Brilio.net - Majelis merupakan suatu perkumpulan, pertemuan, atau acara yang memiliki manfaat positif dengan memiliki adab-adab bermajelis. Secara harfiah pengertian majelis adalah lembaga atau sekelompok orang yang merupakan satu kesatuan dengan tujuan yang sama.

Menghadiri sebuah kegiatan atau acara menjadi salah satu kebutuhan bagi manusia sebagai makhluk sosial. Apalagi pertemuan yang memiliki tujuan baik dan mengharap keridhoan Allah, seperti halnya kegiatan belajar atau menuntut ilmu, pengajian, silaturahmi, dan bekerja. Maka pertemuan dalam majelis ini akan mendapatkan rahmat dan perlindungan dari Allah.

Seusai kegiatan majelis tersebut, biasanya akan ada acara penutupan sebagai simbol untuk mengakhiri pertemuan. Sebelum mengucapkan salah penutup, alangkah baiknya membaca doa kafaratul majelis (penutup majelis) terlebih dahulu, supaya mendapatkan berkah. Pasalnya setiap kegiatan yang dimulai dengan baik, hendaknya ditutup dengan baik pula agar senantiasa dirahmati oleh Allah.

Lebih lanjut, dirangkum brilio.net dari berbagai sumber, berikut doa kafaratul majelis beserta terjemahan dan keutamaannya, pada Senin (2/5).

 

 

 

 

 

Doa kafaratul majelis.

Doa kafaratul majelis © 2022 berbagai sumber

foto: pexels.com

Doa kafaratul majelis menjadi bentuk permohonan ampunan kepada Allah atas segala dosa yang telah diperbuat. Berikut doa kafaratul majelis yang paling sering dilafalkan dalam kegiatan majelis atau acara lainnya.

Doa kafaratul majelis © 2022 berbagai sumber



foto: istimewa

"Subhaanakallaahumma wa bìhamdìka, asyhadu al-laa ìlaaha ìllaa anta, astaghfìruka, wa atuubu ìlaìka."

Artinya:

"Maha Suci Engkau, ya Allah Tuhanku, dan aku memuji syukur kepada-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Engkau. Ampunilah dosa-dosaku dan aku bertaubat kepada-Mu." (HR. Tirmidzi)

Keutamaan doa kafaratul majelis.

Doa kafaratul majelis © 2022 berbagai sumber

foto: pexels.com

1. Dapat menghapuskan dosa.

Dari Abu Barzah Al-Aslami, beliau berkata Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam saat hendak berdiri (meninggalkan) majelis berdoa:

"Maha Suci Engkau Ya Allah dan segala puji bagiMu, Aku bersaksi tiada tuhan (yang berhak diibadahi) kecuali Engkau, aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu."

2. Memudahkan jalan menuju surga.

Keutamaan doa kafaratul majelis yaitu memudahkan jalan menuju surga. Hal ini karena perkumpulan atau majelis pasti memiliki tujuan untuk menambah ilmu. Kegiatan ini sangat disenangi oleh Allah, bahkan Rasulullah pernah bersabda,

"Barang siapa yang menempuh perjalanan untuk mencari ilmu, maka akan Allah mudahkan jalannya menuju surga." (HR. Muslim)

3. Ilmu menjadi bermanfaat.

Doa kafaratul majelis dibaca ketika acara atau majelis selesai, maka dari itu pertemuan di majelis akan memberikan ilmu-ilmu yang bermanfaat. Supaya pertemuan tersebut mendapat keridhoan Allah alangkah baiknya ditutup dengan doa kafaratul majelis.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Setiap kaum yang bangkit dari majelis yang tidak ada dzikir pada Allah, maka selesainya majelis itu seperti bangkai keledai dan hanya menjadi penyesalan pada hari kiamat." (HR Abu Daud, no. 4855; Ahmad, 2: 389. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

4. Menguatkan iman dan ketakwaan.

Doa kafaratul majelis juga menjadi salah satu cara meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Dari sebuah hadits An-Nasai juga, Aisyah pernah menanyakan kepada Nabi Muhammad SAW mengenai kegiatannya.

Dari Aisyah RA ia berkata, "Tidaklah Nabi duduk di majelis, tidak pula membaca Alquran dan tidak pula sholat kecuali menutupnya dengan kalimat-kalimat tersebut. Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, aku melihatmu tidaklah duduk di suatu majelis, tidak juga membaca Alquran dan juga tidak sholat kecuali engkau tutup dengan kalimat tersebut?'

