Brilio.net - Sebagai jurnalis saya memiliki pengalaman karier yang luar biasa. Apalagi menjadi jurnalis di Indonesia, di mana saya harus menyesuaikan diri antara profesionalisme pers Barat dan nilai kelokalan.

Indonesia adalah negeri yang kerap melahirkan isu seksi, yang membuat saya sebagai jurnalis dan juga rekan-rekan dari pers asing, turut mempergunjingkannya di dunia internasional. Narkoba dan hukuman mati adalah dua isu terbaru yang tak luput dari perhatian, selain isu terorisme tentu saja.

Isu politik Indonesia juga selalu menarik. Terlebih meningkatnya suhu politik menjelang pelaksanaan pemilihan kepala daerah serempak 2017. Terdapat 101 daerah dari tingkat provinsi, kabupaten, dan kota yang menggelar pilkada.

Jakarta sebagai ibu kotanya Indonesia, pusat dari segala informasi, perputaran ekonomi, corong perubahan budaya terdepan, mengambil porsi lebih dan mencuri perhatian secara khusus dalam pelaksanaan pesta demokrasi 2017 ini. Semua berawal dari pidato petahana Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, yang maju dalam Pilkada, saat melakukan kegiatan di Kepulauan Seribu.

Surat Al-Maidah 51 yang dikutip Ahok dalam kegiatan tersebut berbuntut panjang. Muncul protes dan meluas menjadi gerakan mobilisasi massa atas nama membela agama. Aksi ini dipelopori Front Pembela Islam (FPI), yang kemudian memakai Gerakan Nasional Pembela Fatwa MUI (GNPF-MUI) sebagai wadah melakukan serangkaian aktivitas. Diawali dengan gerakan 411, 212 lalu 112. Semua bermuara ke satu tuntutan: penjarakan Ahok!

Loading...

Saya melihat bahwa budaya demonstrasi pasca 1998 membuat politik Indonesia makin menarik diikuti. Bahwa gerakan yang ada, utamanya yang lahir sekarang-sekarang ini, tak lepas dari keberadaan media sosial dan penetrasi internet.

Kita mulai dari sini

Cek: Google "populasi Indonesia" dan perhatikan grafiknya, 249,9 juta! Itu adalah estimasi konservatif. Setelahnya coba kita lihat fakta berikut mengenai usia pengguna internet. Sampai di sini kamu bisa ikut bertanya pada diri sendiri, "apa maksudnya?"

Sebagian besar dari orang-orang itu adalah anak muda bahkan sangat muda, dan mereka semua adalah para 'penggiat' online.

Dan artikel Dave Chaffey pada Smart Insights dan presentasi tersemat oleh Simon Kemp, mengungkapkan fakta-fakta penting lainnya:

Pada2016:

· Penetrasi internet di Indonesia hanya mencapai 34 persen, padahal orang-orang Indonesia menggunakan layanan internet hingga 4,7 jam per hari melalui laptop atau 3.5 jam per hari melalui perangkat mobile-tertinggi ke enam di dunia.

· 2,9 jam digunakan hanya untuk media sosial-tertinggi ke 9 di dunia

· 30 persen dari populasi memiliki akun media sosial aktif

· 88,1 juta pengguna internet aktif, 79 juta pengguna aktif media sosial

· Golongan usia tertinggi pengguna Facebook: 20-29 tahun di Indonesia

· Lebih dari 80 persen pengguna internet di Indonesia menggunakan Facebook, Youtube.

· Lebih dari 70 persen pengguna internet di Indonesia menggunakan Twitter

· Lebih dari 50 persen pengguna internet di Indonesia menggunakan Google+

Teknologi untuk memproduksi sebuah video telah tersedia secara luas dan ditambah dengan adanya komputasi awan (cloud computing). Segala keterbatasan telah terkikis — industri/bisnis ilmu praktis maupun biaya produksi. Yang perlu dilakukan saat ini adalah mengasah keterampilan dan pikiran untuk menyaring segala sesampahan dan agenda masyarakat.

Karena dengan internet, datanglah informasi yang tak terbatas. Seperti kotak Pandora milik orang-orang Yunani; internet adalah mitos bagi kita.

"Apakah ini hoax?"

Berita bohong atau fake news hanyalah sebuah wadah baru perjuangan para partisan brutal yang berjuang selama ribuan tahun dengan waktu, topik dan media yang berbeda. Artikel Reuters tentang "Tweetwars" terkait perang media sosial di panggung ibu kota Jakarta merekam berbagai dilema. Saya merasakan sendiri hal yang dimaksud, masyarakat Indonesia bertolak dari Twitter, melanjutkan pertempuran mereka di platform rival.

Akibatnya hal yang semestinya riil kemudian dianggap hoax. Lalu yang hoax dianggap seolah-olah itu nyata. Saya merasakan sendiri kenyataan ini sekarang. Dan tentu saja ini menjadi tantangan yang tak terelakkan.

Maka dari itu, kami, brilio versi Inggris atau brilio english berusaha menempatkan diri menjadi media yang mampu eksis di tengah derasnya perubahan.

Dan, perubahan tampilan baru pada website kami, saya harapkan diterima dengan baik oleh Anda, pembaca setia.

Blaise Hope (Brilio English's Editor-in-Chief).

Twitter: @blaishope