Brilio.net - Resesi ekonomi merupakan istilah yang menjadi momok pada hampir semua negara di dunia, termasuk Indonesia. Istilah resesi ekonomi berkaitan dengan masalah kondisi finansial yang buruk. Tak hanya memengaruhi kondisi keuangan atau finansial, resesi ekonomi juga berdampak pada sektor investasi, pajak, hingga kualitas hidup dari masyarakat secara umum.

Pada dasarnya, resesi adalah periode penurunan tingkat ekonomi secara sementara dengan aktivitas di sektor perdagangan dan aktivitas industri yang kian berkurang. Adanya resesi ekonomi juga ditandai dengan terjadinya penurunan produk domestik bruto (PDB) secara berturut-turut.

Resesi juga seringkali diasosiasikan dengan turunnya harga-harga (deflasi) atau sebaliknya, meningkatnya harga-harga secara tajam (inflasi) dalam proses yang dikenal sebagai stagflasi. Apabila resesi ekonomi terjadi berlangsung lama, sering disebut dengan depresi ekonomi, yaitu suatu keadaan terjadinya penurunan aktivitas ekonomi yang parah dan berkepanjangan.

Untuk dapat memahami lebih lanjut mengenai penjelasan penyebab, dampak, dan solusinya, berikut brilio.net rangkum dari berbagai sumber pada Senin (1/8).

 

 

 

 

 

Pengertian resesi.

Resesi ekonomi adalah © 2022 berbagai sumber

foto: freepik.com

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), resesi adalah kelesuan dalam kegiatan perdagangan, industri, dan sebagainya (seolah-olah terhenti), menurunnya atau mundurnya kegiatan dagang (industri).

Dikutip dari laman ojk.go.id, arti resesi ekonomi atau resesi adalah suatu kondisi dimana perekonomian suatu negara sedang memburuk. Hal ini ditandai dengan adanya penurunan produk domestik bruto (PDB), meningkatnya pengangguran, serta pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal berturut-turut.

Dalam artian lain, resesi adalah penurunan aktivitas ekonomi yang terjadi secara signifikan dengan periode waktu yang cukup lama, dimulai dari berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Ketika negara mengalami resesi, biasanya memiliki tanda seperti meningkatnya jumlah pengangguran, menurunnya penjualan ritel, dan kontraksi pendapatan pada bagian manufaktur dalam periode yang cukup lama.

Penyebab resesi.

Resesi ekonomi adalah © 2022 berbagai sumber

foto: freepik.com

Resesi sebagai periode penurunan aktivitas ekonomi yang ditandai dengan penurunan produk domestik bruto (PDB) dalam dua kuartal berturut-turut. Meski demikian, berikut merupakan faktor yang menyebabkan resesi ekonomi terjadi.

1. Inflasi.

Inflasi merupakan proses meningkatnya harga secara terus-menerus. Inflasi sesungguhnya bukan sesuatu hal yang buruk, namun inflasi yang berlebihan masuk ke dalam kategori berbahaya sebab akan membawa dampak resesi.

2. Deflasi berlebihan.

Meski inflasi yang tak terkendalikan dapat menyebabkan resesi, deflasi juga dapat memberikan dampak yang lebih buruk. Deflasi merupakan kondisi saat harga turun dari waktu ke waktu dan yang menyebabkan upah menyusut, kemudian menekan harga.

Deflasi lebih berdampak pada pemilik usaha atau penyedia barang maupun jasa. Ketika individu dan unit bisnis kemudian berhenti mengeluarkan uang, hal ini kemudian akan berdampak pada rusaknya ekonomi. Penyebab deflasi yaitu terjadinya jumlah produksi yang membludak secara bersamaan dan beberapa perusahaan, menurunnya permintaan produksi sebuah produk, serta menurunnya jumlah uang yang ada di pasaran.

3. Perubahan teknologi.

Penemuan baru dapat meningkatkan produktivitas dan membantu perekonomian dalam jangka panjang, akan tetapi ada periode penyesuaian jangka pendek untuk terobosan teknologi. Pada abad ke-19, ada gelombang peningkatan teknologi hemat tenaga kerja. Revolusi Industri membuat seluruh profesi menjadi usang, memicu resesi, dan masa-masa sulit. Saat ini, beberapa ekonomi khawatir bahwa Artificial Intelligence (AI) dan robot dapat menyebabkan resesi dengan menghilangkan seluruh kategori pekerjaan.

4. Gelembung aset.

Gelembung aset merupakan salah satu penyebab resesi. Fenomena gelembung aset terjadi di pasar saham dan properti. Investor mengambil keputusan gegabah yang akhirnya merusak pasar. Dalam hal ini investor terlalu optimis selama ekonomi kuat hingga akhirnya gelembung aset pecah dan terjadilah panic selling.

