Brilio.net - Prihatin dengan banyaknya anak jalanan yang kecanduan menghirup aroma lem, Haerdy Pratama Wijaya (23), mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Mulawarman ini tergerak untuk membentuk Klinik Jalanan. Dibantu lima temannya, Haerdy melakukan rehabilitasi terhadap anak jalanan yang sudah terlanjur kecanduan dengan aroma lem.

"Banyak banget di sini mas. Nggak cuma anak jalanan, anak rumahan juga banyak yang kecanduan aroma lem," terang Haerdy kepada brilio.net, Jumat (7/8).

Prihatin maraknya anak nge-lem, pemuda ini dirikan klinik rehabilitasi

Nge-lem merupakan aktivitas menghirup aroma lem yang jika dilakukan terus menerus bisa mengakibatkan kecanduan. Lem atau bahan lain yang mengandung zat aditif Lysergic Acid Diethilamide yang bisa menimbulkan halusinasi, mengubah pikiran, suasana hati.

ANDA MUNGKIN MENYUKAI INI

Haerdy mengungkapkan jika dirinya satu tahun lalu telah memulai memperhatikan anak jalanan yang nge-lem dengan membentuk Laskar Anjal. Bersama 15 volunter Laskar Anjal, ia berusaha mendekati anak jalanan di pinggiran jalan Kota Samarinda. Ia memberikan motivasi dan pendampingan belajar supaya kecanduan mereka terhadapa aktivitas nge-lem bisa semakin berkurang bahkan hilang.

"Salah satu caranya kita ajak mereka ngaji dan shalat karena menurut saya cara yang paling baik adalah mendekatkan diri kepada Tuhan," kaya Haerdy yang juga mantan Presiden BEM KM Unmul ini.

Menyadari bahwa kekurangan Laskar Anjal adalah belum adanya rehabilitasi medis dan tindak lanjut pascarehabilitasi, Haerdy mengonsep Klinik Jalanan. Ia tawarkan gagasan itu dalam ajang Indonesian Culture and Nationalism 2015. Tak disangka, ia meraih juara pertama mengalahkan 33 delegasi provinsi lain. Uang hadiah dari kompetisi itu ia gunakan sebagai modal membentuk Klinik Jalanan pada Mei 2015 dibantu teman-temannya.

Meskipun baru berjalan beberapa bulan, aksi sosial klinik Jalanan mendapat tanggapan positif dari banyak pihak. Klinik Jalanan pun kebanjiran pendaftar saat pembukaan volunter.

"Ada 149 yang daftar, mulai dari dokter, tenaga kesehatan, psikolog, pendidik, dan berbagai profesi lainnya. Alhamdulillah, itu menunjukkan tingginya kepedulian terhadap anak jalanan," ucap Haerdy.