×
Sign in

Hello There

Sign In to Brilio

Welcome to our Community Page, a place where you can create and share your content with rest of the world

  Connect with Facebook   Connect with Google
4 Fakta yang harus kamu ketahui tentang kesepian dan kesehatan mental

0

Serius

4 Fakta yang harus kamu ketahui tentang kesepian dan kesehatan mental

Kesepian tak sesimpel 'hanya' perasaan.

Disclaimer

Artikel ini merupakan tulisan pembaca Brilio.net. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Silakan klik link ini untuk membaca syarat dan ketentuan creator.brilio.net. Jika keberatan dengan tulisan yang dimuat di Brilio Creator, silakan kontak redaksi melalui e-mail redaksi@brilio.net

Rian Kusuma Dewi

22 / 03 / 2021 10:00

Sebagian dari kita mungkin masih mendefinisikan kesepian hanyalah sebagai salah satu perasaan yang kita rasakan saat sendirian. Kesepian nyatanya tak sesimpel ‘perasaan’ belaka. Yuk, lebih mengenal kesepian dan bagaimana dampaknya bagi kesehatan mental.

1. Kesepian.

Kesepian

‘Loneliness is a subjective experience. If a person thinks and says that they are lonely, then they are lonely.’

Secara umum, kesepian digambarkan sebagai perasaan saat kebutuhan kita terhadap interaksi atau hubungan sosial tidak terpenuhi. Tapi yang perlu diperhatikan adalah bahwa kesepian tidak selalu sama dengan sendirian. Individu dapat memilih menyendiri dan meminimalisir kontak dengan orang lain namun merasa bahagia, dan sebaliknya individu juga dapat memiliki banyak kontak sosial namun masih merasa kesepian. Rasa kesepian juga merupakan perasaan yang bersifat personal, sehingga pengalaman rasa kesepian setiap orang akan berbeda.

Loading...

Beberapa peristiwa kehidupan tertentu mungkin menyebabkan kesepian, seperti kondisi berduka, kehilangan kontak sosial, mengalami diskriminasi ataupun stigma, hingga menjadi kelompok minoritas. Kesepian juga dapat dikaitkan dengan faktor internal seperti harga diri yang rendah. Orang yang kurang percaya diri sering kali percaya bahwa mereka tidak layak diperhatikan atau dihormati orang lain, yang dapat menyebabkan isolasi dan rasa kesepian kronis.

2. Millenial: Generasi paling kesepian.

FOMO

Berdasarkan laporan YouGov 30% generasi milenial (usia 23-38) selalu atau sering merasa kesepian. Terdapat sekitar satu dari lima orang dalam rentang usia ini mengatakan tidak memiliki teman, 27 persen mengatakan tidak memiliki teman dekat, 30 persen mengatakan tidak memiliki sahabat. Angka-angka ini jauh lebih tinggi daripada Generasi X dan Generasi Baby Boom.

Terutama selama pandemi di mana milenial melakukan segala aktivitas secara online dari rumah, rasa kesepian yang dirasakan milenial semakin menjadi lebih berat. Berdasarkan survei yang dirilis YouGov pada Mei 2020, hampir dua dari lima atau sekitar 38% milenial melaporkan merasa kesepian selama pandemi Covid-19.

Apa yang menjadi penyebab milenial menjadi generasi paling kesepian diduga dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satu yang cukup sering ‘disalahkan’ adalah penggunaan media sosial. Sehingga melalu penelitian berjudul No More FOMO: Limiting Social Media Decreases Loneliness and Depression pada tahun 2018, peneliti mencoba menerapkan intervensi untuk mengurangi penggunaan media sosial hanya 10 menit per platform per hari selama tiga minggu, dan hasilnya sesuai dugaan, terdapat penurunan signifikan dalam kesepian dan depresi.

3. Kesepian dan kesehatan mental.

Kesepian dan Kesehatan Mental

Kesepian tidak selalu berarti menjadi masalah kesehatan mental. Namun keduanya saling terkait satu sama lain. Individu dengan masalah kesehatan mental berisiko tinggi mengalami kesepian. Begitu pula kondisi kesepian yang berlangsung kronis tanpa adanya perhatian untuk mengatasinya akan dapat berdampak bukan hanya bagi kesehatan fisik namun juga kesehatan mental.