5. Utang berlebihan.

Apabila individu maupun bisnis memiliki banyak utang, biaya untuk membayar utang dapat meningkat ke titik di mana mereka tidak dapat membayar tagihannya. Meningkatnya utang yang tak terbayar dan kebangkrutan dapat memulihkan perekonomian. Gelembung perumahan yang dapat menyebabkan resesi hebat adalah contoh utama dari utang yang berlebihan sehingga menyebabkan resesi.

Dampak resesi.

Resesi ekonomi adalah © 2022 berbagai sumber

foto: freepik.com

Dilansir dari National Bureau of Economic Research (NBER), secara umum resesi terjadi ketika negara masuk dalam periode jatuhnya aktivitas ekonomi, tersebar di seluruh sektor ekonomi, dan sudah berlangsung selama lebih dari beberapa bulan, umumnya lebih dari 3 bulan. Maka dari itu, dampak resesi akan terasa dalam bidang perekonomian.

1. Dampak resesi untuk pemerintahan.

Dampak resesi ekonomi terhadap pemerintah yang paling signifikan adalah pendapatan negara dari pajak dan non pajak menjadi lebih rendah. Hal ini terjadi karena penghasilan masyarakat menurun hingga harga properti yang anjlok dan akhirnya memicu rendahnya jumlah PPN ke kas negara.

Dengan pendapatan negara sedang merosot, di sini pemerintah terus dituntut untuk membuka lapangan pekerjaan sebanyak mungkin karena jumlah pengangguran yang meningkat. Akibatnya, pinjaman ke bank asing akan meningkat, dan menyebabkan utang negara semakin menumpuk.

2. Dampak resesi pada perusahaan.

Dampak resesi pada perusahaan adalah bisnis yang dijalankan berpotensi bangkrut. Ketika terjadi resesi, maka daya beli masyarakat akan menurun dan pendapatan perusahaan akan semakin kecil. Kondisi ini akan mengancam kelancaran arus kas. Maka, tak dapat dipungkiri bahwa akan ada perang harga untuk mempertahankan perusahaan supaya tidak bangkrut. Namun, opsi ini dianggap kurang menguntungkan, sehingga perusahaan lebih memilih menutup area bisnis yang kurang menguntungkan hingga memotong biaya operasional.

3. Dampak resesi pada masyarakat.

Dampak resesi terhadap masyarakat atau pekerja adalah terjadi banyak PHK. Artinya dengan banyaknya PHK, maka pengangguran semakin meningkat. Di sisi lain, bagi pekerja yang tidak terkena PHK juga terancam terkena pemotongan upah dan hak kerja lainnya saat resesi ekonomi terjadi.

Solusi pencegahan resesi.

Resesi ekonomi adalah © 2022 berbagai sumber

foto: freepik.com

Berikut ini beberapa Langkah yang dapat dilakukan oleh pemerintah dalam mencegah terjadinya resesi.

1. Bantuan UMKM.

UMKM menjadi salah satu sektor dengan kondisi yang berat akibat pandemi Covid-19. Pemerintah kemudian menyiapkan berbagai program untuk mengungkit sektor UMKM supaya kembali bergeliat.

Satgas Pemulihan dan Transformasi Ekonomi kemudian juga menyiapkan dua program lain, yaitu bantuan UMKM produktif dan kredit berbunga rendah. Program bantuan ini ditunjukkan dalam bentuk grant dan bukan pinjaman. Bantuan tersebut diharapkan tak hanya dipergunakan untuk kehidupan sehari-hari, melainkan juga untuk memulai usaha.

2. Belanja pemerintah besar-besaran.

Belanja pemerintahan menjadi salah satu daya ungkit yang digunakan untuk memulihkan perekonomian di saat krisis akibat pandemi Covid-19. Dengan cara ini, maka kontraksi ekonomi akibat efek domino Covid-19 dapat diredam.

3. Penempatan dana di perbankan dan penjaminan kredit modal kerja untuk korporasi.

Upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengembalikan roda ekonomi yaitu dengan melakukan penempatan dana di perbankan. Kemudian para bank sudah menyalurkan dana tersebut dalam skala yang cukup besar.

Pemerintah juga telah meluncurkan berbagai program penjaminan pemerintah kepada korporasi padat karya dalam rangka pemulihan ekonomi nasional. Perbankan kemudian menandatangani perjanjian penjaminan terutama pada sektor padat karya yang merupakan sektor yang banyak memiliki pekerja.