Brilio.net - Tak sampai dua pekan, Gerhana Matahari Total (GMT) akan bisa disaksikan dari beberapa tempat di Indonesia antara lain Palembang, Belitung, Balikpapan, Luwuk, Sampit, Palu, Ternate, Bangka, Palangkaraya, Poso, Halmahera. BACA JUGA: Perhatikan! 3 cara ini paling aman saksikan gerhana matahari total

Panorama indah sebelum dan sesudah fase tertutup sempurna tak kalah indah dan jangan sampai terlewatkan. BACA JUGA: Deretan panorama ini cuma bisa dinikmati saat gerhana matahari total

Di antara kamu mungkin masih ada yang bertanya-tanya apakah aman melihat langsung ke arah matahari tanpa pelindung ketika gerhana matahari berlangsung. Mengenai hal ini Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) berpendapat. Melalui akun Facebook pribadinya, Thomas Djamaluddin menyatakan bahwa hal tersebut tidak berbahaya dengan syarat 'berhati-hati' dan 'tidak berlama-lama'.

 

ANDA MUNGKIN MENYUKAI INI

Berbahayakah melihat langsung gerhana matahari? Tidak berbahaya asal BERHATI-HATI dan JANGAN LAMA-LAMA. Melihat gerhana...

Posted by Thomas Djamaluddin on Friday, February 26, 2016

"Melihat gerhana matahari sama dengan melihat matahari. Tidak ada radiasi berbahaya dari gerhana matahari, karena sesungguhnya radiasi saat gerhana sama dengan radiasi matahari sehari-hari. Tubuh manusia mempunyai mekanisme perlindungan mata dari cahaya matahari yang sangat kuat dengan pupil mata mengecil dan kelopak mata refleks menutup. Sehingga melihat gerhana secara sekilas (beberapa detik) tidak akan membutakan.

Jangan paksakan melihat bila secara refleks kelopak mata menutup. Ketika gerhana mencapai fase total (matahari tertutup sepenuhnya oleh bulan), kita bisa melihat langsung secara aman dan nyaman ke arah matahari yang menampakkan cahaya lembut korona matahari. Hal yang harus diingat, "BERHATI-HATI dan JANGAN LAMA-LAMA" tetap berlaku," terang alumnus Doctor of Science Astronomy, Kyoto University Jepang ini.

Ketika fase total, keadaan gelap, pupil mata membesar. Ketika fase ini mulai berakhir, cahaya perlahan mulai tampak lagi, kelopak mata secara refleks akan menutup, namun kondisi ini berbahaya karena cahaya matahari ini terlalu kuat. Cahaya yang kuat ini jika diterima retina ketika pupil mata masih membesar maka memberikan dampak buta sementara bahkan buta permanen.

Untuk menciptakan kondisi yang lebih aman, kamu disarankan menggunakan kacamata gerhana yang dilengkapi filter Neutral Density 5 (ND5) yang mana bisa meredam cahaya matahari sampai 100.000 kali. Jika tidak kebagian, Thomas memberikan alternatif antara lain kaca mata gelap, bekas disket, atau film gelap, tetapi tetap 'jangan lama-lama'.

Diakui Thomas, pesan ini disampaikan agar masyarakat tidak terjebak pada dua ekstrem. Ekstrem pertama, menganggap secara pukul rata bahwa melihat gerhana berbahaya. Akibatnya masyarakat dilarang ke luar rumah saat GMT seperti kejadian 11 Juni 1983. Ekstrem kedua, masyarakat menganggap melihat gerhana harus dengan kacamata gerhana. Akibatnya, ada potensi berebut kacamata gerhana atau kembali bersembunyi di rumah bila tidak mendapatkannya.

"Gerhana matahari untuk kita nikmati, sambil merenungi bukti kekuasaan Allah. Jangan ada lagi mitos seolah gerhana matahari itu membahayakan," tutupnya.

(brl/swh)