×
Sign in

Hello There

Sign In to Brilio

Welcome to our Community Page, a place where you can create and share your content with rest of the world

  Connect with Facebook   Connect with Google
Ketahui 5 hal mengenai virus Corona yang tak bisa dianggap remeh

0

Kesehatan

Ketahui 5 hal mengenai virus Corona yang tak bisa dianggap remeh

Jauhi tempat umum, patuhi anjuran pemerintah untuk stay at home, pakai masker, dan budayakan cuci tangan dengan sabun dan air mengalir.

Disclaimer

Artikel ini merupakan tulisan pembaca Brilio.net. Penggunaan konten milik pihak lain sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Silakan klik link ini untuk membaca syarat dan ketentuan creator.brilio.net. Jika keberatan dengan tulisan yang dimuat di Brilio Creator, silakan kontak redaksi melalui e-mail redaksi@brilio.net

Setyo Ari Cahyono

20 / 05 / 2020 14:08

Dalam tiga sampai empat bulan bulan terakhir wabah Corona membawa suatu perubahan besar umat manusia, tidak hanya secara medis namun juga secara sosio-kultural dan teknologi serta budaya. Manusia berduyun-berduyun menyiapkan senjata untuk melawan 'organisme' primitif pembunuh massal yang fenomenal saat ini. Pandemi yang terjadi tak ubahnya skenario besar film yang perlu diakhiri tak hanya dengan kemajuan sains.

Nah, berikut ini merupakan 5 hal mengenai virus Corona yang tak bisa dianggap remeh.

1. Virus bermutasi meloncat antar spesies.

Virus sebenarnya lebih kecil dari parasit (mikroorganisme). Meskipun demikian, jumlah dan keragaman genetiknya sangat berlimpah. Bisa jadi ada triliunan jenis virus di muka Bumi ini. Secara genetis manusia mewarisi sekitar 8% material genetik retro-virus dari epidemi masa lampau.

Covid-19 tidak hanya berdampak pada manusia, tetapi juga hewan dan tanaman. Untuk pertama kalinya, penyakit ini telah dikonfirmasi pada seekor harimau di Bronx Zoo, New York, diyakini telah tertular oleh seorang karyawannya. Pakar konservasi berpikir Covid-19 juga bisa mengancam binatang lain seperti gorila, simpanse, dan orangutan.

Loading...

Sebagian besar virus bersifat spesialistik. Mereka bersimbios dengan spesies inang yang disukai. Virus dan inang dapat saling menguntungkan dan tidak menimbulkan penyakit. Namun, kadang-kadang virus akan pindah secara 'berlimpah' dari host aslinya ke host baru. Saat inilah risiko penyakit meningkat. Sebagian besar penyakit menular pada manusia adalah akibat limpahan virus dari organisme liar.

medicalexpress.com

Coronavirus baru (SARS-CoV-2) yang muncul dari Wuhan sebenarnya bukan 'baru'. Virus berevolusi dalam jangka waktu lama, mungkin jutaan tahun, pada spesies sebelumnya. Kita tahu virus ini memiliki kekerabatan dekat dengan kelelawar dan trenggiling—yang dianggap lezat di Cina.

Coronavirus pertama (SARS-CoV), berpindah dari kelelawar ke manusia melalui mamalia perantara. Beberapa ahli menuding trenggiling itulah sebagai perantara SARS-CoV-2 ini.
Aktivitas manusia mendorong munculnya virus patogen baru (penyebab penyakit). Saat kita merusak batas-batas tempat liar di Bumi—menebang semak untuk pertanian dan perkebunan—virus dari satwa liar akan berinteraksi dengan tanaman, hewan ternak, dan juga manusia.

whatsorb com

Spesies yang berevolusi secara terpisah sekarang bercampur. Pasar global memungkinkan perdagangan bebas hewan, sayuran, bunga, umbi dan biji beserta virus ikut serta dalam perjalanannya.

Manusia juga menghangatkan iklim. Hal ini memungkinkan spesies tertentu untuk memperluas jangkauan geografis mereka ke zona yang sebelumnya terlalu dingin untuk dihuni. Akibatnya, banyak virus menemukan host baru untuk pertama kalinya.

