Brilio.net - Rasa bahagia menyelimuti Halimatus Sa'diyah karena diterima kuliah di Departemen Matematika, Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada (UGM). Halimatus merupakan anak kuli bangunan yang lolos SNMPTN dengan program KIP Kuliah.

Dilansir brilio.net dari ugm.ac.id pada Sabtu (26/6), Halimatus pun berharap bahwa pencapaiannya ini dapat membahagiakan dan meringankan beban kedua orang tuanya. "Rasanya seneng, bisa sedikit memberikan kebahagiaan untuk bapak dan ibu karena saya lolos SNMPTN dengan program KIP Kuliah, mudah-mudahan meringankan," ucap Halimatus Sa'diyah.

Perjuangan anak kuli  © ugm.ac.id

foto: ugm.ac.id

Diketahui ayah Halimatus yang bernama Zainudin merupakan kuli bangunan, sementara ibunya Siti Fatimah seorang ibu rumah tangga. Ia pun awalnya pesimis untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi karena kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan.

Sebagai kuli bangunan, ayahnya meraih upah sekitar Rp 65.000 per hari atau rata-rata Rp 1.950.000 per bulan. Jika dibayangkan, pendapatan tersebut sangat tidak mencukupi untuk memenuhi biaya pendidikan di perguruan tinggi. Belum lagi, ayahnya masih memiliki tanggungan empat anggota keluarga. "Belum lagi bapak sekarang berumur 54 tahun dan mengidap penyakit liver semenjak umur 35 tahun dan membutuhkan obat jalan," katanya.

Namun, ayah Halimatus tidak pernah putus semangat untuk bisa memenuhi kebutuhan keluarga. Halimatus Sa'diyah dan keluarga hidup sederhana di Dusun Bringin Rt 17/07, Pondok Wuluh, Leces, Kota Probolinggo, Jawa Timur.

Kondisi ekonomi keluarga tak menghalangi Halimatus untuk berprestasi. Bahkan, di setiap jenjang pendidikan yang ia lalui. Dara kelahiran Probolinggo, 27 April 2003 lulus dari SDN 1 Pondok Wuluh tahun 2015, SMPN 1 Leces Excellent Class tahun 2018 dan SMA Darul Ulum 2 Unggulan BPPT Jombang, Cambridge International School ID 113 tahun 2021.

Saat SD, ia langganan peringkat 1. Ketika SMP, peringkat terburuknya adalah ranking 2. Bahkan, di bangku SMP ia juga mengikuti OSN Matematika serta pernah menjadi Duta Adiwiyata Mandiri Nasional.

"Pengalaman olimpiade sebenarnya sudah saya rintis semenjak kelas 7-9 SMP tetapi belum mendapatkan medali. Di SMP ini saya juga menambah kegiatan organisasi dengan menjadi anggota Remaja Masjid sebagai sekretaris," ungkapnya.

Saat SMA, Halimatus cukup aktif dalam berorganisasi ekstrakurikuler, seperti cambridge examination, tahfidz, club bahasa Inggris, dan teknologi informatika. Kesibukannya berorganisasi tak membuat prestasi turun. Sebaliknya, Halimatus menorehkan beberapa penghargaan, di antaranya Gold Medal International Science And Invention Fair 2020, Juara 3 Nasional Olimpiade Mipa dan Farmasi yang diselenggarakan Unair, juara 1 lomba KOPSI tingkat Sekolah dan Cambridge Examination Grade C 5. Nilai akademiknya pun rata-rata di setiap semester minimal 90.

Ia mengungkapkan rahasianya bisa mendapatkan nilai akademik yang baik karena selalu membersihkan pikiran-pikiran selain menuntut ilmu. Disamping itu, ia selalu menanamkan dalam diri untuk bisa berhasil meraih cita-cita sehingga senantiasa memprioritaskan belajar secara tertata.

"Yang penting juga jangan menunda-nunda tugas, selalu berdoa dan tawakal serta mengatur waktu dengan mendahulukan yang utama baru yang sekunder, tersier. Selama tugas primer belum terselesaikan jangan mengerjakan yang sekunder," akunya.

Kini Halimatus mulai mempersiapkan diri menjadi mahasiswa baru di Departemen Matematika FMIPA UGM. Ia mengaku, mencintai matematika dan ingin menjadi dosen.

"Saat pengumuman saya, bapak ibu terharu bercampur bahagia, sebab sesuai dengan cita-cita, dan perjuangan saya mulai dari SD, SMP, dan SMA tidak sia-sia," pungkasnya.

(brl/pep)

(brl/pep)