Brilio.net - Sebagian besar masalah yang dihadapi wanita saat datang bulan atau haid adalah nyeri pada perut. Hal itu rupanya sangat menganggu karena dapat membuat aktivitas tidak produktif. Kondisi tersebut bernama disminore.

Bagi kamu yang sering mengalami nyeri saat haid, ada beberapa cara yang dapat dilakukan. Dr Dwi Priangga dari Bamed Women's Clinic mengatakan, untuk mengatasi sakit saat haid atau disminore, kamu harus tahu dulu apa penyebabnya karena ada dua jenis penyebab dari nyeri pada haid. "Ada dua penyebab, yaitu disminore primer dan disminore sekunder. Kalau disminore primer terjadi tanpa ada kelainan pada organ reproduksi sementara dismenore sekunder terjadi karena ada kelainan dalam organ reproduksi seperti contohnya karena endometriosis," kata pria yang kerap di sapa dokter Angga ini kepada media beberapa waktu lalu.

Angga menambahkan, bila seseorang sudah mengetahui jenis disminorenya, pasien harus melewati melakukan pemeriksaan menyeluruh, sehingga dokter bisa menentukan terapi yang cocok. Pada dismenore primer karena penyebab umumnya adalah masalah hormon maka pemberian obat hormonal atau analgesik bisa diberikan untuk mengurangi rasa sakit.

Sementara itu untuk masalah dismenore sekunder maka operasi adalah salah satu solusi untuk mengangkat kelainan pada organ reproduksi penyebab nyeri. "Kalau untuk disminore yang primer beberapa menyarankan diet atau olahraga teratur tapi ini belum konklusif. Yang paling jelas (bermanfaat) adalah pemberian obat NSAID atau analgetik tadi," katanya.

"Tipsnya adalah jangan baru minum obat saat nyerinya muncul. Kalau sudah muncul keluhan disminore berarti sudah terlanjur muncul atau timbul diproduksi prostaglandin. Dengan diberi obat sehari atau dua hari sebelum menstruasi bisa mencegah munculnya prostaglandin sehingga si perempuan itu tidak nyeri sama sekali," lanjut dr Angga.

Loading...

Sementara itu, untuk kasus disminore sekunder maka tergantung dari tingkat keparahannya. Dokter mungkin akan menyarankan tindakan operasi. Alasannya karena terkadang gangguan seperti kista, endometriosis, atau tumor tak cukup diatasi dengan obat hormon. "Kalau untuk endometriosis mungkin membutuhkan tindakan yang lebih kolaboratif," tutup dr Angga.