×
Sign in

Hello There

Sign In to Brilio

Welcome to our Community Page, a place where you can create and share your content with rest of the world

  Connect with Facebook   Connect with Google
Kamp pembantaian Auschwitz, bukti sejarah kekejaman Nazi

0

Serius

Kamp pembantaian Auschwitz, bukti sejarah kekejaman Nazi

Sejarah bukti kekejaman rezim Nazi.

Disclaimer

Artikel ini merupakan tulisan pembaca Brilio.net. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Silakan klik link ini untuk membaca syarat dan ketentuan creator.brilio.net. Jika keberatan dengan tulisan yang dimuat di Brilio Creator, silakan kontak redaksi melalui e-mail redaksi@brilio.net

dvs22

16 / 09 / 2019 18:45

Fritzie Fritzshall yang saat ini menjabat sebagai Presiden Museum dan Pusat Edukasi Holocaust di Skokie, Illnois adalah salah satu dari jutaan orang Yahudi yang berhasil selamat dan bertahan hidup pada zaman rezim Nazi. Fritzshall kehilangan kakeknya dalam perjalanan menuju kamp, sedangkan ibu dan dua adik laki-lakinya meninggal di Auschwitz. Setelah 7 dekade semenjak Fritzshall meraih kebebasan, ia kembali menginjakkan kaki di kamp pembantaian Auschwitz di Polandia yang dulunya merupakan jajahan Jerman.

Fritzie Fritzshall

Foto: abc7chicago.com

Auschwitz dibuka untuk umum secara gratis dan kamu bisa memasukinya dengan melakukan reservasi terlebih dahulu dua bulan sebelumnya atau tiba di sana sebelum jam 10 pagi.

Arbeit Macht Frei

Loading...

Foto: abc7chicago.com

Setibanya di kamp Auschwitz, sebuah gerbang masuk dengan tanda bertuliskan Arbeit Macht Frei yang berarti 'Bekerja Memberi Kebebasan' akan segera terlihat, di mana Fritzshall menuturkan bahwa baginya saat ini kalimat tersebut merupakan sebuah lelucon karena semua tahanan yang pernah bekerja di sini tidak mendapat kebebasan apa pun.

Auschwitz I

Foto: abc7chicago.com

Kunjungan ke Auschwitz dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama, pengunjung akan memasuki setiap bangunan bernomor yang digunakan sebagai museum di mana barang-barang peninggalan Holocaust akan dipajang dan diperlihatkan. Dimulai dari tumpukan kaleng kosong yang dulunya berisikan gas beracun, hingga kumpulan barang peninggalan para tahanan seperti kacamata, tongkat penopang dan prostetik, rambut dan gigi, sepatu dewasa maupun anak-anak, dan tas koper.

Prostetik tahanan Auschwitz

Foto: abc7chicago.com

Tas koper tahanan Auschwitz

Foto: abc7chicago.com

"Itu bukan milik saya. Tapi dengan nama saya tertulis di sana, saya serentak membeku," kata Fritzshall di saat menemukan satu dari banyaknya tas koper dalam tumpukan bertuliskan nama yang sama dengannya.

Auschwitz II

Foto: abc7chicago.com

Bagian kedua dari kunjungan ke Auschwitz, pengunjung dibawa untuk melihat puing-puing reruntuhan bangunan. Lokasi tersebut tadinya merupakan salah satu ruangan tempat tahanan diracun mati dengan gas dan dikremasi, dan dipercaya telah merenggut nyawa 70.000 orang.

Beberapa ruangan gas masih utuh, tapi untuk yang satu ini –ruangan gas terbesar di Auschwitz, hanya meninggalkan reruntuhannya saja karena Nazi Jerman berniat menghilangkan jejak bukti kebrutalan yang mereka lakukan. Para pengunjung juga dibawa untuk melihat jalur rel kereta yang dulunya membawa orang-orang Yahudi dari seluruh penjuru Eropa menuju Auschwitz.

Gas chamber Auschwitz

Foto: abc7chicago.com

Memunculkan kembali ingatannya, Fritzshall yang saat itu berumur 13 tahun dihadapkan dengan proses seleksi setibanya di kamp Auschwitz; menjadi buruh pekerja kasar, atau segera dihukum mati. Semua orang Yahudi yang dibawa ke sana tidak mengetahui ke mana hasil seleksi akan membawa mereka. Tidak ada seorang pun yang tahu akan keberadaan ruangan gas. Peluang untuk hidup bagi Fritzshall muncul karena seorang tahanan membisikkan sesuatu kepadanya sebelum proses seleksi berlangsung. “Kamu berumur 15. Ingat kalau kamu berumur 15,” bisiknya. Ia yang sudah menjadi tahanan di kamp Auschwitz, tahu benar kalau anak di bawah usia 15 tahun akan segera dibawa ke ruangan gas. Hasil seleksi membuat Fritzshall tidak pernah lagi melihat ibu dan kedua adiknya.

