×
Sign in

Hello There

Sign In to Brilio

Welcome to our Community Page, a place where you can create and share your content with rest of the world

  Connect with Facebook   Connect with Google
Konklusi kesenian musik tradisional Melayu Jambi

0

Musik

Konklusi kesenian musik tradisional Melayu Jambi

Musik Tradisional Jambi

Disclaimer

Artikel ini merupakan tulisan pembaca Brilio.net. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Silakan klik link ini untuk membaca syarat dan ketentuan creator.brilio.net. Jika keberatan dengan tulisan yang dimuat di Brilio Creator, silakan kontak redaksi melalui e-mail redaksi@brilio.net

Antoni Widjaja

19 / 02 / 2019 14:55

Tidak ada yang salah dengan pandangan para analis musik tradisional (etnomusikolog) dalam memandang kesenian tradisi itu dari perspektif keilmuannya, sebab hal itu malah sebagai suatu konklusi lain yang pada titik kulmunasinya (puncaknya) merupakan suatu pengayaan kesenian tradisional itu sendiri. Tapi yang jadi persoalannya adalah, menjadikan hipotesa itu adalah sesuatu sahih (benar mutlak/absolut)”. Seperti yang baru-baru ini sebuah situs media online Kenali.co Minggu, 04 September 2016 – 21:35:50 Wib. merilis berita regional Jambi, bertajuk “Musik Kromong Sebuah Musik Tradisional Dari Desa Mandiangin Tuo” mengabarkan bahwa;

"Melalui Bengkel Musik Taman Budaya Jambi, kesenian Kromong dijadikan bahan olahan dan eksperimen untuk digarap kembali menjadi bentuk “baru” dengan usaha menggabungkannya dengan beberapa alat musik lainnya, seperti: Akordion, Biola, Beduk, Gendang Redab dan Rebana. Penggarapan yang dilakukan tidak menghilangkan unsur khas dari kesenian tersebut, seperti; Melodi Kromong dan Pukulan Gendang Panjang".

Persoalan ini bukan cuma buruk & tidak elok, tapi malah akan mengaburan kesenian tradisional itu dalam perspektif sejarahnya. Bukan tanpa alasan saya mengatakan demikian, sebab tidak ada pendalaman serius mengenai persoalan ini.

Seperti diketahui, tidak ada kebenaran absolut dalam kesenian apapun. Terlebih kesenian tadisi. Kalaupun ada, hanya berupa fakta empiris yang disandingkan pada literatur sejarah yang juga hanya berupa fakta empiris. Dalam arti, cuma hipotesa para analis yang menggeluti persoalan ini. Lah nyatanya memang tidak ada catatan tertulis tentang kesenian tradisional, khususnya Melayu Jambi itu sendiri toh! Baik wujudnya sebagai Musik Rakyat, Sastra Lisan, Teater Tutur, maupun Musik Pengiring Tari. Catatan-catatan yang berkembang tidak lain berupa intuisi dari paradigma berpikir yang dibangun dari disiplin ilmu sosiologi, antropologi, maupun sejarah, yang melahirkan tafsir tunggal yang harus dianggap sahih! Ini jelas menyesatkan. Sebab faktanya, kesenian tradisional itu—apapun namanya—diturunkan “diajarkan” secara turun-temurun secara lisan (oral) toh? & itu mutlak. Lah wong masyarakat pemiliknya saja tidak tau & mengatakan bahwa kesenian itu sudah ada (eksis) seperti itu sejak mereka lahir! Memang seperti itulah yang dilihat & diajarkan pada mereka, seperti yang dilansir;

"...sebelum menggunakan alat musik kromong yang sekarang, nenek moyang mereka menggunakan kelintang kayu. Pada akhirnya sekitar tahun 1825, dipesanlah ke Siam (sekarang Thailand) alat musik kromong tersebut dengan mencontoh nada dari kelintang kayu yang selama ini mereka mainkan". Kenali.co Minggu, 04 September 2016 – 21:35:50 Wib. "MUSIK KROMONG SEBUAH MUSIK TRADISIONAL DESA MANDIANGIN TUO."

