Landasan hukum doa kafaratul majelis.

Doa kafaratul majelis © 2022 berbagai sumber

foto: pexels.com

Ada tiga hadits yang menjadi landasan doa kafaratul majelis, berikut ini penjelasannya.

1. Dari Abu Hurairah r.a.

Abu Hurairah r.a meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,

"Barangsiapa yang duduk di suatu majelis lalu banyak senda guraunya (kalimat yang tidak bermanfaat untuk akhirannya), maka hendaklah ia mengucapkan sebelum bangun dari majelisnya itu,

'Subhaanakallaahumma wa bihamdika, asyhadu al-laa ilaaha illaa anta, astaghfiruka, wa atuubu ilaik'

Artinya:

"Maha Suci Engkau, wahai Allah, dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Aku meminta ampun kepada-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu); kecuali diampuni baginya dosa-dosa selama di majelisnya itu." (HR. Tirmidzi, no. 3433)

2. Dari Abu Barzah r.a.

Abu Barzah r.a, berkata, "Rasulullah SAW mengucapkan ketika di akhir (pertemuan) ketika beliau akan bangun dari majelis,

‘Subhaanakallaahumma wa bihamdika, asyhadu al-laa ilaaha illaa anta, astaghfiruka, wa atuubu ilaik’

Artinya:

"Mahasuci Engkau, wahai Allah, dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Aku meminta ampun kepada-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu."

Lantas ada juga seseorang yang berkata, "Wahai Rasulullah, Engkau mengucapkan ucapan yang belum pernah Engkau ucapkan sebelumnya."

Mendengar hal tersebut, Beliau menjawab, "Itu adalah kafarat bagi dosa yang terjadi selama di dalam majelis." (HR. Abu Daud, no. 4859)

3. Dari Ibnu 'Umar r.a.

Ibnu 'Umar r.a, berkata, "Jarang sekali Rasulullah saw. berdiri dari suatu majelis sampai Beliau berdoa dengan doa-doa ini:

"Allohummaqsim lanaa min khosy-yatika maa tahuulu bihi baynanaa wa bayna ma’aashik, wa min thoo’atika maa tuballighunaa bihi jannatak, wa minal yaqiini maa tuhawwinu ‘alaynaa mashoo-ibad dunyaa. allohumma matti’na bi asmaa’inaa wa ab-shorinaa, wa quwwatinaa maa ahyaytanaa, waj’alhul waaritsa minnaa, waj’al tsa’ronaa ‘ala man zholamanaa, wan-shurnaa ‘alaa man ‘aadaanaaa, wa laa taj’al mushibatanaa fii diininaa wa laa taj’alid dunyaa akbaro hamminaa, wa laa mab-lagho ‘ilminaa, wa laa tusallith ‘alaynaa mallaa yarhamunaa."

Artinya:

"Ya Allah, berikanlah kepada kami rasa takut kepada-Mu sebagai penghalang untuk bermaksiat kepada-Mu, ketaatan kami kepada-Mu sebagai jalan yang menyampaikan kami ke surga-Mu, dan keyakinan kami kepada-Mu sebagai penenang bagi kami atas musibah dunia yang menimpa.

Ya Allah, berikanlah kenikmatan pada pendengaran kami, penglihatan kami, dan kekuatan pada kami selama Engkau memberikan kehidupan bagi kami, dan jadikanlah kenikmatan tersebut terus-menerus bagi kami.

Balaskanlah dendam kami terhadap orang-orang yang telah menzalimi kami, menangkanlah kami atas orang-orang yang memusuhi kami, janganlah Engkau menjadikan musibah pada kami menimpa agama kami, dan janganlah Engkau menjadikan dunia sebagai cita-cita terbesar bagi kami, tidak menjadi tujuan ilmu kami, dan janganlah Engkau memberikan kekuasaan atas kami kepada orang yang tidak menyayangi kami (orang kafir, munafik, fasik dan zalim, pen)." (HR. Tirmidzi, no. 3502)