas tidak suka melihat perilaku Poser. Entah apa sebenarnya yang dirugikan, tetapi selalu muncul pandangan yang negatif atas Poser itu sendiri.

Kayak temen gue, Mahasiswi Arsitek UPH mengatakan, “Ya gua siih kasian aja sama orang kaya gitu. Tapi mau diapain lagi. Nanti kalo mereka udah ketemu jati dirinya juga berubah”. Memang bukan konotasi jahat, tetapi tetap konotasi negatif yang di dapatkan dari sosok Poser

Begitu juga dengan temen gue yang lain, katakan saja dia korban Poser, atau pernah berada di posisi ‘induk’, mengeluarkan komentar yang cukup pedas, “Jijik gue!! Mereka mau ngikutin kaya gimana juga tetep aja akan beda. Karena mereka itu ngikutin. Mereka bisa aja beli barang-barangnya, tapi Taste itu ngga bisa di beli”.

Jadi dengan segala hujatan masyarakat, masihkah ada yang tetap ingin menjadi Poser? Seberepa mengerikan kah sisi orisinil mereka sehingga mereka takut untuk menunjukannya?

Bagaimanapun rupanya, tampil apa adanya, dan menjadi diri sendiri akan selalu menghasilkan output yang lebih baik. Memang terdengar klise, tapi kebenaran memang sering terdengar klise.

Source






Pilih Reaksi Kamu
  • Senang

    0%

  • Ngakak!

    0%

  • Wow!

    0%

  • Sedih

    0%

  • Marah

    0%

  • Love

    0%

Loading...

RECOMMENDED VIDEO

Wave white

Subscribe ke akun YouTube Brilio untuk tetap ter-update dengan konten kegemaran Milenial lainnya

MORE
Wave red