2. Virus bisa menggandakan diri menjadi 1.000.000 sebelum satu sel mati.

Dua kata yang harus kita percayai tentang virus Corona adalah sangat kecil dan berbahaya. Dilansir dari timesofisrael.com, dalam tulisan bertemakan How does the coronavirus enter the body, and what makes it so dangerous? dijelaskan bagaimana virus itu masuk dan membahayakan tubuh manusia.

sinobiological.com
NYTimes.com

Virus ini bersirkulasi melalui tetesan cairan (droplet) yang menyebar melalui batuk atau bersin, dan masuk ke dalam tubuh (orang lain) melalui mulut, mata atau hidung. Ia dapat tetap hidup di permukaan benda selama berjam-jam bahkan berhari-hari, dan mungkin bisa memasuki paru-paru secara langsung ketika terhirup. Setelah memasuki tubuh, virus menyebar ke bagian belakang saluran hidung dan ke selaput lendir di tenggorokan, menempel pada reseptor (sel penerima) di organ tubuh.

Partikel-partikel virus mengait ke dinding luar sel inang, lalu materi genetiknya merusak dinding sel, dan membajak sel kita untuk membuat lebih banyak copy-an virus. Salinan virus 'berkembang biak', keluar dari sel, dan menginfeksi sel-sel lain dalam tubuh. Satu sel dapat menghasilkan jutaan salinan virus sebelum sel yang dia bajak mati.

3. Hanya dengan menyentuh hidung, wajah, dan mulut kita bisa tertular.

Dilansir dari situs vox.com, rata-rata orang menyentuh wajahnya 23 kali dalam sejam. Itu berarti setiap 3-4 menit sekali kita selalu menyentuh wajah, entah itu bagian hidung, mulut, mata atau bagian yang lainnya.

theconversation.com

Mengapa kita hobi menyentuh wajah? Salah satu alasannya: Ada banyak hal yang bisa 'dibenahi' di sana. Kita punya hidung, banyak orang sering menyentuh hidungnya—ada sesuatu yang terasa (mengganggu) di sana. Kita merasa perlu menggosok mata, atau kadang menata rambut. Tangan kita biasanya menyentuh mulut ketika makan, dan sebagainya. Perilaku menggaruk wajah tanpa ada rasa gatal juga menjadi kebiasaan umum orang, dan itu cukup menyenangkan.

BBC.com

Namun kebiasaan ini menjadi hal sangat mengerikan di tengah wabah Corona. Bagaimana tidak, sebagian besar penularan dan terjangkitnya penyakit ini karena kebiasaan menyentuh wajah yang tak terelakkan.

SARS-CoV-2—virus yang menyebabkan penyakit Covid-19—masuk ke dalam tubuh melalui saluran pernapasan. Ada dua cara bagaimana ini bisa terjadi. Yang pertama adalah melalui kontak langsung orang ke orang. Seseorang dengan virus, dia batuk atau bersin di dekatmu, dan kamu menghirup partikel-partikel itu. Inilah alasan mengapa kita harus terpisah jarak sejauh minimal satu meter ketika berhadapan dengan orang lain.

Cara kedua yaitu melalui sentuhan. Di sinilah kebiasaan menggosok mata dan wajah menjadi bencana. Kita belum tahu persis pada permukaan apa virus ini dapat hidup dan berapa lama? Peneliti National Institutes of Health, Princeton, dan UCLA menunjukkan bahwa virus dapat bertahan pada permukaan selama berjam-jam, dan dalam beberapa kasus hari.

Kita menyentuh banyak benda dan tetesan (bekasnya) dihuni oleh virus-virus ini. Seperti permukaan ponsel, tablet, remote, dll. Kita menyentuh itu lalu menyentuh wajah, itulah rute infeksi berjalan. Oleh karenanya jangan sering menyentuh bagian wajahmu.

4. Bisa menyebar seperti aerosol di udara.

Dilansir dari livescience.com, virus Corona alias SARS-CoV-2 dapat bertahan hidup di udara selama beberapa jam dalam partikel halus yang dikenal sebagai aerosol, menurut penelitian yang diterbitkan di The New England Journal of Medicine edisi 17 Maret 2020.

Virus Corona dapat dideteksi hingga 3 jam di udara setelah aerosolisasi dan diduga dapat menginfeksi manusia sepanjang periode waktu itu. Dengan asumsi hasil awal ini bertahan, transmisi aerosol dari SARS-CoV-2 tampaknya 'masuk akal', kata para penulis.

Ilmuwan masih belum tahu seberapa tinggi konsentrasi SARS-CoV-2 yang layak dalam praktik untuk menginfeksi manusia, meskipun ini adalah sesuatu yang sedang dicari modelnya. Dylan Morris, dari Departemen Ekologi dan Biologi Evolusi di Universitas Princeton menguji bagaimana partikel virus dari aerosol dapat menginfeksi sel yang tumbuh di laboratorium. Lebih penting, bahkan jika transmisi aerosol dapat terjadi, itu tidak mungkin menjadi sebab utama pemicu pandemi saat ini

Naukas.com

Pada saat penelitian ini diterbitkan, konsensus ilmiah masih menyepakati bahwa sebagian besar transmisi melalui droplet (sekresi pernapasan dalam bentuk tetesan pernapasan yang lebih besar) bukan aerosol kecil.

