Relationships merupakan sentral kajian komunikasi interpersonal, bahkan sejak tahun 1960-an penelitian mengenai relationships telah dilakukan dari berbagai macam perspektif. Signifikansi relationships dalam komunikasi interpersonal terletak pada hubungan antara konsep komunikasi dengan konsep relationships.

Menurut Ruben (1992), terdapat tiga hal yang dapat menjelaskannya. Pertama terkait dengan salah satu hal yang paling mendasar dari hasil komunikasi yang dilakukan manusia adalah dalam rangka mengembangkan sistem sosial, dan tidak ada satu sistem pun yang lebih sentral dalam kehidupan manusia selain relationships. Kedua, relationships yang kita bangun-dengan orang tua, kerabat, teman, handai taulan-sangat penting untuk pembelajaran, pertumbuhan dan perkembangan. Ketiga, sebuah relationships merupakan salah satu hal paling utama yang diperlukan bagi berlangsungnya aktivitas komunikasi.

Dalam Littlejohn (2002), beberapa asumsi yang mendasari sebuah relationships antara lain relationships dikaitkan dan tidak dapat dipisahkan dari komunikasi, ciri-ciri komunikasi ditentukan oleh komunikasi di antara pihak-pihak yang terlibat, relationships biasanya didefinisikan secara implisit dan berkembang seiring berjalannya waktu melalui proses negosiasi di antara pihak-pihak yang terlibat di dalamnya.

Suatu relationship dapat dipahami secara berbeda sesuai dengan pengertian konsepnya. Dalam arti yang paling umum, relationships ada apabila terjadi proses pertukaran pesan secara timbal balik, ketika dua orang atau lebih saling memberikan reaksi terhadap pesan verbal dan non verbal. Hal ini berarti melalui komunikasi interpersonal, suatu relationships dimulai, berkembang, tumbuh atau justru memburuk. Sehingga, dalam hal ini relationships dimaksudkan sebagai hal yang dibentuk secara sadar, disengaja dan di dalamnya terdapat upaya memelihara keberlangsungannya. Terdapat sejumlah faktor dalam mengidentifikasikan sesuatu termasuk dalam relationships atau tidak, antara lain jumlah pihak yang terlibat, tujuan yang ingin dicapai, jangka waktu keterlibatan dan tingkat keintiman yang terjadi (Ruben, 1992:325).

Pertama, terkait dengan jumlah peserta dalam sebuah relationships.

Sebagian besar relationships memang terdiri dari dua orang (dyads relationships), namun dalam konteks sebagai bagian dari sistem sosial, relationships terdiri dari tiga (triadic relationships) atau bahkan empat (quadratic relationships) orang. Terdapat perbedaan kompleksitas antara triadicdan quadratic relationships dengan dyads relationships. Pada triadic dan quadratic relationships, potensi terbentuknya koalisi, kepemimpinan dan terkadang konflik secara terbuka sangat dimungkinkan.

Selanjutnya, faktor kedua tentang tujuan yang ingin dicapai dalam relationships yang kita bangun.

Secara garis besar tujuan relationship dibedakan atas penyelesaian tugas (task relationships) dan orientasi sosial (social relationships). Relationships yang dibentuk dengan tujuan untuk penyelesaian tugas, dapat kita lihat misalnya dalam konteks hubungan antara pemilik dengan pegawainya, guru dengan murid, dokter dengan pasien, terapis dengan pasien, pemimpin dengan pengikut.Sedangkan relationships yang dibentuk dengan orientasi sosial, adalah relationships yang bertujuan untuk menyediakan sarana pengalihan, rekreasi, keintiman atau persahabatan.

Faktor ketiga yang memiliki pengaruh signifikan pada sifat relationships adalah jangka waktu atau usia relationships itu sendiri.

Sebagian besar dari kita terlibat dalam setidaknya beberapa relationships yang bersifat jangka panjang, seperti dengan anggota keluarga, dengan kerabat, kekasih dan teman-teman. Di samping itu kita juga terlibat dalam pembentukan dan atau pemeliharaan dalam sejumlah relationships yang bersifat sementara. Di antara hubungan yang bersifat jangka panjang dan sementara, kita juga terlibat dalam relationships jangka pendek. Relationship dalam jangka pendek dapat menarik dan fungsional justru karena relationships jenis ini dilihat sebagai relationships yang memungkinkan fleksibilitas pribadi karena kurang atau sedikit membutuhkan komitmen untuk menindaklanjuti suatu relationships.

