Brilio.net - Sewaktu SMA, pemuda bernama Mohammad Syukri Kurnia Rahman (22) bukanlah termasuk dari siswa unggulan. Bahkan, ia menjadi bahan tertawaan teman satu kelasnya karena memiliki nilai matematika terendah dalam Ujian Akhir Sekolah (UAS). Gara-gara itu pula orangtuanya rela dipanggil untuk menghadap guru BP, lebih malunya lagi karena ayahnya adalah seorang kepala sekolah di sebuah SMA di Kediri.

Syukri mengakui bahwa nilai yang ia peroleh karena kejujuran dalam mengerjakan ujian tersebut, tapi tak ada yang peduli dengan itu semua. Pemuda asli Kediri ini yakin akan dapat jalan yang terbaik dari Allah, hal itu terbukti saat seorang gurunya pesimis dan tertawa ketika mengetahui keinginannya melanjutkan pendidikannya di jurusan kedokteran.

"Allah menghadiahkan kepada saya sebuah tempat di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS), di saat banyak temen yang kesusahan mauk perguruan tinggi negeri (PTN)," kata Syukri (22) kepada brilio.net, Jumat (4/9).

Ternyata, menjalani kehidupan sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran itu tak semudah yang dibayangkan. Semester satu, dua, tiga, tak ada kebanggaan yang bisa dibawa pulang karena selalu dapat nilai rendah. Bahkan di semester tiga, dia sempat terpikir untuk mundur dari FK UNS. Maka di semester tiga itu ia berusaha mengoreksi kembali perjalanan hidupnya, ia menemukan satu jawaban menarik bahwa dia terlalu sibuk dengan urusan pribadinya sendiri.

Akhirnya, ia kuras semua tabungan yang dia miliki. Hampir Rp 3 juta ia bagi-bagikan ke satu per satu panti asuhan di Solo hingga uang di dompetnya tersisa Rp 15.000 saja. Karena tak punya uang lagi, maka dia kumpulkan baju-baju yang dia punya lalu dia berikan lagi ke panti asuhan yang sama. Hampir setiap pekan dia mengunjungi panti asuhan, menyapa, mendengar cerita dan memberikan apa pun yang dia punya.

Loading...

"Saya percaya pada tangan-tangan lain yang bergerak, di luar kuasa kita sebagai manusia yang bergerak menolong kita begitu kita menolong orang lain," tambahnya.

Hal menarik lainnya, ternyata ia pernah menjual sepeda motor kesayangannya demi membelikan sahabatnya sebuah sepeda motor. Dia melakukannya karena iba kepada sahabatnya yang harus naik angkot setiap hari ke kampus. Sementara, dia sendiri memutuskan untuk berjalan kaki. Tak berapa lama keajaiban mendekatinya. Ia mendapatkan sebuah motor yang jauh lebih bagus dan mewah dari motor yang dulu dia jual.

Pemuda yang suka berbagi ini rutin berkeliling ke tempat pembuangan sampah, bercerita dan ngobrol tentang kehidupan mereka dan memberi sumbangan. Dia selalu berusaha dekat dengan orang di bawah, dan saat ini hampir keliling Indonesia dengan rencana yang tak terduga.

Banyak kejadian yang diterimanya di luar dugaan, dan hal itu menurutnya luar biasa. Saat ini ia telah merampungkan kuliah dengan mengerjakan skripsi menggunakan laptop pinjaman. Dia juga menulis sebuah buku tentang inspirasi yang sebentar lagi akan di cetak. Ia juga merintis gerakan baca 25 yang saat ini tersebar di beberapa daerah di Indonesia seperti Aceh, Sorong, Pekalongan, Medan, Maluku, dan Pontianak. Salut.