Beberapa penelitian telah menunjukkan bagaimana kesepian berdampak serius bagi kesehatan fisik dan kesehatan mental. Dalam penelitian meta analisis pada tahun 2015 berjudul Loneliness and Social Isolation as Risk Factors for Mortality oleh Julianne Holt-Lunstad, PhD, kurangnya hubungan sosial meningkatkan risiko bagi kesehatan setara dengan merokok 15 batang sehari atau setara dengan penyalahgunaan alkohol. Ditambahkan, kesepian dan isolasi sosial dua kali lebih berbahaya bagi kesehatan fisik dan mental daripada obesitas. Sedangkan dalam penelitian berjudul Relationship Between Loneliness, Psychiatric Disorders and Physical Health, ditunjukkan bahwa kesepian dapat menyebabkan berbagai gangguan kejiwaan seperti depresi, penyalahgunaan alkohol, penganiayaan anak, gangguan tidur, gangguan kepribadian dan penyakit Alzheimer.

Bahkan terdapat juga istilah masalah kesehatan metal yaitu autophobia, yang didefinisikan sebagai ketakutan akan perasaan sendirian atau kesepian. Individu dengan autofobia merasa mereka membutuhkan orang lain atau orang lain di sekitar agar merasa aman. Wah, dampaknya cukup serius ya.

4. Bagaimana cara mengatasi rasa kesepian?

Mengatasi Kesepian

Bagaimana mengatasi rasa kesepian bukanlah sebuah tugas yang sederhana. Seperti dijelaskan sebelumnya, kesepian merupakan perasaan personal sehingga setiap individu memiliki rasa kesepian karena alasan yang berbeda. Begitupula cara seseorang menghadapi perasaan kesepian tidak akan sama satu sama lain. Namun, berikut beberapa cara mengatasi rasa kesepian yang mungkin dapat kamu coba.

1. Memulai kesadaran bahwa kesendirian tidak bearti kesepian. Memilih hangout sendiri tidak menjadikan kita lantas menjadi kesepian.

2. Menyadari bahwa kesepian menjadi tanda bahwa sesuatu dari diri kita perlu diubah.

3. Memahami apa itu kesepian, penyebab kesepian, tanda kesepian, dan bagaimana cara mengatasi kesepian.

4. Mencoba mempertimbangkan bergabung dengan kelompok sesuai hobi atau aktivitas sosial sesuai minat kita. Termasuk grup online jika kita tidak dapat menghadirinya secara langsung. Terlibat dalam aktivitas kelompok ataupun aktivitas sosial dapat meningkatkan makna hidup.

5. Menyadari bahwa tidak setiap interaksi akan mengarah pada hubungan yang dekat. Tidak mengapa jika tidak memiliki banyak relasi, namun yang lebih penting bagaimana hubungan yang ada merupakan hubungan yang memberikan makna positif.

6. Mencoba untuk lebih terbuka mengenai topik-topik yang nyaman untuk dibagikan dengan orang lain. Beberapa dari kita mungkin mengenal banyak orang tapi tidak merasa dekat dengan mereka. Dalam situasi tersebut, mungkin sedikit keterbukaan tentang perasaan dapat sedikit membantu.

7. Terapkan gaya hidup sehat. Tidur yang cukup, diet yang sehat, aktivitas yang cukup telah terbukti meningkatkan perasaan hati dan kesehatan mental yang lebih baik.

8. Pertimbangkan untuk mendapatkan bantuan layanan kesehatan jika perasaan kesepian tetap ada hingga memengaruhi kehidupan sehari-hari secara negatif.

Setelah membaca artikel ini, semoga kita menjadi semakin mengenal perasaan yang kita rasakan, menikmatinya dan mengubahnya menjadi energi yang menjadikan kita individu yang lebih baik lagi. Have a good day.

Source






Pilih Reaksi Kamu
  • Senang

    0%

  • Ngakak!

    0%

  • Wow!

    0%

  • Sedih

    0%

  • Marah

    0%

  • Love

    0%

Loading...

RECOMMENDED VIDEO

Wave white

Subscribe ke akun YouTube Brilio untuk tetap ter-update dengan konten kegemaran Milenial lainnya

MORE
Wave red