Brilio.net - Pemandangan bocah-bocah pemburu koin rupanya tak hanya terlihat di Pelabuhan Merak, Banten atau Pelabuhan Gilimanuk, Bali. Jika kamu pernah berkunjung ke Filipina dan mencoba untuk naik perahu di dermaga, kamu juga akan bertemu dengan para pemburu koin yang di sana disebut dengan "Banca".

Mereka akan berteriak dan meminta para penumpang perahu untuk membuang beberapa koin. Saat ada penumpang yang melempar koin, mereka akan menyelam untuk mencari koinnya. Tak peduli seberapa lama mereka menyelam, terkadang beberapa di antaranya tak mau naik ke permukaan air sampai mereka mendapatkan koin di tangan.

Maria Tequillo © 2016 brilio.net

Maria Tequillo © 2016 brilio.net

Para pemburu koin itu termasuk dalam kelompok etnis yang disebut "Badjaos". Istilah ini mirip dengan pengemis tapi mereka juga "bekerja" karena mereka mengejar uang bukan hanya menerima uang seperti pengemis lain pada umumnya. Bagi banyak Badjaos, itu adalah cara mereka untuk hidup.

Loading...

BACA JUGA: 10 Pengorbanan yang sering dilakukan cowok saat ngejar gebetan

Dalam kelompok ini, kamu akan sering  menemukan keluarga tak mampu yang membawa serta bayi atau anaknya saat "bekerja". Entah untuk mencari simpati dan mendapatkan lebih banyak uang atau alasan sederhana karena mereka tak bisa meninggalkan anak-anak kecil di rumah sendirian. Namun rupanya ada sosok lainya yang bisa kamu temukan.

Ialah Maria Tequillo, nenek 74 tahun yang masih bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Meskipun usianya tak lagi muda, mau tak mau ia harus tetap rela menyelam untuk mencari uang koin yang dilemparkan penumpang di daerah pelabuhan.

Maria Tequillo © 2016 brilio.net

Maria Tequillo © 2016 brilio.net

Maria Tequillo © 2016 brilio.net

Dikutip brilio.net dari Storypick, Senin (8/8), Maria bekerja untuk cucu-cucunya. Aktivitasnya dimulai dari subuh. Biasanya ia menggunakan perahu kecil untuk pergi ke dermaga Lucena dan meminta penumpang kapal feri untuk melemparkan uang kepadanya.

Tak hanya semangat nenek Maria yang patut diacungi jempol, kemampuan menyelam yang ia miliki juga luar biasa. Bahkan tanpa alat menyelam ia tetap kuat mencari uang koin yang dilemparkan ke dalam air.

Dalam sehari, Maria bisa mengumpulkan uang sekitar 100-200 Peso atau Rp 27.000-Rp 55.000. Hanya cukup untuk membeli beberapa kilogram beras, kopi dan mungkin beberapa telur ayam untuk makan.

Profesi ini telah Maria lakukan selama bertahun-tahun. Kini tubuhnya mulai goyah dan ia menyadari terkadang merasa sulit untuk bernapas, terutama ketika naik ke permukaan setelah menyelam. Selain itu, Maria juga mengakui penglihatannya mulai lemah dari hari ke hari. Ia berharap akan datang suatu waktu ia tak perlu menyelam lagi dan menjalankan usaha kecil sebagai gantinya.

Inilah film dokumenter oleh Front Row yang diambil di Dalahican, Lucena, menceritakan kehidupan keras dari Maria Tequillo: