Siapa yang tak tahu Gunung Everest? Gunung yang merupakan bagian dari Pegunungan Himalaya ini telah dinobatkan sebagai gunung tertinggi di dunia. Gunung yang puncaknya dijadikan penanda perbatasan antara negara Nepal dan Tibet ini memiliki ketinggian yang mencapai 8848 meter dengan puncaknya yang berada di Tibet.

Sebagai gunung yang masuk ke dalam Seven Summits Dunia (7 puncak tinggi di dunia), tak ayal jika Everest pun dibuka agar bisa didaki oleh khalayak. Baik Nepal atau Tibet, keduanya sama-sama mengelola jalur pendakian Gunung Everest yang terhitung ada sekitar 17 jalur pendakian.

3 Istilah kelam di balik pendakian Everest yang perlu kamu ketahui

Kemegahan dan keindahan yang menjulang tinggi dari Everest tentu sangat menarik jiwa para petualang untuk menapaki puncaknya yang merupakan atap Bumi itu. Setiap jalur pendakian dibuka, selalu saja ramai oleh para pendaki.

Namun mendaki Everest bukanlah perkara kecil. Selain membutuhkan biaya yang banyak, tingkat kesulitan dan risiko kematian di Everest juga sangat tinggi. Everest memang indah dilihat dari bawah, namun seperti naik gunung pada umumnya, jalur mencapai puncak tentu tak seindah melangkahkan kaki ke tempat wisata biasa. Ada banyak rintangan yang harus dilalui. Tercatat sudah beratus-ratus kasus kematian di Everest, namun tetap saja gunung tersebut tak pernah sepi saat dibuka. Ya, di balik keindahannya ada istilah-istilah kelam yang tercipta akibat banyaknya kasus kematian di sana. Terlebih lagi istilah tersebut dibalut dengan ungkapan yang cukup cantik.

Memang apa saja? Yuk, cek di bawah ini. Tiga istilah dari sisi gelap pendakian Gunung Everest yang perlu kamu ketahui. Ini menjadi bukti jika mendaki Everest tak sekadar bermodalkan nekat dan uang banyak, namun juga perlu pengetahuan, kondisi mental, serta kesehatan yang sangat mumpuni.

1. Rainbow Valley.

3 Istilah kelam di balik pendakian Everest yang perlu kamu ketahui

Rainbow Valley atau Lembah Pelangi adalah sebuah area yang terletak di punggung utara Gunung Everest. Area ini merupakan sebuah lembah yang terletak pada ketinggian 8000 meter. Sebelum mencapai puncak, daerah ini akan dilalui oleh pendaki yang mengambil rute pendakian arah timur laut.

Pengertian Rainbow Valley sendiri bukan mengacu pada sebuah lembah yang kerap disinggahi pelangi, melainkan karena banyaknya mayat pendaki berpakaian gunung berwarna cerah/warna-warni yang terdampar di area tersebut. Ya, mayat-mayat tersebut adalah mereka yang telah gagal mendaki/menuruni Everest.

Dalam dunia pendakian, memakai pakaian yang cerah memang sangat dianjurkan guna mempermudah pencarian jika terjadi hal yang tak diinginkan. Sayangnya, mengevakuasi jasad mereka yang telah meregang nyawa di Gunung Everest bukanlah perkara mudah. Selain butuh biaya banyak, hal itu sangat berisiko dan berbahaya bagi tim. Makanya banyak dari pendaki memilih meninggalkan rekannya yang sudah meninggal.

3 Istilah kelam di balik pendakian Everest yang perlu kamu ketahui

Salah satu faktornya karena kriteria pendakian Gunung Everest lebih identik dengan hal-hal seperti memanjat tebing, sepatu alas tajam, cuaca dingin ekstrem, jurang-jurang dalam, hipotermia akut, edema, oksigen yang tipis, dan yang paling mengerikan adalah badai atau longsoran salju. Terlebih lagi jika terlalu lama di Gunung Everest, risiko akan penyakit rahang dingin semakin meningkat. Tentu dengan melihat kondisi tersebut sangat terbayang betapa sulitnya mengevakuasi jasad-jasad tersebut.

2. Blue Sky.

3 Istilah kelam di balik pendakian Everest yang perlu kamu ketahui

Blue Sky yang artinya langit biru memang secara harfiah memang merujuk pada kondisi langit yang berwarna biru, di mana para pendaki banyak yang ingin mendaki Gunung Everest di saat musim panas. Hal ini karena menurut mereka mendaki Everest di musim panas tidak perlu mengkhawatirkan soal cuaca dingin ekstrem dan salju. Terlebih bonus langit cerah berwarna biru saat di puncak.

Padahal menurut beberapa sumber, Everest tetap saja akan sangat dingin saat malam hari sekalipun pada musim panas. Cuaca yang ideal sekalipun tetap tak akan menurunkan risiko kematian di Everest. Tidak ada yang bisa memprediksi kapan terjadinya longsoran salju, angin badai, atau risiko tali climbing yang putus.

3 Istilah kelam di balik pendakian Everest yang perlu kamu ketahui

Maka dari itu, muncul istilah 'kematian Blue Sky' yang disematkan kepada para pendaki yang meregang nyawa di kala langit biru/musim panas. Bahkan di Rainbow Valley sendiri sudah lebih dari 100 mayat yang terdampar di sana.

Jika berniat mendaki Everest, kamu juga harus siap mental jika sesekali melihat tangan atau kaki manusia muncul tiba-tiba dari dalam hamparan salju, entah itu di base camp atau di jalur. Ini karena banyak dari jasad pendaki yang bertahun-tahun lamanya menetap di Everest hingga akhirnya tertimbun oleh longsoran salju dari waktu ke waktu. Sehingga pergerakan salju atau mencairnya gletser dapat membuat jasad-jasad tersebut berpindah tempat dari posisi semula dan di tempat lain pun ia bisa muncul kembali ke permukaan. Tak heran jika Everest sendiri dijuluki dengan sebutan Kuburan Raksasa di Dunia.

3. Green Boots.

3 Istilah kelam di balik pendakian Everest yang perlu kamu ketahui

Green Boots yang artinya sepatu hijau, maknanya tak sama menyenangkan dengan sepatu hijau yang ada di pikiran kamu. Faktanya Green Boots adalah istilah yang disematkan pada sesosok jasad bersepatu bot hijau yang meringkuk, berbaring miring ke kiri tepat di dekat sebuah gua batu kapur jalur Everest.

Dilansir dari Wikipedia, jasad tersebut disinyalir bernama Tsewang Paljor, seorang polisi perbatasan India-Tibet yang ikut ekspedisi mendaki Everest di tahun 1996. Sayangnya kematian Green Boots masih menjadi teka-teki. Menurut beberapa sumber kematiannya terjadi karena faktor hipotermia, namun ada juga yang berspekulasi akibat longsoran salju.

3 Istilah kelam di balik pendakian Everest yang perlu kamu ketahui

Namun yang bikin seram, jasad ini ternyata sudah sering dijadikan tanda/landmark oleh para pendaki jalur punggung utara Everest. Ya, jika bertemu Green Boots, itu tandanya puncak tinggal sedikit lagi. Anehnya Green Boots sempat tak terlihat di lokasinya pada tahun 2014 sehingga muncul spekulasi telah ada yang memindahkan atau menguburkannya. Namun pada tahun 2017, Green Boots justru kembali terlihat di lokasinya, bahkan tepat di lokasi yang sama. Aneh, ya?

Itulah tiga istilah dari sisi gelap pendakian Gunung Everest yang perlu kamu ketahui. Semoga bermanfaat, ya.