×
Sign in

Hello There

Sign In to Brilio

Welcome to our Community Page, a place where you can create and share your content with rest of the world

  Connect with Facebook   Connect with Google
Dampak pandemi Covid-19, UKM bidang madu dulang untung

0

Wow

Dampak pandemi Covid-19, UKM bidang madu dulang untung

Ilustrasi madu / Foto: Gasfull dari Pixabay

Usaha Kecil dan Menengah (UKM) bidang madu Bina Apiari mengalami peningkatan penjualan hingga 100% pada awal pandemi Covid-19.

Disclaimer

Artikel ini merupakan tulisan pembaca Brilio.net. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Silakan klik link ini untuk membaca syarat dan ketentuan creator.brilio.net. Jika keberatan dengan tulisan yang dimuat di Brilio Creator, silakan kontak redaksi melalui e-mail redaksi@brilio.net

Naomi Priskila

03 / 11 / 2021 13:29

 

Pada awal tahun 2020, pandemi Covid-19 yang melanda dunia menyebabkan dampak buruk terhadap perekonomian, termasuk Indonesia. Namun, berbeda dengan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Bina Apiari yang justru mengalami peningkatan penjualan hingga 100 persen.

"Awal pandemi naik 100 persen karena orang–orang sedang panik. Jadi, banyak yang ingin meningkatkan imunitas tubuh. Selain itu, di media massa madu dan produk herbal lainnya juga gencar dipromosikan. Teman–teman yang memiliki usaha madu mungkin juga kebanjiran pesanan. Jadi, kita juga ikut kecipratan pesanan madu," ujar Dianita sebagai pemilik UKM Bina Apiari, Kamis (7/10/2021).

Dianita mengatakan, kenaikan omzet di masa pandemi tidak hanya berdampak bagi UKM miliknya. Namun, reseller yang menjual produk Bina Apiri juga ikut kebanjiran pesanan.

"Awal pandemi memang penjualan naik tinggi. Setelah setahun berjalan, mulai turun pelan-pelan. Penurunan tersebut karena banyak orang yang kehilangan pekerjaan atau omzet bisnisnya mengalami penurunan sehingga berdampak pada penghasilan. Jadi, penjualan juga menurun karena kemampuan beli masyarakat menurun," lanjut Dianita, Kamis(7/10/2021).

Loading...

Dianita menjelaskan bahwa penjualan madu Bina Apiari sekarang kembali berjalan normal. Namun, kenaikan omzet tetap ada jika dibandingan dengan sebelum pandemi. Ia juga merasa beruntung karena pandemi ini justru membawa dampak positif untuk penjualan produk Bina Apiari. Sejak pandemi melanda, kesadaran masyarakat untuk hidup sehat semakin meningkat. Mereka berupaya menjaga diri sebelum jatuh sakit, di antaranya dengan mengonsumsi makanan kesehatan seperti madu.

Mengenal UKM Bina Apiari.

Produk dari Bina Apiari

Foto: Produk dari Bina Apiari

Bina Apiari didirikan pada tahun 1980 oleh Ir. H. Bambang Soekartiko, yang merupakan ayah dari Dianita. Sejak didirikan, Bina Apiari memiliki misi memelihara kelestarian hutan, sekaligus memberi penghasilan tambahan bagi masyarakat pedesaan dengan produk yang berguna untuk meningkatkan kualitas kesehatan.

"Tahun 1974 sampai 1979, almarhum bapak bekerja sebagai Kepala Administratur Perum Perhutani (BUMN bidang kehutanan) di Telawa dan Banyumas Barat, Jawa Tengah. Beliau bertanggung jawab untuk menjaga kelestarian hutan pada area tugasnya. Ketika itu, hutan sering dirambah oleh masyarakat yang membutuhkan penghasilan, sehingga berpotensi menyebabkan kerusakan hutan," ujar Dianita yang kini melanjutkan usaha Bina Apiari.

Kegiatan budidaya lebah membutuhkan alam yang terpelihara dengan baik karena lebah menghasilkan madu dari tanaman yang ada di hutan. Almarhum Ir. H. Bambang Soekartiko giat mensosialisasikan manfaat budidaya lebah dan kelestarian hutan sejak beliau bertugas di Perhutani, hingga kemudian ia dipindahtugaskan ke Departemen Pertanian dan Kehutanan, pensiun dan lanjut usia.

"Nama Bina Apiari yang digunakan sebagai merek usaha kami bermakna 'pembina peternakan lebah'. Makna tersebut sesuai dengan peran Bapak Bambang sebagai pembina peternakan lebah di Indonesia, sampai dianugerahi penghargaan sebagai tokoh Perintis Perlebahan Indonesia pada tahun 2000 oleh Menteri Kehutanan RI," ungkap Dianita.

