Mungkinkah ada tugas penting yang sedang kamu kesampingkan untuk membaca artikel ini? Atau mungkin kamu sering merasa perlu memposting beberapa tweet dahulu sebelum belajar, menonton beberapa video youtube dahulu sebelum mengerjakan tugas, atau mungkin membersihkan kamar dahulu sebelum mengerjakan deadline pekerjaan? Jika iya, mungkin kamu perlu mengetahui fakta procrastination berikut.

Procrastination?

Procrastination, kebiasaan tunda pekerjaan yang turunkan produktivitas

Procrastination secara etimologis berasal dari kata kerja Latin Procrastinare yang berarti untuk ditunda besok. Procrastination adalah kebiasaan menunda atau mengesampingkan mengerjakan tugas penting dan prioritas namun sulit, dan menggantinya dengan kegiatan lain yang kurang mendesak, lebih menyenangkan, dan lebih mudah.

Mungkin banyak yang akan bertanya lantas apakah sama procrastination dengan malas? Jawabanya tidak, mereka berbeda. Procrastination merupakan sebuah proses aktif di mana kamu memilih untuk melakukan sesuatu yang lain daripada tugas yang seharusnya kamu lakukan. Sedangkan sebaliknya, kemalasan menunjukkan sikap apatis dan keengganan untuk bertindak. Proscrastination biasanya melibatkan pengabaian tugas yang kamu rasa tidak meyenangkan atau sulit namun kemungkinan lebih penting.

Procrastinationbukan masalah manajemen waktu.

Procrastination, kebiasaan tunda pekerjaan yang turunkan produktivitas

Menurut Dr. Tim Pychyl, Profesor Psikologi dan anggota penelitian tentang procrastination di Univesitas Carleton Ottawa, procrastination bukan merupakan masalah manajemen waktu namun merupakan masalah regulasi emosi.

Beberapa alasan procrastination terasa mendominasi di antaranya adalah perasaan kurang mampu menyelesaikan tugas, perasaan tidak berdaya menghadapi tantangan, mengikuti kebiasaan orang sekitar, perasaan takut akan gagal, perasaan masih memiliki banyak waktu, hingga depresi.

Sedangkan beberapa psikolog meneyebutkan beberapa faktor yang memengaruhi timbulnya procrastination di antaranya konsep diri tentang masa depan, tendensi menjadi perfeksionis, rendah diri hingga perasaan marah. Individu yang lebih mementingkan masa depan memiliki kecenderungan menerapkan procrastination lebih rendah. Sebaliknya individu yang memiliki tendensi menjadi perfeksionis akan sibuk mencari kesempurnaan dan melupakan waktu yang terbuang akibat procrastination. Sedangkan faktor kemarahan sesorang akan membuatnya kehilangan motivasi melakukan pekerjaan sehingga procrastination muncul. Faktor rendah diri juga membuat individu tidak percaya dengan kemampuannya sendiri yang akan memunculkan perilaku procrastination.

Perasaan dan tindakan yang menggambarkan si Procrastinatinate.

Beberapa perasaan dan tindakan yang menggambarkan kondisi saat kamu mengalami procrastination di antaranya adalah adanya perasaan apabila pekerjaan ditunda akan menjadi lebih baik karena ide yang lebih baik akan muncul atau dibutuhkan waktu yang tepat untuk mengerjakan tugas, membuang banyak waktu memikirkan bagaimana cara termudah untuk melakukan pekerjaan serta merasa ragu-ragu untuk memulai sebuah pekerjaan. Dan yang paling penting saat menghadapi pekerjaan yang tidak menyenangkan, membosankan atau membuat ragu dengan kemampuan diri, kamu akan menghindari pekerjaan tersebut dan justru mengerjakan tugas lain yang bukan prioritas.

Procrastination, kebiasaan tunda pekerjaan yang turunkan produktivitas

Dampak Procrastination bukan hanya tentang psikologis.

