×
Sign in

Hello There

Sign In to Brilio

Welcome to our Community Page, a place where you can create and share your content with rest of the world

  Connect with Facebook   Connect with Google
Family, sepeda paling bandel di desa saya

0

N/A

Family, sepeda paling bandel di desa saya

Tidak melulu perihal harta materi, hal sederhana ihwal kebutuhan sekunder juga jadi barang yang diwariskan bagi warga di desa kami.

Disclaimer

Artikel ini merupakan tulisan pembaca Brilio.net. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Silakan klik link ini untuk membaca syarat dan ketentuan creator.brilio.net. Jika keberatan dengan tulisan yang dimuat di Brilio Creator, silakan kontak redaksi melalui e-mail redaksi@brilio.net

Fareh Hariyanto

31 / 05 / 2020 18:51

Hukum mawaris tidak hanya ditulis dalam nash Alquran. Secara eksplisit tradisi masyarakat juga berkaitan dengan waris mewaris barang. Tidak melulu perihal harta materi, hal sederhana ihwal kebutuhan sekunder juga jadi barang yang diwariskan bagi warga di desa kami.

Contoh paling nyata ialah sepeda balita dengan merek Family keluaran tahun 1998. Kondisi siap pakai, warna biru yang mulai pudar dengan balutan streping yang mulai memutih serta baret yang menghiasi seluruh body.

Family, sepeda paling bandel di desa saya

 

Entah kekuatan macam apa yang menaungi sepeda roda tiga milik keponakan saya itu. Tapi ketika saya telusuri berdasarkan asbabulwurud dan asbabunnuzul-nya memang sungguh mencengangkan. Sepeda tersebut telah ada lebih dari dua dekade bocah di desa saya. Hal ini sudah saya tanyakan kepada beberapa saudara yang mengetahui rekam jejak sepeda itu.

Loading...

Beruntungnya ada lebih empat saudara yang mengamini perihal turunnya sepeda itu dari generasi ke generasi. Sehingga dapat dipastikan sanad turunnya sepeda ini cukup muttawatir. Sewajarnya hukum waris-mewaris khas desa, barang yang tak lagi berguna lantaran pemiliknya sudah semakin dewasa, bakal diberikan ke lain saudara.

Selain merek sepeda ini, benda lain yang saya lihat dalam proses pewarisan di desa saya tidak akan sampai bertahan ke beberapa generasi. Lantaran biasanya di tengah perjalanan pasti ada saja hal yang membuat kerusakan pada si barang. Entah human eror atau lemahnya si barang yang tak kuat meladeni gejolak bermain para balita.

Namun beda cerita dengan sepeda merek Family milik keponakan saya, entah lantaran alasan klise yang dijunjung banyak keluarga yang tetap berpegang teguh pada semboyan "Titi, Gemi lan Gemati". Kesiji (Pertama) Titi, dalam bahasa Indonesia dapat diartikan menjaga barang dengan “tlesih” atau amat teliti dan serba hati-hati. Sudah pasti ada monitoring dan evaluasi, ada pencatatan dan pelaporan, ada supervisi dan umpan balik agar barang itu tetap berwujud.

Nomor loro (kedua), Gemi, secara harfiah berarti tidak boros akan sesuatu yang diberikan (baca: barang). Banyak sedikit, baru atau bekas, harus diterima dengan syukur. Hidup di desa, punya mainan saja sudah untung. Perihal baru bekasnya itu nomer sekian. Gemi ini dalam stadium akhir merupakan pengejawantahan dari cetil, kikir, bakil lan medit

Nomer telu (ketiga), Gemati, artosepun (artinya) penuh kasih sayang. Walau kadang anak balita belum sadar bagaimana menyayangi barang, tapi orangtua kami selalu mengajarkan budi ini. Walau tidak mereduksi secara signifikan kenakalan si bocah, tentunya semua itu kami anggap dalam kehendak alam.

Apa pun motif dan alasannya memang saya akui hasil pabrikan dari merek sepeda Family memang yang terkenal bandel dalam kelas sepeda roda tiga milik para balita. Sepeda ini seperti diciptakan memang untuk menjawab tantangan zaman dari kebarbaran anak bocah seusia itu yang sedang bersemangatnya bermain.

Padahal jika melihat keponakan saya yang baru bisa menaiki sepeda tersebut. Tidak bisa dibilang terlalu baik dalam memperlakukan sepeda. Mulai kesukaannya menabrakkan sepeda ke tembok depan rumah, sampai keseringannya beradu cepat hingga akhirnya kaki meja ruang tamu jadi korban tabrak lari.

Hemat saya, bentuk perilaku yang tidak sepedawi itu tidak membuat sepeda Family kepunyaannya mengalami kerusakan yang berarti, meski di masa senja. Lambat laun, saya menyadari betapa bandel sepeda itu hingga masih bertahan hingga saat ini. Kadang kawatir juga jika kebandelan sang sepeda menjalar ke denyut nadi keponakan saya.

Ya lantaran suka main tabrak sana sini serta menafikan anjuran keselamatan berlalu lintas di dalam rumah. Tentu cukup menghawatirkan jika kelak dibawa hingga dewasa. Tapi percayalah, bagi kalian yang saat kecil menghabiskan waktu dengan merek sepeda ini. Pastilah masa kecilmu memiliki hal yang sama denga keponakan saya. 

Secara kulitas dan kuantitas sepeda ini sudah sangat teruji. Jadi tinggal eksekusi saja supaya gejolak balita tersebut tersalurkan secara paripurna. Tentu saya tidak menafikan, mau bergejolak seperti apa kita waktu balita, nggak sampai lepas dari pantauan orangtua. Jadi, mau seperti apa pun ke mana-mana selalu ada kaki tangan lain yang ngawasi kita yang tidak bukan dan tidak lain tentunya orangtua tercinta. Jadi, bagaimana kenangan sepeda waktu kecilmu, bahagia, menderita merana apa babak belur tunggang langgang berulam jantung? Semoga tidak, ya.






Pilih Reaksi Kamu
  • Senang

    0%

  • Ngakak!

    0%

  • Wow!

    0%

  • Sedih

    0%

  • Marah

    0%

  • Love

    0%

Loading...

RECOMMENDED VIDEO

Wave white

Subscribe ke akun YouTube Brilio untuk tetap ter-update dengan konten kegemaran Milenial lainnya

MORE
Wave red