Partai politik memang tak terlalu populer di kalangan anak muda karena sejumlah alasan. "Anak muda sendiri melihat partai memang jenjang karirnya gak jelas. Terus dia harus punya panutan di elitnya untuk menempati posisi-posisi strategis kayak ketua, sekjen dan segala macam. Ini yang menyebabkan banyak sekali anak muda urung menjadi anggota partai.

Mencitrakan diri sebagai partai anak muda tak otomatis mewakili kepentingan millennials dan generasi Z.

Barangkali satu-satunya yang paling keras berusaha mencitrakan diri sebagai partai anak muda adalah PSI. Untuk menguatkan citra ini, masing-masing anggota dipanggil dengan sebutan "bro" dan "sis". PSI merupakan partai baru yang paling pertama mendeklarasikan dukungan untuk salah capres Joko Widodo kembali pada Pilpres 2019 nanti.

Akan tetapi, hingga saat ini masih belum jelas bagaimana dan alasan terpilihnya Joko Widodo sebagai capres pilihan PSI dapat menguntungkan untuk kalangan millennials dan generasi Z.Karena dengan motif Partai Anak Muda Tidak jelas juga mengapa PSI menominasikan calon wakil presiden untuk mendampingi capres Joko Widodo adalah Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Prof Mahfud MD. Patut disayangkan kenapa PSI tidak menominasikan calon wakil presiden dari kalangan yang lebih muda untuk mendampingi Jokowi.

Ketika akhirnya Jokowi menggandengMa'ruf Aminyang berumur 75 tahun dan punya rekam jejak kontroversial dalam hal toleransi beragama sebagai cawapres. Mengutip keterangan Ketua DPP PSI Tsamara mengaku tak bisa berbuat apa-apa dan tetap mendukung. Menurutnya, "dinamika politik terjadi" dan memahami bahwa sosok yang didukungnya "tidak bisa menyenangkan semua pihak".

Kita bisa lihat proses penentuan cawapres dan bahkan bangunan koalisi dilakukan sangat tertutup. Hanya elit-elit yang menentukan. Cawapres akhirnya dipilih berdasarkan selera elit-elit partai."Konsekuensinya pilihan buat kaum muda jadi sangat terbatas, baik dari segi kuantitas maupun segi gagasan dan program."

Tahukah Kalian ?

Berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri, ada 193 juta pemilih yang berhak memberikan suara mereka pada 2019 nanti. 52 persen di antaranya adalah pemilih muda yang berusia 17 hingga 35 tahun. Sedangkan 10 persennya merupakan pemilih pemula. Artinya, generasi muda yang mampu menentukan ke mana arah negara berjumlah signifikan.

Meski berat, tapi anak muda punya kekuatan dan bisa menentukan sikap.
Bila pemuda seakan tidak dianggap itu bukan sepenuhnya kesalahan sistem demokrasi. Walau faktor finansial, popularitas dan kekerabatan itu masih sangat kuat, tapi ini tak selalu berarti anak muda hanya bisa pasrah. Jika sulit untuk mencari inspirasi dari dalam negeri, anak muda bisa melacak nama Alexandria Ocassio-Cortez di mesin pencarian. Kiprah anak muda dalam kancah politik Tanah Air, benarkah berat?

Tak hanya masih berumur 28 tahun dan berlatar belakang kelas pekerja, perempuan Amerika Serikat itu juga mampu mengalahkan anggota Kongres veteran dari satu daerah pemilihan yang sama. Ia pun mengumpulkan dana dari kampanye pintu ke pintu tanpa sokongan dari korporasi manapun. Visi dan misinya pun mempertimbangkan keresahan anak muda yang diwakilinya.

Jika terpilih pada November nanti, ia akan jadi anggota Kongres Amerika Serikat termuda. Bentuk kampanye seperti itu, kata Mahardika, bisa saja terjadi di Indonesia. "Apalagi anak muda sudah melihat struktur partai yang gak kondusif untuk mereka bisa menggalang dukungan diplatform-platformtradisional."

Anak muda maupun partai politik punya pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan

Meski demikian, anak muda perlu memahami lebih dulu apa yang sebenarnya dicita-citakan. Anak muda masih belum merepresentasikan anak muda itu sendiri. Jadi untuk masuk ke struktur ya dia berusia muda saja, belum berasal dari kalangan yangconcernterhadap kebutuhan anak muda.Apalagi ideologi anak muda juga masih cair."