Keempat, faktor yang dapat menentukan termasuk dalam relationships atau tidak yaitu tingkat keintiman yang terjadi.

Relationships antara kenalan ditandai dengan pola komunikasi yang bersifat impersonal dan ritual, yang berarti relationships tersebut memiliki karakteristik kurangnya saling keterbukaan diri dan pengungkapan hal-hal lain yang bersifat personal. Dengan kata lain, relationships jenis ini memiliki tingkat keintiman yang rendah. Sebaliknya, relationships yang bersifat intim memiliki karakteristik keterbukaan diri dan pengungkapan hal-hal yang bersifat personal lebih tinggi. Di antara kedua jenis relationships tersebut terdapat relationships jenis casual yang dapat kita lihat pada relationships antara teman dan kolega.

Perkembangan sebuah relationships ditandai melalui serangkaian tahapan yang relatif bersifat dapat diprediksi. Diawali dari sebuah pertemuan sosial, kemudian masuk ke tahap peningkatan interaksi. Lalu meningkat pada tahap menciptakan peraturan bersama. Pada tahap ini, kebanyakan relationships memformalitaskan status mereka, seperti misalnya dalam perkawinan atau kontrak bisnis yang legal. Sebuah relationships dapat berhenti pada salah satu tahapan, untuk kembali bangkit dan melangkah pada tahap berikutnya. Atau, berhenti dan tetap dalam satu tahap tertentu untuk jangka waktu yang lama.

Perkembangan penelitian relationships.

Terdapat kebutuhan untuk membahas relationships dari perspektif sejarah perkembangannya karena pemahaman relationships secara holistik hanya bisa dipahami dengan mengetahui substansi historisnya (Littlejohn & Foss, 2009:828-843). Secara historis, pada tahun 1960-an selama pengembangan awal lingkup komunikasi interpersonal dilakukan, hanya terdapat sedikit teori komunikasi yang dapat digunakan, sehingga untuk mengisi kekosongan teori dilakukan peminjaman dari displin lain, terutama dari disiplin psikologi. Dalam konteks waktu itu, hal tersebut merupakan pilihan yang wajar dan alami untuk dilakukan, yang membawa pengaruh besar dalam penelitian. Dipandu oleh perspektif disiplin psikologi, teori-teori interpersonal sebagian besar didasarkan pada perspektif individu yang dijadikan sebagai perhatian utamanya. Dari awal, perspektif disiplin psikologi menjadi perspektif yang digunakan untuk mempelajari komunikasi interpersonal yang sampai saat ini tetap merupakan lingkup penelitian yang penting.

Salah satu tema penelitian yang penting pada periode tahun 1960-1970-an adalah penelitian dari Irwin Altman dan Dalmas Taylor dengan teori penetrasi sosial. Teori ini mengidentifikasi proses peningkatan pengungkapan dan keintiman dalam sebuah relationships. Para peneliti awal yang meneliti penetrasi sosial terfokus pada perilaku dan motivasi individu. Penetrasi sosial menggerakan sebuah tradisi penelitian lama dalam pengembangan hubungan (relational development). Selanjutnya, beberapa penelitian yang terkait dalam relational developmentdi antaranya yang dilakukan oleh Charles Berger (Uncertainty reduction theory), William Gudykunst (Anxiety-uncertainty management) dan Sandra Petronio (boundary management theory).

Uncertainty reduction theory merupakan teori yang terkait dengan cara-cara kita dalam mengumpulkan informasi tentang orang lain, dalam arti berhubungan dengan cara-cara kita memantau lingkungan sosial kita dan menjadi tahu lebih banyak tentang diri kita sendiri dan orang lain. Sedangkan anxiety-uncertainty management telah diterapkan oleh William Gudykunst untuk situasi-situasi persilangan budaya. Temuan penelitiannya menyatakan bahwa semua budaya berusaha untuk mengurangi ketidakpastian dalam relationships, terutama pada tahap-tahap awal, tetapi budaya-budaya tersebut melakukannya dengan cara yang berbeda antara budaya konteks tinggi dengan budaya konteks rendah.

