Brilio.net - Belum lama ini TIME merilis daftar 100 orang paling berpengaruh dunia tahun 2021. Rencananya, sosok-sosok hebat itu akan ditampilkan dalam tujuh sampul khusus di seluruh dunia. Mulai dari Pangeran Harry, penyanyi Billie Eilish, direktur jenderal Organisasi Perdagangan Dunia Ngozi Okonjo-Iweala, hingga pesenam Simone Biles. Menariknya, ada wajah perwakilan Indonesia yang terlihat di dalam daftar tersebut.

Adi Utarini adalah salah satu nama yang dinobatkan menjadi orang berpengaruh di dunia versi TIME. Wanita yang akrab disapa Prof Uut, merupakan seorang guru besar Universitas Gadjah Mada (UGM). Diketahui, mantan manajer umum Microsoft Melinda French Gates adalah pihak yang merekomendasikan Prof Uut. Filantropis Amerika Serikat itu mengungkapkan, ketertarikannya terhadap Prof Uut bermula dari kemampuan wanita itu dalam meneliti nyamuk di sekitarnya.

Sosok Adi Utarini © Istimewa

foto: Instagram/@adiutarinimusik

"Beberapa tahun lalu dalam perjalanan ke Indonesia, saya mengunjungi sebuah keluarga di dekat lab Adi Utarini di Yogyakarta. Saya ingin mendengar bagaimana ia berhasil meyakinkan mereka membiarkannya melepaskan sekawanan nyamuk di sekitar lingkungan mereka," ujarnya

"Kebanggaan yang nyata merupakan bukti kepercayaan yang diperoleh Utarini dari komunitasnya. Juga, atas urgensi yang dirasakan jutaan orang di seluruh dunia dalam memerangi demam berdarah. Ini adalah kemenangan kemajuan global bahwa sebagian besar tingkat penyakit menular cenderung menurun dari tahun ke tahun," lanjutnya.

"Demam berdarah, bagaimana pun, adalah pengecualian yang keras kepala. Penyakit yang ditularkan nyamuk memengaruhi hampir 400 juta orang setiap tahun dan telah digambarkan WHO sebagai salah satu dari 10 ancaman terbesar bagi kesehatan dunia," katanya.

Sosok Adi Utarini © Istimewa

foto: TIME

Gates menambahkan bahwa Prof Uut bekerja sama dengan tim peneliti internasional dari Program Nyamuk Dunia untuk mengekang ancaman demam berdarah. Pro Uut menginokulasi nyamuk dengan Wolbachia, bakteri yang tidak berbahaya bagi manusia, namun mencegah nyamuk menularkan demam berdarah melalui gigitannya.

"Sebuah studi terobosan yang ia bantu pimpin adalah yang pertama, membuktikan teknik ini berhasil menurunkan tingkat penyakit di lingkungan masyarakat. Saat ini, hampir semua orang di Yogyakarta mengenal seseorang yang pernah terkena DBD. Utarini sendiri telah selamat dua kali," tutupnya.

Sosok Adi Utarini © Istimewa

foto: Instagram/@adiutarinimusik

Berkat kerja kerasnya, peneliti itu sampai dijuluki sebagai "mantri nyamuk". Dampaknya, ia pun mendapatkan berbagai apresiasi bergengsi, salah satunya sebagai sosok berpengaruh dunia versi TIME. Tak hanya itu saja, ia pun menempati peringkat 311 peneliti Indonesia terbaik dalam semua mata pelajaran yang diterbitkan Webometrics 2017. Prof Uut juga telah menerbitkan karyanya di sekitar 30 jurnal kesehatan internasional.

Di samping itu, melansir dari laman resmi Universitas Gadjah Mada, Prof Uut dianugerahi sebagai profesor di bidang Kesehatan Masyarakat pada tahun 2011. Ia mengajar kursus kebijakan dan manajemen mutu serta metode penelitian. Di bidang mutu pelayanan kesehatan, dirinya memimpin divisi mutu di Ikatan Rumah Sakit Indonesia dan redaktur utama Jurnal Akreditasi Rumah Sakit terbitan KARS bersama PKMK UMG.

(brl/guf)

(brl/guf)