Partai tentu juga punya andil dalam mengondisikan pola pikir anak muda yang skeptis/kurang percaya terhadap peran mereka. "Anak muda masih tersandera oleh elit. Mereka belum punya kemandirian yang utuh karena rekrutmen masuk partai juga belum menyeluruh."

Institusionalisasi politik anak muda.

Menurut KBBI Institusional adalah mengenai lembaga atau bersifat kelembagaan. Maka dapat ditarik institutionalisasi, adalah proses yang dilewati suatu norma masyarakat yang baru untuk menjadi bagian dari suatu lembagakemasyarakatan sehingga di kenal, diakui, dihargai, dan ditaati dalam kehidupan sehari-hari.

Politik anak muda rata-rata adalah politik yang cenderung muncul tanpa institusi politik. Aspirasi dan suara lebih banyak mengalir ke beranda-beranda media sosial, denganrule of the gameyang terbilang cukup longgar. Solidaritas dan kohesi(keterikatan) sosial digital lebih menonjol dengan munculnya gerakan seperti petisionlineatau penggalakanhashtaguntuk isu-isu tertentu.

Namun, dalam praktiknya dunia sosial alam maya berkecenderungan untuk menipiskan keberanian dalam menghadapi perbedaan. Misalnya saja, perbedaan pendapat sangat berpotensi berakhir dengan cara pemutusan pertemanan, atau malah saling menjatuhkan. Mengapa bisa? Karena saling tak bertatap muka. Yang satu entah di mana, yang lainya pun demikian.

Perkembangan teknologi yang secara terus-menerus semakin memersonalisasi berbagai aktivitas sosial, mendekatkan suara-suara dan aspirasi-aspirasi satu dengan yang lain di dunia yang lain pula (maya), tapi merenggangkan keterikatan sosial di dunia nyata. Tak ada tatap muka, tak ada adu tarik kuat suara, tak ada ekspresi serius dan bercanda yang tergambar dari mimik wajah, dan lain-lain. Yang ada adalah wajan pertemuan literal dan kata-kata berupa tulisan, kode,emoticon,meme, dan sejenisnya.

Kiprah anak muda dalam kancah politik Tanah Air, benarkah berat?

Walhasil, sekalipun kata-kata muncul dalam penampakan yangviral, apalagi melenceng dari fakta-fakta yang ada, tingkat pertanggung jawabannya menjadi rendah karena tidak bisa secara langsung dimintakan pertanggungjawaban, terutama terkait keilmiahan atau kebenaran sebuah pendapat atau aspirasi. Pendapat bisa terus terviralisasi sebelum terverifikasi, sebelum dibenturkan. Dan, sekalipun kemudian terbukti kurang sah, proses viralisasinya tetap bisa terus berjalan dan mempengaruhi banyak orang.

Teknologi memang membuat berbagai aspirasi meloncat-loncat begitu saja, tapi kredibiltas dan akuntabilitas sebuah pernyataan menjadi semakin menurun, dan cenderung berlawanan dengan sejarah. Orang per orang bisa melakukanpencarianapa saja dalam rangka menemukan argumen-argumen untuk mendukung pendapatnya, tapi yang didapatkan hanya berupa penjelasan yang tercerabut dari akarnya, bahkan cenderung tidak utuh.

Akan sangat berbeda dengan pendapat yang dibangun oleh sebuah argumentasi lengkap dari sebuah buku yang lengkap tinjauannya misalnya, yang memiliki tinjauan teoritis, kerangka berpikir yang jelas, sistematis, dan ada konteksnya. Kondisi semacam inilah yang pada umumnya menjadi landasan pergerakan politik anak muda.

Lemahnya hubungan yang erat membuat integritas generasi muda menjadi rapuh. Solidaritas dibangun di atas landasan dunia maya, tanpa ada ikatan kuat antara satu dan lainnya. Sehingga perilaku yang dibangun di atas landasan dunia maya tersebut tentu belum teruji secara nyata di dunia yang nyata pula.

Sebut saja misalnya soal korupsi. Memang, generasi muda dikabarkan lebih bersih dari isu korupsi. Tapi, kebersihan semacam itu dibangun di atas narasi yang nonpolitis alias karena anak muda lebih banyak berada di luar sistem yang koruptif. Kita lebih banyak mendengar berita terkait generasi lama yang tersangkut korupsi lantaran mereka memang memiliki kapasitas untuk melakukan itu. Mereka memegang wewenang, atau berkolaborasi dengan pemegang wewenang suatu bidang yang menjadi koleganya, untuk terjadinya korupsi.