Droplet, untungnya, cukup berat sehingga mereka tidak bisa bepergian terlalu jauh dan jatuh dari udara setelah terbang beberapa meter. Aerosol, sebaliknya, berpotensi melakukan perjalanan melintasi jarak yang jauh lebih besar.

Berdasarkan penelitian sebelumnya, Morris awalnya menyatakan bahwa aerosolisasi SARS-CoV-2 mungkin bukan pemicu utama penularan sehari-hari tetapi dapat menimbulkan bahaya dalam pengaturan perawatan pasien di mana peralatan khusus banyak digunakan.

Namun, baru-baru ini anggota dalam kelompok paduan suara yang dites positif Covid-19 setelah latihan, semakin menguatkan kemungkinan bahwa aerosol dapat memicu transmisi melampaui batas rumah sakit. Seperti dikutip dari channel YouTube praktisi kesehatan dr. Adhiatma Gunawan, Good Doctor.

dr.Adhiatma Gunawan Channel

Sekarang jelas bahwa risiko aerosol tidak bisa diabaikan bagi orang awam, terutama di dalam ruangan yang berventilasi buruk. Pengaturan rumah sakit yang salah juga membawa risiko tinggi untuk transmisi aerosol SARS -CoV-2.

5. Paru-paru diserang virus hingga rusak parah.

Sebuah video menunjukkan paru-paru seorang pria yang tidak menunjukkan gejala beberapa hari sebelumnya.

Orisinil

Pasien memiliki Covid-19 dan paru-parunya gagal berfungsi dengan baik. Dr. Keith Mortman, kepala bedah toraks di Rumah Sakit Universitas George Washington, barusan merilis video 3D paru-paru pasien virus Corona.

dailymail.co.uk

Video itu menunjukkan kerusakan luas pada paru-paru pria berusia 59 tahun yang terlihat sehat dan hanya memiliki hipertensi. Karena menjadi parah, pasien memerlukan ventilator sebagai alat bantu napas, meskipun pada pengaturan tertinggi, alat itu tidaklah cukup menolong. Dia juga membutuhkan mesin lain untuk sirkulasi dan suplai oksigen darahnya.

Satu minggu kemudian, infeksi dan proses peradangan berjalan semakin buruk.

Area bertanda kuning pada video adalah bagian paru yang terinfeksi dan meradang. Ketika paru-paru terinfeksi virus, organ akan mulai menutup virus. Dari pemindaian, jelas bahwa kerusakan mencakup wilayah luas kedua paru-paru, menunjukkan begitu cepat dan agresifnya infeksi berjalan, bahkan pada pasien berusia muda.

CNN.com

 

Pasien ini menderita gagal napas progresif, kerusakan pada paru-paru terjadi cepat dan luas. Sayangnya, begitu paru-paru rusak parah, perlu waktu lama untuk sembuh. Sekitar 2-4% pasien Covid-19, kerusakannya tidak dapat dipulihkan dan akan berakhir dengan kematian.

Virus ini menyerang pernapasan. Masuk ke selaput lendir, kemudian tiba di paru-paru. Cara tubuh mencoba bereaksi adalah dengan meradang. Kuning menandai infeksi dan peradangan. Jadi, paru kita meradang cukup kuat sebagai upaya tubuh mengendalikan infeksi.

Peradangan mencegah paru-paru tidak mengoksidasi darah dan melepaskan karbondioksida. Sehingga pasien terengah-engah karena menghirup banyak udara untuk menyeimbangkan kadar O2 dan CO2.

Jadi sebegitu bahayanya virus Corona sehingga kita harus waspada dari penularannya. Jauhi tempat umum, patuhi anjuran pemerintah untuk stay at home, pakai masker, dan budayakan cuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Waspada dan jaga diri dari Covid-19! (SAC)

Source






Pilih Reaksi Kamu
  • Senang

    0%

  • Ngakak!

    0%

  • Wow!

    0%

  • Sedih

    0%

  • Marah

    0%

  • Love

    0%

Loading...

RECOMMENDED VIDEO

Wave white

Subscribe ke akun YouTube Brilio untuk tetap ter-update dengan konten kegemaran Milenial lainnya

MORE
Wave red