Loading...

Pertanyaannya adalah, apa alasan para analis ‘ahlul kitab-kitab ilmu sekolahan’ ini seakan-akan memaksakan analisa-analisa dari pemikirannya yang mumpuni itu! Konon dengan segudang ilmu pengetahuannya itu, harus pas, cocok, & wajib mesti sama fakta dengan apa yang ia hipotesakan? Wah, jelas itu keliru itu!

Terkait persoalan konklusi kesenian tradisional itu sendiri, dapat dibagi ke dalam 3 konklusi yaitu: (1) Sebagai Musik Tarian, (2) Sebagai Musik Pengiring Tari. (3) Sastra Lisan/Teater Tutur atau Sebagai Luapan Isi Hati. Nah, jenis kesenian seperti ini sangat lazim dimasyarakat terdahulu, tidak hanya di masyarakat Melayu Jambi saja, dalam sejarah musik Barat, musik Tari yang dalam pengertian "musik tarian yang bukan musik pengiring tari" ini dikenal dengan Suite, Suita & Partita. Atau seperti contoh lain yaitu, lagu tarian rakyat Portugis "Camelias", ini merupakan lagu tarian rakyat Portugis yang lazimnya kesenian itu dipertunjukan oleh penarinya dengan pola lantai membentuk sebuah lingkaran. Menurut Prof Victor Ganap dalam buku nya berjudul Keronjtong Toegoe;

"Musik Camelias merupakan tarian khas Coimbra yang diiringi Guitarra Portuguessa (Gitar Portugis) yang diadaptasi dari gitar Inggris abad ke 18"

Lantas apa bedanya dengan kesenian Musik Tradisional Melayu Jambi itu? Kan begitu!

Musik sebagai luapan isi hati juga banyak ditemui pada masyarakat dibelahan dunia ini. Dalam terminologi musik Barat, musik seperti ini lazim dikenal dengan Lamen atau Serenade. William P Malm dalam buku nya mengatakan;

“...bagi rakyat Portugis, ada banyak jenis-jenis musik seperti ini, tidak hanya dalam bentuk Lamen maupun Serenade, salah satunya Despedida (lagu perpisahan) dan Saudade (lagu senandung rindu)”.

William P Malm juga menambahkan bahwa;

“...sama hal nya dengan Folgadinho, lagu tradisional orang-orang Moor yang berasal dari Afika Utara, yang di Portugis dikenal dengan Moresco. Melodi lagu Folgadinho ini merupakan merupakan representasi dari sebuah ratapan yang sangat lazim dibawakan oleh orang-orang Moor”.

Artinya biarlah dia "kesenian itu" seperti sebagaimana apa adanya dengan eksistensinya sendiri, tanpa dikacau-kacaukan oleh analisa-analisa dari pemikiran yang belum tentu sesuai dengan budaya masyarakat pendukungnya. Tugas kita sebagai generasi penerus cuma menyampaikan fakta secara jujur, tanpa menambah atau mencocok-cocokan pemikiran-pemikiran jenius para analis kesenian tradisonal itu agar sesuai dengan fakta yang ada. Tugas kita hari ini tidak lain adalah, cuma mendokumentasikan kesenian tradisional itu baik dalam bentuk audio visual maupun dalam bentuk dokumen tertulis, agar kiranya dapat diwariskan & tetap terus lestari dari generasi ke generasi. Saya pikir begitu.

Sumber bacaan:

Ganap, Victor—KEROTJONG TOEGOE. BP. ISI Yogyakarta. Yogyakarta, 2011
Malm, William P—KEBUDAYAAN MUSIK PASIFIK, TIMUR TENGAH & ASIA. Universitas Sumatera Utara (USU) Press. Medan 1993

Source






Pilih Reaksi Kamu
  • Senang

    0%

  • Ngakak!

    0%

  • Wow!

    0%

  • Sedih

    0%

  • Marah

    0%

  • Love

    0%

Loading...

RECOMMENDED VIDEO

Wave white

Subscribe ke akun YouTube Brilio untuk tetap ter-update dengan konten kegemaran Milenial lainnya

MORE
Wave red