Brilio.net - Guicui, seorang gadis berusia 27 tahun, telah kehilangan kepercayaan dalam pernikahan dan cinta setelah menderita bulan-bulan kekerasan dalam rumah tangga bertahun-tahun sebelumnya. Meskipun terdiam di masa lalu, Guicui sekarang bersiap untuk naik banding ke pengadilan yang lebih tinggi untuk membela dan memperjuangkan haknya.

Kisah sedih yang dialami Guicui dimulai pada hari ulang tahunnya, 24 September. Hari yang seharusnya membahagiakan baginya berubah jadi momen memilukan. Sang suami, Li Rui menyiram etanol ke wajah Guicui kemudian menyalakan api. Insiden tersebut terjadi di Kunming, provinsi Yunnan.

KDRT Guicui © 2017 news.cgtn.com

Wanita muda itu pun menderita luka bakar serius di bagian wajah, dada, leher, perut, dan anggota badannya. Otentikasi yudisial menunjukkan bahwa cedera yang ia alami merupakan kecacatan tingkat tiga.

Bukannya menyesal, Rui malah mengancam Guicui agar tidak memberi tahu siapapun atas apa yang telah ia lakukan kepada sang istri.

Loading...

KDRT Guicui © 2017 news.cgtn.com

"Kamu tidak bisa memberi tahu siapapun, jika tidak, kamu dan keluarga akan berada dalam bahaya," kata Rui kala itu.

Guicui pun tak kuasa menolak permintaan Rui dan memilih untuk diam.

Usai insiden tersebut, luka bakar yang dialami Guicui tak kunjung pulih dan menunjukkan tanda-tanda peradangan. Namun, dalam keadaan seperti ini, Rui malah makin menghalanginya untuk berhubungan dengan keluarga dan teman-temannya.

KDRT Guicui © 2017 news.cgtn.com

Dikutip brilio.net dari CGTN, Rabu (20/9), tidak sampai 48 hari setelah kejadian tersebut terjadi, Guicui diam-diam memberitahu temannya Chen Yuanyuan. Yuanyuan kemudian memanggil polisi dan mereka tiba di rumah Rui.

Rui mencoba mencegah polisi memasuki rumah. Namun, karena keterlambatan dalam melaporkan kasus yang dialami Guicui, polisi tidak dapat mengumpulkan bukti pada waktu yang tepat.

Rui terus memberikan janji palsu kepada Guicui dan ibunya Wang Shunqin, yang baru mengetahui kasus ini sampai Chen pergi ke polisi. Guicui menaruh harapan terakhirnya pada komitmen Rui, khawatir bahwa dia tidak bertanggung jawab untuk merawat luka-lukanya saat dia meninggalkannya.

KDRT Guicui © 2017 news.cgtn.com

Pada tanggal 31 Juli 2015, ibu Guicui membawa putrinya kembali ke dari mana mereka berasal, provinsi Guizhou. Kondisi Guicui saat itu terlalu lemah, beratnya kurang dari 40 kilogram setelah dihadapkan dengan pelecehan dan kecurangan Rui.

Ibu Guicui membuat beberapa keputusan untuk menghibur putrinya. Dia mengumpulkan uang untuk membayar operasi perbaikan bekas luka Guicui dan bersiap untuk pergi ke pengadilan.

Upaya Guicui dan sang ibu menuju pengadilan menghadapi pertarungan hukum yang sulit. Sebab banyak bukti telah hilang dan Guicui hanya memiliki beberapa video yang direkam secara diam-diam. Pada bulan Agustus 2016, polisi setempat menarik kasus yang dialami Guicui dengan alasan bahwa plotnya kecil dan tidak berbahaya.

Dan pada bulan Juni 2017, pengadilan distrik setempat menolak klaim Guicui. Saat ini, ibu dan anak perempuannya bertekad untuk naik banding ke pengadilan yang lebih tinggi.

Sementara itu, Guicui mencoba menjalani kehidupan yang relatif normal, bekerja di studio fotonya dan menerima bekas luka penyiksaan mantan pacarnya. Meskipun dia menyukai anak, dia mengatakan kepada Tencent bahwa "Hal yang paling mengerikan bagi saya adalah seorang pria. Saya mungkin tidak menikah, tapi mudah-mudahan saya bisa menghasilkan uang dan mengadopsi anak."

Cerita Guicui telah beredar di media sosial China seperti Weibo dan menuai banyak komentar dari warganet. Mereka merasa sedih dengan pengalamannya dan menganjurkan tidak adanya toleransi terhadap kekerasan dalam rumah tangga.

"Saya merasa bersimpati kepada Guicui, berharap Rui bisa mendapatkan apa yang pantas baginya. Sementara itu, sebagai pelajaran untuk mengingatkan diri kita sendiri, ceritanya mengatakan kepada saya jika Anda tidak melindungi diri sendiri, tidak ada yang bisa melindungimu. Hukum tidak cerdas, hanya melindungi orang yang memahaminya," ujar seorang warganet.

Kekerasan dalam rumah tangga adalah masalah global. Undang-undang kekerasan rumah tangga di China mulai berlaku pada tanggal 1 Maret 2016. Undang-undang tersebut memperluas definisi kekerasan dalam rumah tangga dan memperkenalkan berbagai tindakan untuk mencegah kekerasan, merawat korban, dan menghukum pelaku.