×
Sign in

Hello There

Sign In to Brilio

Welcome to our Community Page, a place where you can create and share your content with rest of the world

  Connect with Facebook   Connect with Google
6 Cara sederhana agar anak tunggal tak tumbuh manja dan arogan

0

Orangtua

6 Cara sederhana agar anak tunggal tak tumbuh manja dan arogan

Meski tak berbeda dengan anak lain yang punya saudara, beberapa cara ini dapat mengantisipasi agar anak tunggal tak tumbuh manja dan arogan.

Disclaimer

Artikel ini merupakan tulisan pembaca Brilio.net. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Silakan klik link ini untuk membaca syarat dan ketentuan creator.brilio.net. Jika keberatan dengan tulisan yang dimuat di Brilio Creator, silakan kontak redaksi melalui e-mail redaksi@brilio.net

Syamsul Muqorrobin

11 / 09 / 2019 13:36

Anak tunggal tampaknya memiliki kelebihan sangat besar dalam prestasi dan kecerdasan. Penelitian selama dua puluh tahun menemukan bahwa anak tunggal memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi, nilai ujian yang lebih tinggi, perbendaharaan kata yang lebih baik, serta prestasi yang lebih tinggi. Penelitian juga menyimpulkan bahwa bagian yang terpenting adalah anak tunggal tumbuh bahagia karena kedekatan hubungan dengan orang tua dan mereka tidak egois, kesepian, atau sulit menyesuaikan diri daripada jika memiliki saudara. Pada kenyataannya, rentetan penelitian menunjukkan bahwa anak-anak tunggal tidak lebih 'ngebos' atau manja dibandingkan anak-anak yang memiliki saudara. Nyatanya penemuan dan ratusan penelitian menunjukkan bahwa anak tunggal benar-benar tidak berbeda dari teman sebayanya yang lain.

Secara umum anak tunggal sama dengan anak sebayanya, hanya sebagaimana manusia biasa yang secara khusus tetap memiliki karakteristik masing-masing. Ada juga sisi di mana mereka cenderung manja. Berikut ini ada cara sederhana untuk membantu anak tunggal agar menjadi yang terbaik.

1. Turunkan 'takhta' anak tunggal kamu.

Anak-anak tunggal memiliki kelebihan sangat besar dalam hal keyakinan diri karena mereka memiliki seluruh perhatian dan kasih sayang orang tuanya. Konsekuensinya, mereka juga berisiko untuk bertingkah sedikit berkuasa yang tidak disukai teman sebayanya. Jadi hati-hati, jangan posisikan anakmu di tengah panggung atau memberikan kesan dunia ini hanya berputar di sekitar diriya (walaupun dalam pandanganmu saya yakin begitu).

2. Bantu anak peduli kepada yang lain.

Loading...

Anak-anak tunggal menghabiskan banyak waktu sendiri (atau ditemani orang dewasa), mereka berisiko terjebak pada mental “saya saya saya”. Jadi cari jalan untuk membantu anakmu memikirkan orang lain. Belikan dia binatang peliharaan (dan beri tanggung jawab merawatnya). Lakukan tindakan kedermawanan seperti membuatkan kue untuk tetangga yang tinggal sendirian di rumah sebelah, membantu mengecat tempat perlindungan anak jalanan, atau mengajari anak-anak yang lebih kecil dalam kelompok gereja sebagai sebuah keluarga, dia pun akan menikmati melakukan sesuatu untuk orang lain. Anak-anak tunggal memiliki kemewahan tidak perlu menunggu untuk didengarkan, sehingga bantu anak kamu belajar menunggu dan mendengarkan orang lain.

3. Turunkan pengharapanmu satu derajat.

Semua anak ingin menyenangkan hati orang tuanya, terutama anak tunggal karena mereka menyadari menjadi satus sebagai satu-satunya harapan orang tua. Peran itu bisa menjadi beban. Anak-anak tunggal biasanya sudah lebih berorientasi pada prestasi, memiliki kecenderungan perfeksionis, dan lebih ingin sukses. Mereka cenderung meraih suatu percapaian yang lebih baik dalam ujian standar, meraih nilai lebih tinggi, dan lebih lama mengenyam pendidikan.