Kemudian, Nabi Muhammad SAW bersabda, 'Iya, siapa yang berkata baik akan ditutup dengan stempel kebaikan, dan siapa yang berkata buruk, akan menjadi penghapus dosanya. Yaitu subhanakallahumma wabihamdika asyhadu an laa ilaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika." (HR An Nasa'i)

5. Meredam kemurkaan Allah.

Menurut sebuah hadits, Rasulullah SAW pernah bersabda, "Barangsiapa yang tidak meminta pada Allah, maka Allah akan murka kepadanya." (HR. Tirmidzi no. 3373. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Landasan hukum doa kafaratul majelis.

Doa kafaratul majelis © 2022 berbagai sumber

foto: pexels.com

Ada tiga hadits yang menjadi landasan doa kafaratul majelis, berikut ini penjelasannya.

1. Dari Abu Hurairah r.a.

Abu Hurairah r.a meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

"Barangsiapa yang duduk di suatu majelis lalu banyak senda guraunya (kalimat yang tidak bermanfaat untuk akhirannya), maka hendaklah ia mengucapkan sebelum bangun dari majelisnya itu,

'Subhaanakallaahumma wa bihamdika, asyhadu al-laa ilaaha illaa anta, astaghfiruka, wa atuubu ilaik'

Artinya:

"Maha Suci Engkau, wahai Allah, dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Aku meminta ampun kepada-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu); kecuali diampuni baginya dosa-dosa selama di majelisnya itu." (HR. Tirmidzi, no. 3433)

2. Dari Abu Barzah r.a.

Abu Barzah r.a, berkata, "Rasulullah SAW mengucapkan ketika di akhir (pertemuan) ketika beliau akan bangun dari majelis,

‘Subhaanakallaahumma wa bihamdika, asyhadu al-laa ilaaha illaa anta, astaghfiruka, wa atuubu ilaik’

Artinya:

"Mahasuci Engkau, wahai Allah, dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Aku meminta ampun kepada-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu."

Lantas ada juga seseorang yang berkata, "Wahai Rasulullah, Engkau mengucapkan ucapan yang belum pernah Engkau ucapkan sebelumnya."

Mendengar hal tersebut, Beliau menjawab, "Itu adalah kafarat bagi dosa yang terjadi selama di dalam majelis." (HR. Abu Daud, no. 4859)

3. Dari Ibnu 'Umar r.a.

Ibnu 'Umar r.a, berkata, "Jarang sekali Rasulullah saw. berdiri dari suatu majelis sampai Beliau berdoa dengan doa-doa ini:

"Allohummaqsim lanaa min khosy-yatika maa tahuulu bihi baynanaa wa bayna ma’aashik, wa min thoo’atika maa tuballighunaa bihi jannatak, wa minal yaqiini maa tuhawwinu ‘alaynaa mashoo-ibad dunyaa. allohumma matti’na bi asmaa’inaa wa ab-shorinaa, wa quwwatinaa maa ahyaytanaa, waj’alhul waaritsa minnaa, waj’al tsa’ronaa ‘ala man zholamanaa, wan-shurnaa ‘alaa man ‘aadaanaaa, wa laa taj’al mushibatanaa fii diininaa wa laa taj’alid dunyaa akbaro hamminaa, wa laa mab-lagho ‘ilminaa, wa laa tusallith ‘alaynaa mallaa yarhamunaa."

Artinya:

"Ya Allah, berikanlah kepada kami rasa takut kepada-Mu sebagai penghalang untuk bermaksiat kepada-Mu, ketaatan kami kepada-Mu sebagai jalan yang menyampaikan kami ke surga-Mu, dan keyakinan kami kepada-Mu sebagai penenang bagi kami atas musibah dunia yang menimpa.

Ya Allah, berikanlah kenikmatan pada pendengaran kami, penglihatan kami, dan kekuatan pada kami selama Engkau memberikan kehidupan bagi kami, dan jadikanlah kenikmatan tersebut terus-menerus bagi kami.

Balaskanlah dendam kami terhadap orang-orang yang telah menzalimi kami, menangkanlah kami atas orang-orang yang memusuhi kami, janganlah Engkau menjadikan musibah pada kami menimpa agama kami, dan janganlah Engkau menjadikan dunia sebagai cita-cita terbesar bagi kami, tidak menjadi tujuan ilmu kami, dan janganlah Engkau memberikan kekuasaan atas kami kepada orang yang tidak menyayangi kami (orang kafir, munafik, fasik dan zalim, pen)." (HR. Tirmidzi, no. 3502)