Sementara itu, mengatakan bahwa generasi muda sangat kecil potensinya untuk melakukan korupsi cenderung sangat mudah karena kapasitas untuk melakukan itu juga terbilang tidak ada, alias tidak menduduki posisi yang memiliki wewenang tertentu untuk korupsi. Akan berbeda kasus jika terbukti generasi muda sudah berada di dalam sistem, bertampuk di salah satu posisi strategis, lantas membuktikan diri bahwa korupsi tidak mengenai dirinya, kemudian menjadi panutan di dalam institusi tersebut, dan akhirnya mengubah secara keseluruhan kultur wewenang yang ada di dalamnya. Jadi dapat dipahami, mengapa generasi muda lebih cenderung bersih ketimbang generasi sebelumnya.

Di DPR misalnya, ada beberapa anak muda, bahkan sangat muda saat terangkat menjadi anggota dewan, yang sampai hari ini tak terdengar sepak terjangnya. Apa inisiasi politik yang sudah mereka lakukan untuk membuktikan bahwa generasi muda di parlemen adalah generasi yang berbeda secara politik dengan pendahulunya? Saya secara pribadi sama sekali belum menyaksikan itu. Inisiasi-inisiasi generasi muda agar terbebas dari penyakit-penyakit kekuasaan bisa berlangsung karena memang mereka bermain di ranah yang berbeda yang ternyata cukup berjarak dengan kekuasaan.

Kemudian, ada pula satu-dua partai yang muncul untuk merepresentasikan kepentingan dan suara politik anak muda yaitu Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Boleh jadi, suara-suara pembaruan merekah kuat dalam sikap partai, tapi saya cukup menyayangkan, karena PSI bermain di isu yang sama sekali tak baru. Isu milenial, antikorupsi, demokratisasi, peran media sosial, dan isu politik terkait generasi muda.

Lantas pertanyaanya, di mana letak perbedaanya? Jika PSI berbicara antikorupsi, hampir semua partai pun berbicara hal yang sama. Saya kira semua orang paham bahwa PSI memang belum masuk ke sistem dan belum ikut bertanding. Waktu akan membuktikan kebenaran yang mereka suarakan setelah PSI berlaga di dalam sistem, menduduki pos-pos kekuasaan, dan sejenisnya. Tapi di ranah yang sama sekali menjadi domain anak muda, katakan saja soal inovasi, kebijakan-kebijakan terkait inovasi, soalstart up,dan ekonomi kreatif-alternatif PSI justru sering mengabaikan.

Bukankah ranah ini adalah pembeda yang sangat menonjol dari generasi muda? Pendapat saya bedasarkan apa yang saya lihat dan baca, apa yang dilakukan PSI adalah memindahkan isu-isu lama ke dalam cara kerja anak muda, seperti bermain di ranah media sosial, bermain kartu politik selebritas agartrendingdi media media, dan isu-isu lama lainya yang diviralkan melalui media sosial. Lalu apa yang baru? Jika dipatut-patutkan, yang baru adalah pelakunya karena masih muda. Tapi siapa yang bisa diyakinkan bahwa pelaku baru tidak ditunggangi pelaku lama? Tak ada juga yang bisa memberikan jaminan soal itu.

Pendeknya, generasi muda, milenial dan setelahnya, perlu memetakan ranah gerakannya, menghitung langkah-langkahnya, dan membumikannya melalui cara-cara yang memang sesuai dengan kegenerasian anak muda. Ikut terlibat dengan institusi politik yang ada, lalu ikut mewarnainya, bahkan menyegarkan dengan ide-ide baru, memperbarui yang sudah usang, mengadakan yang belum ada, menambah arah baru yang terlewatkan oleh generasi sebelumnya, dan terakhir memperbaharui berbagai hal di dalamnya, adalah cara-cara yang juga tak kalah baiknya.

Itu semua adalah bagian penting dari institusionalisasi politik anak muda, karena secara nyata akan membuktikan benarkah anak muda antikorupsi? Benarkan anak muda punya gaya dan ide baru? Benarkah anak muda punya solusi-solusi baru? semuanya akan bisa dijawab dengan cara tersebut. Jadi sebagai anak muda, mulailah pergerakan saling mendukung untuk saling membuktikan diri, dan membuktikan 'kicauan' masing-masing.