Sementara boundary management theory menurut Sandra Petronio menjelaskan bahwa individu, ketika masuk di dalam hubungan akan secara konstan mengelola batasan antara publik dan privat, antara perasaan dan pikiran di mana mereka ingin untuk berbagi dengan yang lain dan di mana mereka tidak akan melakukan itu. Batasan adalah garis antara yang privat dan yang tidak privat. Suatu saat batasan itu dapat ditembus dengan arti bahwa infomasi bisa diungkapkan. Di saat yang lain tidak bisa ditembus dan tidak bisa dibagi. Pengelolaan batasan yang tertutup dapat dijadikan acuan kepada otonomi yang besar dan keselamatan, sebaliknya batasan yang terbuka dapat menawarkan keintiman yang luar biasa.

Pada tahun 1970-an, komunikasi sebagai disiplin masih dalam tahap awal pengembangan, terdapat kejenuhan pada perspektif psikologi sehingga terdapat upaya untuk menumbuhkan perspektif alternatif, khususnya yang menempatkan komunikasi di garis depan dalam teori interpersonal. Selama periode waktu yang sama, pengaruh teori sistem sedang dirasakan pada dunia ilmu pengetahuan dan memiliki dampak yang besar pada studi komunikasi interpersonal dan menjadi perspektif alternatif.

Prinsip-prinsip utama teori sistem menekankan pada bahasa relationships didasarkan pada pandangan sistemik terkait dengan sifat suatu peristiwa. Teori ini menguraikan kerangka umum untuk berpikir relasional, dan menjadi alternatif dalam mengkonseptualisasikan komunikasi interpersonal secara berbeda dengan pendekatan yang lebih tradisional yang memfokuskan pada suatu objek tunggal atau peristiwa. Teori sistem menawarkan pendekatan yang lebih menyeluruh, terkait dengan proses komunikasi dan pembentukan kualitas relationships secara sosial. Terdapat banyak faktor yang terlibat dalam evolusi lingkup studi ini, tetapi teori sistem merupakan salah satu yang bersifat lebih umum sebagai pengaruh awal dalam pengembangan teori-teori yang berfokus pada relationships.

Sejak periode ini, sejumlah pendekatan teoritis yang berbeda telah mengenalkan pergeseran perhatian yang berfokus pada proses komunikasi. Kualitas dan implikasi dari tindak komunikatif yang terjadi di antara individu menjadi titik fokus perhatian. Perkembangan teori komunikasi yang berpusat pada hal-hal di luar individu terkait erat dengan perkembangan teori-teori komunikasi relasional. Penelitian relationships dalam periode 1970-1980-an dipengaruhi oleh teori sistem dan teori sibernetika sehingga yang berkembang adalah penelitian-penelitian terkait relational control dan relational dialectics. Beberapa penelitian yang terkait dalam relational dialectics di antaranya yang dilakukan oleh Leslie Baxter dan Barbara Montgomery serta William Rawlins.

Menurut Leslie Baxter dan Barbara Montgomery, dialektika adalah ketegangan antara dua atau lebih elemen yang saling bertolak belakang dari sistem. Analisis dialektika melihat cara di mana sistem terbangun atau berubah, bagaimana ini bergerak dalam rangka merespon ketegangan ini. Dalam dialektika, relationships didefinisikan dan dibentuk sepanjang waktu dengan cara pengelolaan kontradiksi rekanan. Pengelolaan dari kontradiksi adalah kekuatan utama yang memandu dalam pembangunan relationships. Pembangunan berimplikasi berubah sepanjang waktu dan hubungan berubah dalam beragam cara.

Dialektika dalam persahabatan dikembangkan oleh William Rawlins yang meyakini bahwa persahabatan pada tahap manapun dari kehidupan menampilkan sekumpulan tantangan yang menarik dan sering kali kompleks. Tantangan-tantangan dalam persahabatan terutama muncul dari kebutuhan untuk menangani berbagai kontradiksi atau dialektika, yang dibagi atas dua, yaitu dialektika kontekstual dan dialektika interaksional. Dialektika kontekstual berhubungan dengan pengertian persahabatan dalam budaya yang lebih luas atau bisa dikaitkan dengan dialektika antara yang ideal dan yang riil. Sedang dialektika interaksional berhubungan dengan kerancuan dari komunikasi sehari-hari dalam setiap persahabatan

Sejak tahun 1980-an, telah terjadi pertumbuhan minat dalam lingkup studi relationships, sejalan dengan pengembangan teori relasional dari sejumlah perspektif yang berbeda. Teori-teori yang berkembang selama periode ini berpusat pada komunikasi yang memiliki fokus pada pemahaman tentang relationships, namun berbeda dalam aspek yang ditinjau dan perspektif yang diambil. Secara umum, teori-teori dalam periode ini berasal dari dua perspektif yang berbeda untuk mempelajari relationships, yakni perspektif tipologis dan perspektif proses. Secara singkat, perspektif tipologis didasarkan pada gambaran umum dari berbagai jenis hubungan, sementara perspektif proses didasarkan pada dimensi waktu komunikasi, yang menjelaskan tahapan relationships.