Sejak Covid-19 melanda Indonesia, madu kian diminati karena banyak yang telah merasakan manfaatnya untuk kesehatan. Namun, belakangan marak terjadi pemalsuan madu. Dianita sebagai pemilik UKM berbasis produk lebah berharap agar pengusaha madu tidak mengejar keuntungan materi semata.

Pengusaha dan peternak lebah perlu terlibat dalam kegiatan penghijauan hutan habitat lebah sebagai produsen madu alami. Lebah membutuhkan tanaman yang menghasilkan nektar (cairan manis) sebagai bahan baku madu dan pollen (serbuk sari bunga) untuk sumber protein bagi perkembangan koloni lebah. Bina Apiari juga ikut serta dalam kegiatan penanaman tanaman pekan lebah yang dilakukan secara rutin saat musim hujan bersama kawan–kawan yang tergabung dalam Persatuan Peternak Lebah Jawa Tengah (PPJT).  

"Kita selain berbisnis, juga harus ikut melestarikan alam. Sekarang banyak yang menjual madu palsu karena permintaan meningkat, sementara madu asli makin sedikit karena lebahnya sulit dapat makanan. Jika madu di alam melimpah, maka madu palsu tidak perlu ada." Ujar Dianita yang saat ini menjadi salah satu pengurus dalam Asosiasi Perlebahan Indonesia.

Selain madu, Bina Apiari juga menjual produk dari lebah lainnya yaitu Bee Pollen, Bee Bread, Royal Jelly, dan Propolis. Bina Apiari sudah mulai memanfaatkan internet untuk memasarkan produknya sejak tahun 2000. Awalnya dengan website, lalu bertahap memiliki akun media sosial seperti Facebook, Instagram dan YouTube. Sekarang produk–produk Bina Apiari juga dijual di e-commerce seperti Tokopedia, Shopee, Bukalapak dan Blibli. Pandemi Covid-19 menyebabkan orang harus membatasi aktivitas sosial dan fisiknya, maka pemasaran melalui media sosial dan e-commerce sangat membantu penjualan produk dari UKM seperti Bina Apiari.

Tips cara mengetahui madu asli.

madu Steve Buissinne dari Pixabay

Ilustrasi madu / Foto: Steve Buissinne dari Pixabay

 

Banyaknya produk madu di pasaran membuat kita harus mengetahui cara membedakan madu asli dan madu palsu. Dianita memberikan beberapa tips sederhana untuk membedakannya.

Pertama, tuangkan dua sendok makan madu ke piring yang berisi sedikit air dingin, kemudian goyangkan piring secara perlahan. Madu asli yang cukup kental akan membentuk guratan pola heksagonal di dasar piring, sedangkan madu palsu yang terbuat dari sirup gula akan langsung larut tanpa ada guratan di dasar piring.

Kedua, tuangkan madu ke sendok logam, kemudian panaskan sendok di atas api lilin sampai mendidih. Setelah itu diamkan sampai madu dingin. Jika sudah dingin, aduk dan tarik madu menggunakan lidi. Madu asli tidak mengeras dan akan membentuk benang lembut saat ditarik. Sebaliknya, madu palsu akan mengeras atau megerak di dasar sendok dan ketika ditarik menggunakan lidi akan membentuk benang kaku yang bisa dipatahkan.

Ketiga, simpan madu di freezer. Madu palsu yang dibuat dari air dan gula akan mengeras seperti es batu. Lain halnya dengan madu asli yang hanya akan mengental karena kadar airnya menyusut.

Dianita menjelaskan cara–cara tersebut bukan merupakan pengujian yang akurat. Komposisi madu sangat kompleks karena merupakan produk tumbuhan yang dikonversi oleh hewan (lebah). Jenis–jenis madu juga bervariasi, sehingga pengujian sederhana tidak cukup untuk membuktikan keasliannya. Cara mengetahui keaslian madu yang akurat harus diuji di laboratorium yang terakreditasi. (Naomi Priskila / Nabilah Nafabrianti)






Pilih Reaksi Kamu
  • Senang

    0%

  • Ngakak!

    0%

  • Wow!

    0%

  • Sedih

    0%

  • Marah

    0%

  • Love

    0%

Loading...

RECOMMENDED VIDEO

Wave white

Subscribe ke akun YouTube Brilio untuk tetap ter-update dengan konten kegemaran Milenial lainnya

MORE
Wave red