×
Sign in

Hello There

Sign In to Brilio

Welcome to our Community Page, a place where you can create and share your content with rest of the world

  Connect with Facebook   Connect with Google
Dilema pengemis & dinamika pemberi, perlu sinergi dari berbagai pihak

0

Serius

Dilema pengemis & dinamika pemberi, perlu sinergi dari berbagai pihak

Begini persoalan yang muncul ketika mengemis dijadikan sebuah profesi.

Disclaimer

Artikel ini merupakan tulisan pembaca Brilio.net. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Silakan klik link ini untuk membaca syarat dan ketentuan creator.brilio.net. Jika keberatan dengan tulisan yang dimuat di Brilio Creator, silakan kontak redaksi melalui e-mail redaksi@brilio.net

Ilham Fajri

03 / 05 / 2019 16:17

Kesenjangan ekonomi di Indonesia yang tinggi dan pembangunan yang masih terpusat di kota besar membuat masyarakat berlomba-lomba pergi ke kota (merantau) demi mencari nafkah, sebagai harapan untuk secercah kehidupan yang lebih baik.

Tetapi yang namanya merantau, perlu banyak hal yang harus dipersiapkan, khususnya dalam mencari pekerjaan. Selain mempersiapkan mental, diri juga harus dibekali dengan keterampilan, baik itu bersifat Soft Skill ataupun Hard Skill agar dapat bertahan di balik kerasnya persaingan di kota.

Realitanya, banyak dari masyarakat belum membekali dirinya sebelum merantau, hanya dengan bermodalkan nekad. Hal ini menyebabkan mereka kalah saing dengan yang lebih punya keterampilan. Imbasnya mereka tidak punya pekerjaan. Namun, demi menjaga eksistensinya dan sudah kepalang basah merantau ke kota, ada dari mereka yang seakan mengambil jalan pintas dan terkesan instan, salah satunya dengan menjadi seorang pengemis.

Sedikit membahas tentang pengertian pengemis dan mengemis. Menurut Wikipedia, mengemis adalah kegiatan yang dilakukan oleh seseorang yang membutuhkan uang, makanan, tempat tinggal atau hal lainnya dari orang yang mereka temui dengan meminta. Sedangkan menurut KBBI, pengemis adalah orang-orang yang mendapat penghasilan di tempat umum dengan berbagai cara dan alasan untuk mengharapkan belas kasihan orang lain.

Kegiatan mengemis ada kalanya dilakukan oleh orang yang sejatinya sangat membutuhkan bantuan. Seperti mereka yang tertimpa musibah kebakaran, bencana alam, dan lain sebagainya. Namun, realitanya sekarang banyak dari mereka yang secara fisik sehat dan dalam kondisi yang baik justru lebih memilih menjadi seorang pengemis. Kembali seperti yang telah disebutkan di atas, karena faktor tidak adanya keterampilan dan faktor mentalitas yang ingin serba instan tadi sehingga menjadikan pengemis sebagai profesi.

Loading...

Menilik sedikit perihal dari profesi pengemis ini, di Kota Bandung penghasilan mereka bisa mencapai 9–11 juta/bulan. Seperti yang dituturkan oleh Ade Junaedi, salah seorang petugas Dinas Sosial kota Bandung, "Penghasilan profesi Pengemis di jalan utama, seperti jalan pasleur, kota Bandung, bisa mencapai Rp 300 ribu sehari atau dalam sebulan sekitar Rp 9jt/bulan", seperti dikutip dari Jabar.tribunnews.com.

Lalu yang menjadi pertanyaan, bagaimana bisa mereka mendapatkan pundi-pundi rupiah sebanyak itu dengan mudah dan cepat? Pada praktiknya, mereka tampil dan mendandani dirinya dengan penampilan yang lusuh, mengenakan baju yang tidak layak pakai, bahkan pada kasus tertentu ada yang berpura-pura menjadi seorang tunanetra. Sehingga akan memunculkan rasa kasihan atau iba dari orang-orang.

Hal ini menjadi sebuah dilema karena bisa saja ada seseorang yang memang ingin berbuat baik kepada mereka (Pengemis) yang dilihatnya membutuhkan. Sehingga tanpa pikir panjang meberikan sejumlah uang, alih-alih mencari tahu terlebih dulu. Dan inilah yang dijadikan sebagai dalih bagi mereka yang berprofesi pengemis.