Penelitian relationships dalam periode ini lebih terkait dengan pemeliharaan hubungan (relational maintenance). Pemeliharaan relationships secara umum mengacu pada perilaku kelompok, tindakan dan kegiatan yang dilakukan individu untuk mempertahankan relationships yang diinginkan (kedekatan dan atau keintiman) dan jenis relationships (kencan, teman baik). Beberapa penelitian pemeliharaan relationships, di antaranya penelitian tentang definisi pemeliharaan relationships serta studi mengenai perilaku pemeliharaan relationships.

Pendefinisian pemeliharaan relationships dilakukan dalam beberapa penelitian yang dilakukan, salah satunya menurut Kathryn Dindia dan Daniel Canary yang menemukan terdapat empat definisi pemeliharaan relationships.Definisi pertama terkait dengan upaya menjaga relationships yang ada, dipahami sebagai mempertahankan keberadaan relationships yang sering kali berisi perilaku rutinitas sehari-hari. Kedua, definisi untuk menjaga relationships dalam keadaan tertentu atau kondisi yang menyiratkan mempertahankan tahapan dalam relationships. Definisi kedua ini berhubungan dengan kualitas atau karakteristik tertentu. Ketiga, definisi terkait dengan upaya menjaga relationships yang berada dalam kondisi memuaskan, sehingga definisi ini menekankan pada menjaga relationships yang saling memuaskan bagi kedua belah pihak. Keempat, definisi dikaitkan dengan upaya untuk menjaga relationships dalam tahap perbaikan. Definisi keempat ini memiliki dua arti yang berbeda, pertama terkait dengan upaya menjaga relationships dalam kondisi baik, dan kedua terkait dalam upaya untuk memperbaiki relationships yang telah rusak. Sedangkan studi mengenai perilaku pemeliharaan relationships menjadi terkenal di bidang komunikasi ketika Laura Stafford dan Canary mengidentifikasi lima perilaku utama dalam pemeliharaan relationships yang biasa digunakan oleh pasangan yang menikah, meliputi sikap positif, keterbukaan, jaminan, jaringan sosial, dan berbagi tugas.

Terkait dengan relational maintenance, terdapat beberapa perspektif teoritis yang telah digunakan dalam penelitian perilaku pemeliharan relationships, yakni teori interdependensi, teori equity dan konsep perbedaan individu.

Teori interdependensi berdasarkan pada orientasi pertukaran sosial, yakni saling ketergantungan pada individu. Pada dasarnya, teori ini membicarakan tentang biaya dan manfaat yang diperoleh dalam relationships untuk dibandingkan dengan harapan pihak yang terlibat dalam relationships.

Sedangkan teori equity memeriksa biaya dan manfaat dalam relationships. Berpendapat bahwa relationships yang adil dan memuaskan akan terjadi apabila rasio antara biaya dan manfaat yang diperoleh masing-masing pihak dalam suatu relationships sama. Namun kedua teori ini, yakni teori interdependensi dan teori equity dianggap tidak dapat memberikan kecukupan pemahaman terkait dengan bagaimana dan mengapa perilaku pemeliharaan relationships dilakukan. Untuk itu digunakan perbedaan individu dalam memahami mengapa orang mengunakan perilaku tertentu dalam memelihara relationships.

Penelitian tentang relational maintenance bukanlah tanpa masalah dan kontroversi, salah satu sumber utama perdebatan yang terjadi berkisar pada cara terbaik, terkait dengan perspektif teori yang digunakan untuk menjelaskan penggunaan perilaku pemeliharaan relationships. Masalah lainnya adalah perbedaan perilaku pemeliharaan relationships antara jenis-jenis relationships yang berbeda. Dengan demikian, terdapat kebutuhan lebih lanjut adanya penelitian terkait dengan pemeliharaan relationships dalam suatu bentuk khusus relationships.