×
Sign in

Hello There

Sign In to Brilio

Welcome to our Community Page, a place where you can create and share your content with rest of the world

  Connect with Facebook   Connect with Google
Pennywise the Dancing Clown dan ketakutan kita pada PKI

0

Politik

Pennywise the Dancing Clown dan ketakutan kita pada PKI

Film 'IT' adalah refleksi tepat untuk kondisi masyarakat Indonesia saat ini.

Disclaimer

Artikel ini merupakan tulisan pembaca Brilio.net. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Silakan klik link ini untuk membaca syarat dan ketentuan creator.brilio.net. Jika keberatan dengan tulisan yang dimuat di Brilio Creator, silakan kontak redaksi melalui e-mail redaksi@brilio.net

Obed K. Widyapratistha

27 / 09 / 2017 09:33

Saya sudah lunas menonton film "IT". Film horor – sebenarnya tidak horor banget sih – terbaru  yang diadaptasi dari novel karya Stephen King dengan judul sama ternyata cukup relevan dengan kondisi masyarakat Indonesia saat ini.

Pennywise the Dancing Clown adalah tokoh ikonik dalam film ini yang digambarkan sebagai pelaku kekacauan dan pembunuhan warga kota Derry. Bentuk rupanya layaknya badut pada umumnya; berwajah lucu dengan bedak tebal, berpakaian gaya era Victoria, membawa balon (merah) dan meringis menggoda anak-anak yang ditemuinya (saya ngefans sekali dengan senyuman demonicnya). Dia hidup di Wellhouse, di pertemuan saluran irigasi bawah tanah kota. Kemunculannya setiap 27 tahun sekali, ditandai dengan menghilangnya puluhan warga kota secara misterius dan wabah ketakutan yang menyelimuti kota.

Kemunculannya di tahun 1988-1989 meneror sekelompok anak-anak punggawa The Loser Club. Menariknya, gambaran akan teror menakutkan itu begitu subjektif. Mereka tidak hanya melihat rupa "it" sebagai badut. Stanley, seorang anak Rabbi, melihat rupa itu sebagai sesosok perempuan menyeramkan yang sama dengan yang ia lihat di lukisan di ruang kantor ayahnya. Ia pada dasarnya takut melihat lukisan itu setiap kali masuk ke ruangan tersebut.

Beda lagi, Eddie, seorang anak ringkih, penyakitan, dan anak mama, melihat rupa teror itu bagai sesosok penderita lepra dengan cairan cairan kotor yang selalu membuatnya jijik tiap hari. Dia takut akan akan sesuatu yang tidak higenis, yang akan membuatnya sekarat.

Ada juga Mike yang memiliki trauma masa lalu akibat keluarganya terpanggang dalam sebuah kebakaran hebat. Teror itu dilihatnya dalam bentuk raungan dan tarikan potongan potongan tangan gosong.

Loading...

Beverly, satu satunya perempuan dalam geng pecundang memiliki gambaran yang paling menarik; teror itu berupa sosok ayahnya sendiri! Mmm Sejujurnya film ini tidak terlalu memberi gambaran utuh kenapa ayahnya begitu menakutkan. Gerakan tangan nakal dan gimmick mesum nan kasar sang ayah adalah satu-satunya klue bahwa ada perlakuan seksual dari sang ayah pada Beverly yang membuatnya hidup dalam tekanan.

Selain itu masih ada beberapa anak lagi yang melihat dalam bentuk lainnya, termasuk Bill yang kehilangan adiknya yang sebenarnya menjadi plot utama cerita ini. Kamu mungkin juga termasuk yang akan melihat teror itu dalam bentuk lainnya; mantan!

Di Indonesia, bagi kaum kaum far-right-hard-line dan ultraconservatism, ketakutan itu berwajah PKI yang (katanya) hidup kembali layaknya partai partai politik lainnya. Mereka ketakutan setengah mati PKI dan komunisme bakal berjaya di Indonesia. Aksi main hakim sendiri melarang, dan menyerang diskusi diskusi akademik adalah bentuk bentuk rasa panik, cemas dan takut, alih alih bentuk keberanian. Padahal setauku, partai yang punya potensi berjaya ya cuma PSI-nya mbak Grace Natalie, dan Partai Idaman-nya Bang Haji Rhoma. Eh yang terakhir lolos persyaratan gak sih? Hehehe.

Benang merahnya, mereka semua diserang oleh wabah ketakutan yang sebenarnya hanya ilusi dan hanya di kepala masing-masing. Ketakutan itulah yang membunuh dan mengacaukan. Ketakutan itu memecah belah The Loser Club, dan juga masyarakat kita. Membuatnya saling menyalahkan satu sama lain.

Dalam mengalahkan teror, secara umum disimbolkan dalam diri Pennywise, tidak butuh kekerasan yang agresif. Bahkan, Bill dan kelompok pecundangnya tidak perlu teriak teriak "bunuh Pennywise", "ganyang the clown", dan membunuh badut itu dengan tangan mereka sendiri. Mereka hanya perlu menunjukkan keberanian dan menghilangkan ketakutan di pikiran mereka masing-masing. Pennywise the clown dan segala macam teror lainnya beranjak menghilang (kalau tidak mati) karena tak ada ketakutan lagi yang bisa membuatnya hidup.

Bagi kita, ketakutan akan PKI yang ilusif tersebut harus dilawan, bukan dengan melukai orang lain, bukan dengan menghakimi orang lain, bukan dengan membuat rusuh acara orang lain, tetapi dengan keberanian membuka otak kita dari selubung cawet yang menutupinya. Selubung yang membuat kita takut berpikir, takut membaca sejarah, takut menemui perbedaan pendapat, dan takut terhadap perubahan. Jika keberanian itu ada, maka teror dan ketakutan itu akan menghilang bersama Pennywise the Dancing Clown di lubang sumur yang dalam.

Kita semestinya akan hidup dengan lebih baik, setidaknya selama beberapa tahun lagi sampai, mengutip Vedi Hadiz, ada oligarki yang menafaskan kembali ketakutan ilusif dalam diri konservatisme dan ultra-nasionalisme demi kepentingan politik mereka. Hussh..

“Oh yes, indeed they do. They float! And there’s cotton candy...” kata Pennywise pada George. (Stephen King, IT)

 

 

Obed K. Widyapratistha

Source





Pilih Reaksi Kamu
  • Senang

    100%

  • Ngakak!

    0%

  • Wow!

    0%

  • Sedih

    0%

  • Marah

    0%

  • Love

    0%

Loading...

RECOMMENDED VIDEO

Wave white

Subscribe ke akun YouTube Brilio untuk tetap ter-update dengan konten kegemaran Milenial lainnya

-->
MORE
Wave red