Jika ditelaah dengan kacamata seorang pemberi tadi, toh tidak akan jadi masalah baginya memberikan uang, Karena niatnya yang ingin membantu. Namun yang harus ditekankan bahwa dari perspektif pengemisnya, apakah yang mereka lakukan itu etis menurut agama, sosial, maupun hukum yang berlaku?

Di dalam perspektif agama Islam, perbuatan meminta–minta atau mengemis sangat tidak dibenarkan. Dalam Islam, bekerja adalah kewajiban bagi seorang Muslim, terutama laki–laki. Allah menegaskan perintah kerja dalam firmanya "Dan katakanlah : bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasulnya serta orang – orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan di kembalikan kepad ( Allah ) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata lalu diberitakannya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan" ( Q.S At – taubah (9) ; 105 ). 

Juga Rasulullah SAW bersabda bahwa "Seorang peminta–minta kelak akan datang pada hari Kiamat tanpa membawa sekerat daging pun di Wajahnya", ( H.R Bukhari – Muslim ).

Dikaitkan dengan persoalan sosial, perilaku mengemis ini dapat berdampak buruk karena akan membentuk mental masyarakat menjadi pemalas dan mental ingin serba instan yang secara tidak langsung produktivitas masyarakat juga akan menurun.

Jika dilihat dari perspektif hukum Indonesia, perihal masalah tentang pengemis diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1980 tentang Penanggulangan Gelandang dan pengemis, menyatakan bahwa "Pengemis tidak sesuai dengan norma kehidupan bangsa Indonesia yang berlandaskan Pancasila dan Undang – undang dasar 1945, karena itu perlu diadakan usaha – usaha penanggulangan".

Berdasarkan dari peraturan tersebut, pemerintah juga telah menetapkan beberapa usaha dalam menanggulangi masalah pengemis, seperti:

1. Usaha Preventif.

Usaha secara terorganisir yang meliputi penyuluhan, bimbingan, latihan, pendidikan, bantuan dan pembinaan lanjut.

2. Usaha Represif.

Usaha yang terorganisir baik melalui lembaga maupun bukan, dengan maksud menghilangkan penggelandangan dan pengemis.

3. Usaha Rehabilitasi.

Usaha yang terorganisir meliputi usaha–usaha penyantunan, pemberian latihan dan pendidikan, pemulihan kemampuan dll.

Kembali tentang persoalan pengemis, mereka mengemis pasti karena ada yang memberi. Siapa yang memberi? Yaitu orang–orang yang masih mempunyai rasa kepedulian. Dalam arti masih ada orang dermawan yang mau memberikan uangnya kepada mereka yang berprofesi menjadi pengemis atas dasar rasa iba. Dan ini yang menjadi sebuah dilema.

Untuk persoalan seperti itu, perlu dilakukan sosialisasi bahwa bagi mereka yang ingin menyisihkan uangnya, alangkah baiknya menyalurkannya kepada tempat ataupun lembaga yang berwenang. Misalnya, seperti lembaga Bantuan Sosial, Rumah Zakat, dan tempat-tempat penggalangan dana yang mana punya kredibilitas dan bertanggung jawab penuh untuk menyalurkan bantuan tersebut kepada orang yang memang membutuhkan.

Sebagai penutup, memang terkadang secara naluri kemanusiaan, tak tega melihat ada orang yang bernampilan lusuh dan wajah memelas dan mengenakan pakaian tidak layak pakai dsb. Sedikit banyak akan muncul rasa iba di hati, dan itu sebenarnya baik. Untuk itu tinggal bagaimana kita bisa memilah mana yang benar–benar membutuhkannya atau tidak.

Dan solusi untuk mengatasi masalah profesi pengemis ini, perlu adanya sinergi antar beberapa pihak, seperti masyarakat, pemerintah, dan lembaga sosial. Mereka ini sepatutnya juga perlu mendapat perhatian. Bukan dalam bentuk uang, tetapi dalam bentuk pembekalan keterampilan untuk mereka. Seperti kata pepatah, "Beri seseorang ikan, dan dia akan makan untuk sehari, ajari dia bagaimana memancing ikan dan dia akan makan selamanya."

Source






Pilih Reaksi Kamu
  • Senang

    0%

  • Ngakak!

    0%

  • Wow!

    0%

  • Sedih

    0%

  • Marah

    0%

  • Love

    0%

Loading...

RECOMMENDED VIDEO

Wave white

Subscribe ke akun YouTube Brilio untuk tetap ter-update dengan konten kegemaran Milenial lainnya

MORE
Wave red