Procrastination, kebiasaan tunda pekerjaan yang turunkan produktivitas

Timothy Pychyl, Profesor di Carleton University, Ottawa, Kanada mengatakan procrastinationmerupakan perilaku menghindari tanggung jawab tugas yang menanti karena perasaan takut dan cemas sehingga memilih untuk mencari kesenangan lain yang memberikan kesenangan sementara. Namun saat tersadar tugas belum terselesaikan perasaan bersalah, panik, stres, khawatir, depresi dan meragukan diri sendiri yang akan muncul.

Dalam dunia kerja jika procrastination terjadi dalam jangka waktu yang lama kamu mungkin akan menjadi terdemotivasi dan kecewa dengan kinerja, mengalami penurunan produktivitas kerja yang juga akan menggangu kesehatan mental dan fisik bahkan mungkin berdampak pada kehilangan pekerjaan hingga depresi.

Sedangkan dampak fisiologis di antaranya termasuk akan timbul perasaan kepuasan hidup yang rendah, gejala depresi dan kecemasan, hingga penyakit kronis seperti hipertensi dan penyakit kardiovaskular. Bahkan sebuah penelitian bahkan mengungkapkan individu yang memiliki kebiasaan menunda pekerjaan memiliki kecenderungan untuk makan lebih sedikit dan minum lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang mengerjakan tugas tepat waktu.

Memang terasa ironis bahwa kamu menunda-nunda melakukan sebuah pekerjaan untuk menghundari perasaan negatif namun akhirnya malah merasa lebih buruk. Sehingga sangat penting untuk mengambil langkah proaktif untuk mencegahnya.

Apa yang harus dilakukan saat Procrastination menyerang?

Procrastination, kebiasaan tunda pekerjaan yang turunkan produktivitas

Penelitian yang dilakukan di Universitas Carleton menunjukkan sebanyak 94 persen responden mengatakan kebiasaan procrastination mempengaruhi kebahagiaan mereka secara negatif bahkan sebanyak 19 persen mengatakan efeknya sangat negatif. Sehingga kamu perlu menghentikan kebiasaan untuk mulai bekerja di saat-saat terakhir dan perlu mengingat bahwa melakukan pekerjaan secara apa adanya lebih baik dibandingkan keinginan untuk mengerjakan secara sempurna namun pekerjaan justru tidak selesai. Yang paling penting untuk kamu sadari bahwa procrastination adalah tentang emosi bukan produktivitas. Sehingga sebagai solusi adalah bukan dengan melibatkan pengunduhan aplikasi manajemen waktu tapi lebih kepada bagaimana cara kamu mengelola emosimu dengan cara yang baru.

Beberapa langkah ini dapat menjadi solusi saat procrastination menghantui pekerjaanmu. Pertama kenali bahwa kamu mengalami procrastination. Selanjutnya memaafkan dirimu sendiri karena menunda-nunda di masa lalu. Kenapa kamu perlu memaafkan diri sendiri? Dalam sebuah studi pada tahun 2010, para peneliti mengungkapkan bahwa siswa yang mampu memaafkan diri sendiri karena menunda-nunda saat belajar untuk ujian pertama akan menjadi lebih sedikit untuk menunda ketika belajar pada ujian berikutnya. Yang ketigakamu perlu memberikan reward saat sudah berhasil bertindak. Menurut Dr Judson Brewer Direktur Research and Innovation di Brown Universitys Mindfulness Center, otak kamu akan selalu mencari reward sehingga apabila kamu sedang berusaha untuk menunda pekerjaan, otakmu akan terus melakukannya sampai kamu dapat memberikan reward. Sehingga sangat penting menemukan reward untuk menghindari procrastination. Selain itu beberapa langkah yang perlu kamu lakukan di antaranya adalah meminimalkan gangguan, melakukan tugas yang paling tidak menyenangkan di awal, berpikir apa saja konsekuensi karena menunda pekerjaan, serta membuat deadline dan berusaha mematuhi.

Procrastination memang memberikan sebuah perasaan lega dan bahagia. Namun yang perlu diingat perasaan tersebut hanya sementara. Sangat penting untuk mengetahui apabila kamu mengalami procrastination sehingga kamu dapat mengatasinya. Jadi bagaimana? Sudah siap untuk hidup yang lebih produktif?

"You may delay, but time will not. And lost time is never found again?" -Benjamin Franklin