Proses seleksi tidak hanya berujung pada buruh pekerja atau kematian, tapi juga memisahkan anak kembar dari keluarganya.

"Anak kembar! Anak kembar!" jerit salah satu tentara Nazi dalam bahasa Jerman.

"Apa itu merupakan hal yang baik?" tanya ibu Eva.

"Ya!" jawab Nazi tersebut.

Percakapan tersebut diingat oleh Eva Mozes Kor di saat proses seleksi setibanya di Auschwitz dari Transilvania, Romania, memisahkannya bersama saudara kembarnya –Miriam, ke barisan kiri, sedangkan ibunya dipaksa ke barisan kanan. Itu kali terakhir Eva melihat ibunya.

Awalnya yang dikira merupakan kabar baik terlahirkan sebagai anak kembar, nyatanya mereka berakhir di tangan Josef Mengele –sang malaikat kematian. Kamu bisa membaca beberapa eksperimen percobaan mengerikan yang dilakukan Mengele terhadap anak kembar di sini.

Barak tempat para tahanan tidur pun diperlihatkan kepada pengunjung. Ruangan besar dengan deretan ranjang kayu bertingkat memenuhi sisi kiri dan kanan. Sedangkan kamar mandinya bersifat terbuka, hanya berupa lubang-lubang pembuangan yang terbuat dari beton.

Kamar mandi tahanan Auschwitz

Foto: abc7chicago.com

"Barak dipenuhi oleh para tahanan perempuan dan saya bertemu dengan bibi saya di sana. Ranjang saya berada di atas. Tidak ada privasi di kamar mandi dan ratusan perempuan menggunakannya di waktu bersamaan. Dengan jumlah lubang pembuangan yang terbatas, para tahanan saling menarik dan mendorong satu sama lain. Walaupun demikian, kami menemukan tempat perlindungan karena tentara Jerman tidak akan masuk ke dalam kamar mandi. Kami sering berkumpul, berdoa bersama, dan saling mengingat kenangan bahagia saat liburan tiba," kata Fritzshall seraya menangis. Bibinya tidak selamat, tapi ia memberikan semangat kepada Fritzshall untuk terus berjuang bertahan hidup.

Tahanan Auschwitz

Foto: abc7chicago.com

Mendekati akhir Perang Dunia II, para tahanan Auschwitz akhirnya dibebaskan oleh pasukan Rusia. Fritzshall kembali ke Cekoslowakia tempatnya berasal, menghubungi ayahnya dan segera bergabung dengannya di Amerika Serikat.

Fritzie Fritzshall

Foto: abc7chicago.com

Awalnya Fritzshall tidak ingin ke Auschwitz. "Ketakutan itu masih ada, di setiap kali saya berjalan masuk... Saya dapat melihat semua yang dulu terjadi di sini dan saya tidak akan pernah bisa melupakannya," katanya. "Tapi saya melakukan kunjungan ini supaya Holocaust tidak dilupakan," tambahnya. Fritzshall ingin menceritakan kisahnya kepada generasi muda supaya sejarah tidak akan terulang kembali.

Nyatanya saat ini, rasisme masih terjadi di berbagai belahan dunia. Oktober 2018, penembakan masal terjadi di tempat ibadah Yahudi di Pittsburgh, Amerika Serikat dan merenggut nyawa 11 orang. Maret 2019, peristiwa penembakan terjadi di Christchurch, Selandia Baru terhadap jemaah dua masjid yang tengah menunaikan ibadah salat Jumat dan sebanyak 49 orang meninggal dunia. Mei 2019, penembakan brutal terjadi saat misa Minggu di sebuah gereja Katolik di Burkina Faso, Afrika Barat mengakibatkan 6 orang tewas. Dan baru-baru ini, Agustus 2019, telah terjadi kerusuhan di Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya, Indonesia karena aksi rasisme.

Peristiwa Holocaust terjadi karena kebencian dan keinginan Nazi Jerman untuk memusnahkan seluruh orang Yahudi. Sejarah kelam tersebut telah merenggut 1,5 juta nyawa –pria, wanita, dan anak-anak, yang mayoritas merupakan orang Yahudi.

"Ini harus dihentikan," kata Fritzshall.

Source






Pilih Reaksi Kamu
  • Senang

    0%

  • Ngakak!

    0%

  • Wow!

    0%

  • Sedih

    0%

  • Marah

    0%

  • Love

    0%

Loading...

RECOMMENDED VIDEO

Wave white

Subscribe ke akun YouTube Brilio untuk tetap ter-update dengan konten kegemaran Milenial lainnya

MORE
Wave red