Jadi periksa kembali pengharapanmu sekarang dan seterusnya. Tahan dorongan untuk turun tangan dan melakukan kembali apa yang sudah dilakukannya atau mengoreksi ketidaksengajaan dan kesalahannya. Pastikan kamu tidak terlalu melibatkan diri dan aspirasi kamu tidak terlalu tinggi baginya. Anak tunggal perlu belajar untuk tidak banyak menekan diri sendiri, jadi mereka tidak perlu merasakan tekanan yang datang dan orang tuanya juga.

4. Beri kesempatan untuk keterampilan sosial.

Sebuah penelitian terhadap dua puluh ribu anak TK menemukan bahwa para guru menilai siswa-siswa yang memiliki sedikitnya satu saudara lebih mampu menjalin dan mempertahankan pertemanan, bermain bersama, membuat nyaman dan membantu anak lain, mengungkapkan perasaan dengan cara yang positif, serta menunjukkan kepekaan. Bukan berarti kamu harus memiliki anak kedua hanya untuk membantu anak meningkatkan keterampilan sosialnya. Maksudnya, kamu harus mencari kesempatan untuk anak kamu bersama anak-anak lain, sehingga dia bisa mempelajari ciri menjalin pertemanan, kelompok bermain, kerja sama pengasuhan, kepramukaan, kelompok keagamaan, pertemuan keluarga dengan sepupu-sepupunya, liburan bersama teman, anak-anak tetangga, perkemahan musim panas, klub anak-anak dan menginap adalah beberapa pilihan untuk itu.

5. Bantu anak belajar menyelesaikan konflik.

Anak tunggal sering mengalami kesulitan menyelesaikan konflik, mengatasi gangguan, dan bemegosiasi atau kompromi, karena mereka tidak memiliki kakak atau adik untuk membantu mereka mempelajari keterampilan itu dan pertengkaran-pertengkaran kecil sehari-hari. Usahakan tidak membesarkan anak tunggal dengan perkelahian anak. Pastikan kamu menemukan cara membantunya menyelesaikan konflik dan bernegosiasi menghadapi masalah yang dapat memicu pertengkaran agar dia memiliki keterampilan menghadapi dunia nyata. Secara intensif (dan dengan cara menyenangkan tentunya), ganggu dia untuk belajar menertawakan diri sendiri. Jangan terperangkap pada mitos bahwa kamu sama sekali tidak boleh bertengkar di depan anak. Saya tidak menyarankan perkelahian baku hantam, tetapi ajak pasangan kamu untuk membantu memberi contoh cara mengatasi perbedaan pendapat.

6. Biarkan anakmu menempa jalannya sendiri.

Pastikan kamu tidak mengharapkan keturunan yang sendirian demi “melengkapi” diri kamu karena dia satu-satunya. Justru biarkan dia dengan bakat uniknya, minat, gairah, kepribadian dan temperamennya sendiri. Lalu lihat kegiatan dan minat yang sedang ditekuninya. Apakah sesuai dengan sifat alaminya? Apakah melebih-lebihkan bakat unik dan kekuatannya? Atau kegiatan-kegiatannya itu lebih sejalan dengan yang kamu harapkan akan dinikmatinya atau justru bakat, kekuatan, keterampilan atau memori kamu sendiri? Bantu anak kamu menjadi dirinya sendiri. Dia berhak untuk itu.

Bagi kamu yang memiliki anak tunggal atau banyak, rahasia kunci pengasuhannya selalu sama, yaitu perlakukan setiap anak layaknya seorang anak tunggal. Dengan catatan pribadi, saya adalah anak tunggal dan saya menikah dengan anak tunggal juga. Kami berdua mengakui (setidaknya satu sama lain) bahwa kami tumbuh menjadi orang dewasa dengan baik.

 

Source





Pilih Reaksi Kamu
  • Senang

    0%

  • Ngakak!

    0%

  • Wow!

    0%

  • Sedih

    0%

  • Marah

    0%

  • Love

    0%

Loading...

RECOMMENDED VIDEO

Wave white

Subscribe ke akun YouTube Brilio untuk tetap ter-update dengan konten kegemaran Milenial lainnya

MORE
Wave red